July 22, 2026 | General

Jama'ah Mutholaah Kitab Merumuskan Metode Cepat Praktik Baca Kitab Kuning

Oleh M Salman Azhar · Diperbarui 23 Jul 2026
Jama'ah Mutholaah Kitab Merumuskan Metode Cepat Praktik Baca Kitab Kuning

Mengatasi Paradoks: Santri Banyak Belajar Nahwu, Tapi Kitab Tidak Lancar

Salah satu fenomena yang sering dihadapi pengajar di pondok pesantren mulazamah adalah santri yang sudah menguasai teori nahwu (ilmu tata bahasa Arab) dengan baik, namun ketika dihadapkan pada naskah kitab kuning asli, mereka justru tersendat-sendat. Kekhawatiran inilah yang mendorong Jama'ah Mutholaah Kitab — komunitas para ustadz alumni Sudan yang tersebar mengajar di berbagai pondok mulazamah Jawa Tengah — untuk berkumpul dan mencari solusi bersama.

Setiap bulan, jama'ah muthola'ah kitab mengadakan kegiatan kajian khataman kitab, biasanya berlangsung pada hari Kamis siang hingga Jumat pagi. Pertemuan kali ini, 23 Juli 2026, berlokasi di Pondok Pesantren Al Maka Getasan.

Diagnosa: Tiga Hambatan dalam Membaca Kitab

Menurut testimoni ustadz-ustadz peserta, setidaknya ada tiga hambatan yang memperlambat kesanggupan santri membaca kitab:

  1. Asumsi bahwa harus khatam kitab nahwu besar dulu — berfikir bahwa penguasaan teori yang sempurna adalah prasyarat mutlak sebelum praktek membuka kitab (fathul kutub).

  2. Keberanian berbicara tidak diimbangi keberanian membaca — santri lancar mengucapkan kalimat Arab (meski sering salah) di dalam lingkungan pesantren yang didesain agar memiliki lingkungan bi'ah lughowiyah, namun tidak memiliki mental membaca naskah ketika diminta membaca langsung.

  3. Skill teori nahwu tidak otomatis menjadi skill membaca — mengetahui i'rob (analisis tata bahasa) tidak sama dengan kemampuan membaca kitab dengan lancar dan pemahaman.

Merumuskan Metode: Simplifikasi, Praktek, dan Lingkungan

Setelah diskusi intensif yang dipandu oleh Ust Setyo Nugroho (pembina majlis), Ust Aidil Akbar (pengajar ilmu alat Ponpes Darusy Syahadah), dan Ust Ridhwan Syarif (Mudir Ma'had 'Aly Baitul Hikmah) yang pernah menulis tesis tentang pengajaran bahasa Arab untuk orang non Arab, hadir pula ustadz-ustadz dari Ponpes Darusy Syahadah, Ponpes Al Mukmin Ngruki, dan Minhajul Qur'an Wonosobo, majlis akan menetapkan dan merumuskan resolusi:

Prinsip Pertama: Simplifikasi Rumus Nahwu

Tidak perlu menunggu santri menguasai seluruh kitab nahwu besar secara mendalam. Ambil rumus-rumus inti nahwu yang paling sering muncul dalam naskah, ambil intisari Matan Ajurrumiyah lalu parafrase menjadi lebih ringkas dan mudah diingat, setelah itu segera aplikasikan ke teks nyata.

Prinsip Kedua: Bangun Mental Santri dengan Praktik Membaca Naskah Sesuai Level

Pilih kitab atau naskah yang sesuai dengan kemampuan santri — bukan kitab yang terlalu sulit, tapi juga tidak terlalu sederhana sehingga tidak ada tantangan. Praktik membaca (sorogan) dilakukan berulang kali sampai santri terbangun mentalnya (confident ) dan terbiasa dengan pola bahasa kitab dan lafal.

Prinsip Ketiga: Pembiasaan Lingkungan Berbahasa

Skill membaca kitab berbeda dari skill berbicara atau menghafal i'rob; namun keduanya saling menunjang. Lingkungan berbahasa Arab yang konsisten membantu telinga santri terbiasa dengan ritme dan struktur bahasa, sehingga ketika membaca kitab, kata-kata tidak terasa asing.

Makna Sebenarnya: Membaca Kitab adalah Seni Membuka Cakrawala Ilmu

Diskusi majlis kali ini mengungkap kebenaran penting: membaca kitab kuning bukan hanya soal menghafal tata bahasa, melainkan seni yang dibangun dari penguasaan teori, kebiasaan mendengar, dan latihan berulang. Santri yang berani berbicara salah-benar, tapi takut membaca kitab, sebenarnya perlu dibebaskan dari perfeksionisme teori — cukup pahami rumus dasarnya, lalu langsung turun ke lapangan membaca naskah asli.

Inisiatif Jama'ah Mutholaah Kitab ini mencerminkan komitmen para asatidz alumni Sudan untuk terus memperbaiki metode pengajaran, berbagi pengalaman, dan memastikan bahwa santri tidak hanya mengumpulkan ilmu, melainkan benar-benar menguasai alat untuk mengambil ilmu dari sumbernya — kitab klasik dengan sanad yang jelas.

Dengan pendekatan ini, diharapkan dalam waktu singkat santri dapat membaca kitab dengan lebih percaya diri dan lancar, sambil tetap menjaga kedalaman pemahamannya dengan terus melakukan upgrading mengkaji tangga Ilmu Nahwu di Pondok Pesantren masing-masing.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait