Ekstrakurikuler
Di luar halaqoh dan kelas kitab, santri Al Maka punya kegiatan yang tidak diukur dengan hafalan.
Membaca satu buku sampai tuntas lalu mempresentasikannya, naik gunung, baris-berbaris, bermain bola, berenang, dan bermain drama.
Lima kegiatan yang berjalan: Maos Bareng, Sapala, mini soccer dan futsal, renang, serta drama.
Satu buku dibaca sampai habis, lalu diceritakan di depan forum
Yang dilatih di sini bukan kecepatan membaca, melainkan keberanian dan kemampuan menyampaikan kembali apa yang sudah dibaca.
-
Dibaca sampai tuntas
Tiap santri wajib menyelesaikan satu buku — bukan membaca sebagian lalu berpindah ke buku lain.
-
Dibuat ringkasannya
Isi buku ditulis ulang menjadi ringkasan. Di tahap ini ketahuan mana yang sudah dipahami dan mana yang baru sekadar terbaca.
-
Dipresentasikan bergiliran
Ringkasan itu dibawakan di forum. Gilirannya merata, jadi tidak ada santri yang bisa bersembunyi di belakang temannya.
Public speaking dan retorika
Berdiri di depan teman-temannya, menyusun urutan bicara, dan menjawab ketika ditanya — latihan yang tidak bisa digantikan oleh tugas tertulis.
Kemampuan itu terpakai jauh setelah bukunya ditutup: saat santri memimpin, mengajar, atau harus menjelaskan pendapatnya kepada orang banyak.
Naik gunung, cross country, dan baris-berbaris
Kegiatan luar ruang yang menuntut hal yang jarang diminta di dalam kelas: menahan lelah, menjaga rombongan, dan menyelesaikan yang sudah dimulai.
Sindoro, Prau, Gunung Gajah
Pendakian dikerjakan bersama ustadz — dari briefing sebelum berangkat sampai turun kembali.
Menyusuri desa Getasan
Menempuh jalur desa di sekitar pondok, tetap ditemani ustadz sepanjang rutenya.
Baris-berbaris
Latihan aba-aba, ketepatan, dan gerak yang seragam dalam satu barisan.
Yang dibawa pulang dari kegiatan ini biasanya bukan foto puncaknya, melainkan pengalaman pernah kelelahan di tengah jalan dan tetap meneruskan.
Mini soccer dan futsal
Badan yang sehat termasuk yang dituju pondok — berbadan sehat adalah motto kedua, bukan bonus.
Belajar renang, dilatih langsung Ustadz Salman
Tempatnya Pemandian Air Alami Muncul di Banyubiru, Kabupaten Semarang — airnya air alami, tanpa kaporit. Berangkatnya hari Jumat, sebulan sekali, dan bisa lebih.
Ustadz Salman sendiri yang turun ke kolam. Bukan mengawasi dari tepi, tetapi ikut berdiri di air bersama santrinya.
Jalan kaki 5 km dulu
Dari pondok ke kolam santri berjalan kaki sekitar 5 km, baru berenang. Pulangnya naik elf kembali ke pondok.
Lima kali bolak-balik
Santri yang sudah bisa berenang wajib lima kali bolak-balik. Sekali seberang sekitar 25 meter.
Dilatih sampai bisa
Dimulai dari tepi kolam: berpegangan, gerakan kaki diulang, baru melepas pegangan. Arahan dan contoh gerakan diberikan dulu sebelum mencoba.
Renang tidak bisa dipelajari dari penjelasan saja. Seperti hafalan, ia datang dari latihan yang diulang sampai badan hafal sendiri.
Berani tampil sebagai orang lain
Satu lagi ruang latihan tampil di depan orang banyak, kali ini lewat peran dan dialog.
Ikuti kegiatan santri
Foto dan kabar kegiatan santri dibagikan di Instagram dan Facebook pondok.
Di luar jam pelajaran, tetapi tidak di luar pendidikannya
Kegiatan ini tidak menambah hafalan dan tidak masuk penilaian kitab. Yang dikerjakannya hal lain: keberanian berbicara, ketahanan badan, dan kebiasaan menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Ketiganya sulit diajarkan lewat pelajaran, tetapi terlihat jelas saat santri membaca kitab di depan gurunya atau menyetorkan hafalannya.
Ini satu bagian dari satu sistem
Bagaimana kepengasuhan, tahfidz, dan kelas kitab menyusun satu rantai yang bermuara pada tazkiyatun nafs — dan di mana kegiatan seperti ini berdiri — diringkas dalam satu halaman.
Pendidikan Holistik Berbasis Fitrah Penerimaan Santri Baru