Seorang anak mulai sering telat. Awalnya lima menit, lalu lima belas menit, lalu gak datang sama sekali ke kegiatan pagi.
Reaksi paling cepat biasanya: tegur, beri sanksi, catat. Selesai.
Reaksi itu gak salah. Aturan memang harus ditegakkan. Tapi kalau berhenti di situ, kita baru menjawab satu pertanyaan: apa yang dia lakukan. Kita belum menyentuh pertanyaan yang jauh lebih penting: kenapa dia melakukannya.
Perilaku itu gejala, bukan penyakit
Dunia kedokteran sudah lama paham satu prinsip sederhana: demam bukan penyakit, demam adalah tanda. Dokter yang cuma memberi obat penurun panas tanpa mencari sumber infeksinya sedang menunda masalah, bukan menyelesaikannya.
Perilaku anak juga begitu. Telat bisa berarti malas. Tapi bisa juga berarti dia tidur terlalu larut karena gak bisa tidur. Gak bisa tidur bisa berarti banyak pikiran. Banyak pikiran bisa berarti ada masalah di rumah yang gak pernah dia ceritakan ke siapa pun.
Kalau yang kita obati hanya telatnya, masalah di rumah itu tetap ada. Dan ia akan muncul lagi dalam bentuk lain: nilai turun, mudah marah, menarik diri dari teman.
Allah memperbaiki cara berpikir sebelum perilaku
Ada pola menarik dalam cara Al-Qur'an mendidik manusia. Seringkali, sebelum memerintah atau melarang sesuatu, Al-Qur'an terlebih dahulu membongkar cara berpikir yang melahirkan perilaku itu.
Larangan khamr, misalnya, turun bertahap. Sebelum pengharaman tegas, Al-Qur'an lebih dulu mengajak manusia menimbang manfaat dan mudaratnya.
۞ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡخَمۡرِ وَٱلۡمَيۡسِرِۖ قُلۡ فِيهِمَآ إِثۡمٞ كَبِيرٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثۡمُهُمَآ أَكۡبَرُ مِن نَّفۡعِهِمَاۗ وَيَسۡـَٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَۖ قُلِ ٱلۡعَفۡوَۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَتَفَكَّرُونَ ٢١٩
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, "Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya." Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, "Kelebihan (dari apa yang diperlukan)." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan.
Yang disentuh lebih dulu adalah cara manusia menilai. Setelah cara menilainya berubah, perubahan perilaku menjadi jauh lebih kokoh.
Ini pelajaran besar bagi pendidik. Mengubah perilaku tanpa menyentuh cara berpikir hanya menghasilkan kepatuhan saat diawasi.
Empat akar yang sering tersembunyi
Dari pengalaman mendampingi santri, ada beberapa akar yang sering bersembunyi di balik perilaku yang menyulitkan.
Yang pertama, kelelahan. Anak yang kelelahan fisik atau mental akan tampak malas, padahal ia sedang kehabisan tenaga.
Yang kedua, motivasi yang habis. Anak yang lupa kenapa ia belajar akan kehilangan alasan untuk bersungguh-sungguh. Ia butuh diingatkan tujuannya, bukan hanya ditambah hukumannya.
Yang ketiga, metode yang belum cocok. Ada anak yang kesulitan menghafal bukan karena malas, tapi karena belum menemukan cara yang sesuai dengannya.
Yang keempat, perkara di luar. Masalah keluarga, masalah pertemanan, atau kegelisahan yang ia sendiri belum bisa namai.
Keempatnya punya gejala yang mirip dari luar. Tapi penanganannya sangat berbeda.
Mencari akar bukan berarti membiarkan
Di sini perlu ditegaskan satu hal, supaya gak disalahpahami.
Mencari akar masalah bukan berarti anak dibiarkan. Aturan tetap ditegakkan. Konsekuensi tetap berlaku. Anak yang telat tetap harus bertanggung jawab atas keterlambatannya.
Bedanya ada di urutan dan tujuan. Sanksi tanpa pemahaman hanya berkata, "Jangan ulangi." Sanksi yang disertai pemahaman berkata, "Ana tahu kamu sedang berat. Aturan tetap berlaku. Dan mari kita cari jalan supaya kamu gak terus jatuh di lubang yang sama."
Yang pertama melahirkan anak yang pandai menghindari ketahuan. Yang kedua melahirkan anak yang belajar memperbaiki diri.
Label yang kita pakai ikut mendidik
Ada hal kecil yang sering luput: kata-kata yang kita pakai untuk menyebut anak.
"Anak nakal." "Anak malas." "Anak susah diatur." Label seperti ini praktis, tapi berbahaya. Begitu sebuah label menempel, kita berhenti mencari tahu. Semua perilaku anak dibaca lewat label itu. Kalau ia diam, dianggap membangkang. Kalau ia bertanya, dianggap membantah.
Yang lebih berbahaya lagi, anak ikut mempercayainya. Anak yang terus-menerus disebut malas pelan-pelan menyimpulkan, "Ya sudah, memang Ana begini." Label yang tadinya deskripsi berubah menjadi identitas.
Coba ganti kalimatnya. Bukan "anak ini malas", tapi "anak ini sedang kesulitan bangun pagi". Kalimat kedua memisahkan anak dari perilakunya. Dan begitu dipisahkan, perilaku itu bisa diperbaiki tanpa menghancurkan harga diri anaknya.
Kenapa satu orang gak cukup
Mencari akar masalah butuh informasi dari banyak sisi. Guru kelas melihat anak saat belajar. Pembimbing hafalan melihatnya saat menyetor. Pengasuh kamar melihatnya saat malam hari, saat ia paling jujur dengan dirinya.
Kalau hanya satu sudut pandang yang dipakai, kesimpulannya mudah keliru. Anak yang tampak malas di kelas bisa jadi adalah anak yang paling rajin membantu temannya di kamar.
Karena itu, di pondok kami, tiga peran ini dipertemukan dulu sebelum seorang santri dinilai. Bukan karena kami merasa sudah sempurna menjalankannya. Pendekatan ini masih terus kami rapikan. Tapi arahnya jelas: melihat anak secara utuh sebelum menjatuhkan penilaian.
Untuk orang tua di rumah
Prinsip ini berlaku juga di rumah. Saat anak mulai berubah perilakunya, coba tahan dulu reaksi pertama.
Sebelum bertanya "kenapa kamu begitu lagi?", tanyakan hal yang lebih ringan. "Akhir-akhir ini kamu kelihatan capek. Ada yang lagi dipikirin?" Pertanyaan seperti ini membuka pintu. Pertanyaan yang menuduh menutupnya.
Dan kalau anak belum mau cerita, gak apa-apa. Yang penting ia tahu pintunya terbuka.
Penutup
Perilaku anak yang menyulitkan itu ibarat lampu peringatan di dasbor mobil. Kita bisa menutupinya dengan selotip supaya gak mengganggu. Atau kita bisa membuka kap mesin dan mencari tahu apa yang sebenarnya rusak.
Yang pertama lebih cepat. Yang kedua lebih mendidik.
Pertanyaannya, selama ini kita lebih sering yang mana?