Pesantren Bukan Penatu: Mengapa Al-Maka Menolak Mengambil Alih Peran Orang Tua

Seringkali, kami di Pondok Pesantren Mulazamah Al-Maka menemui sebuah fenomena yang cukup mengkhawatirkan. Ada orang tua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan perasaan lega yang berlebihan, seolah-olah seluruh beban tanggung jawab mendidik sudah berpindah tangan sepenuhnya.

Membangun lembaga pendidikan untuk membantu orang tua memang sebuah amal shalih. Namun, ada batas tipis yang harus kita jaga. Jika lembaga pendidikan membiarkan orang tua “keenakan” menitipkan anak hingga melalaikan fitrah keayahbundaannya, kita sebenarnya sedang menanam bom waktu bagi kebahagiaan keluarga tersebut.

Bahaya Melalaikan Fitrah Keayahbundaan

Satu hal yang jarang disadari: melalaikan peran mendidik anak dalam jangka panjang akan merusak tatanan internal rumah tangga. Hubungan suami-istri yang kehilangan titik fokus pada pendidikan anak seringkali menjadi hambar. Keharmonisan memudar, komunikasi mendingin, bahkan kerentanan terhadap pihak ketiga (perselingkuhan) menjadi lebih tinggi karena hilangnya kebermaknaan peran sebagai pemimpin dan pendidik di rumah.

Analogi Nafkah: Pelajaran bagi Suami dan Istri

Mari kita bercermin pada sebuah analogi sederhana. Bayangkan seorang istri yang dengan niat baik mengambil alih seluruh kewajiban nafkah suaminya dalam waktu yang lama. Memang terlihat seperti amal sholeh yang meringankan beban suami di awal.

Namun, dampaknya bisa fatal. Sang suami berisiko kehilangan fitrah qowamah-nya (kepemimpinan). Ia mungkin akan mencari cara lain untuk menunjukkan egonya—entah dengan berlaku kasar atau bahkan pengkhianatan—hanya karena ia merasa tidak lagi dibutuhkan dalam peran aslinya. Sang istri pun, tanpa sadar, akan kehilangan respek sejak hari pertama ia mengambil alih beban suaminya. Begitu pula dalam pendidikan; ketika pesantren mengambil alih peran orang tua sepenuhnya, keseimbangan fitrah itu akan rusak.

Al-Maka Tidak Ingin Jumawa

Di Al-Maka Getasan, kami berusaha untuk tidak jumawa. Kami sadar bahwa kami tidak mungkin memikul seluruh amanah fitrah anak yang sebenarnya Allah titipkan pada kedua orang tuanya. Jika kami memaksakan diri mengambil alih segalanya, lembaga ini akan mengalami kerepotan luar biasa di masa depan karena memikul beban yang bukan “porsinya”.

Prinsip kami jelas: Lembaga pendidikan bisa membantu dalam pengajaran (transfer ilmu), namun pendidikan karakter dan fitrah sejati tetap berada di tangan orang tua.

Mengembalikan Karunia yang Terabaikan

Jangan pernah membiarkan karunia fitrah yang Allah berikan kepada Anda sebagai ayah dan ibu diserahkan begitu saja kepada pihak manapun. Setiap karunia yang Allah berikan—termasuk repotnya mendidik anak—adalah jalan menuju kebahagiaan dan kebermaknaan hidup Anda sendiri.

Menyia-nyiakan peran ini bukan berarti Anda akan hidup nyaman dan terbebas dari tanggung jawab. Sebaliknya, Anda justru akan kehilangan kebahagiaan hakiki.

Oleh karena itu, di Pondok Pesantren Mulazamah Al-Maka, kami tidak memposisikan diri sebagai “tempat penitipan” atau “penatu” yang menerima pakaian kotor lalu mengembalikannya dalam keadaan bersih dan rapi. Kami adalah partner. Kami membantu mengajar, namun kitalah—bersama-sama—yang mendidik. Mari kita jemput kembali kebermaknaan hidup dengan tetap menjadi orang tua yang hadir secara utuh bagi fitrah anak-anak kita.

Bagikan :