Ada satu kalimat dalam Al-Qur'an yang selalu membuat Ana berhenti setiap kali membacanya.
Kalimat itu diucapkan seorang ayah kepada anaknya, di saat yang paling berat yang bisa dibayangkan. Dan isinya bukan perintah. Isinya pertanyaan.
"Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu."
Konteks yang hampir gak tertanggungkan
Mari kita lihat ayatnya utuh.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢
Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."
Mimpi seorang nabi adalah wahyu. Artinya, perintah ini sudah pasti. Nabi Ibrahim gak sedang meminta izin untuk menjalankan perintah Allah. Ketaatannya sudah bulat.
Lalu kenapa ia bertanya?
Di sinilah ayat ini membongkar satu asumsi yang sangat umum dalam pengasuhan: bahwa kalau sesuatu sudah benar dan wajib, anak cukup diberi tahu dan disuruh. Gak perlu diajak bicara.
Bertanya bukan karena ragu
Nabi Ibrahim gak bertanya karena ragu terhadap perintah Allah. Ia bertanya karena ingin anaknya ikut menjadi pelaku ketaatan, bukan sekadar objeknya.
Ada perbedaan besar antara anak yang disembelih karena ayahnya taat, dan anak yang menyerahkan dirinya karena ia sendiri taat.
Yang pertama, anak menjadi korban dari keputusan orang lain. Yang kedua, anak menjadi pemilik keputusannya sendiri. Pahala, kemuliaan, dan kesabaran itu menjadi miliknya juga.
Dengan satu pertanyaan, Nabi Ibrahim mengubah Ismail dari penerima perintah menjadi mitra dalam ketaatan.
Dialog yang dibangun jauh sebelumnya
Perhatikan juga bagian awal ayatnya: ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya.
Frasa "berusaha bersamanya" ini penting. Ia menunjukkan bahwa sebelum peristiwa besar ini, sudah ada masa ketika ayah dan anak bekerja bersama, berjalan bersama, berusaha bersama.
Percakapan sebesar ini gak mungkin terjadi tanpa hubungan yang sudah terbangun sebelumnya. Anak gak akan menjawab dengan tenang "lakukanlah, wahai ayahku" kepada ayah yang jarang ia ajak bicara.
Ini pelajaran yang sangat praktis. Kita sering baru mengajak anak berdialog ketika ada masalah besar. Lalu kita heran kenapa dialognya gak jalan. Padahal dialog itu otot. Ia harus dilatih di hari-hari biasa, supaya kuat di hari yang berat.
Jawaban anak yang menunjukkan hasil pendidikan
Sekarang perhatikan jawaban Ismail.
Ia gak berkata, "Iya, Yah, silakan." Ia berkata, "Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu." Ismail memahami bahwa ini bukan keinginan ayahnya, tapi perintah Allah. Ia melihat melampaui sosok ayahnya, langsung kepada sumber perintah.
Lalu ia menambahkan, "insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." Ia gak mengklaim dirinya pasti sabar. Ia menyandarkan kesabarannya kepada kehendak Allah.
Jawaban ini adalah cermin pendidikan yang diterimanya. Tauhid yang kuat, pemahaman yang jernih, dan kerendahan hati yang tulus. Semua itu gak mungkin tumbuh dalam semalam.
Kenapa kita jarang bertanya?
Kalau Nabi Ibrahim, dengan perintah yang sudah pasti, masih bertanya kepada anaknya, lalu kenapa kita begitu jarang bertanya kepada anak-anak kita?
Mungkin karena kita takut jawabannya gak sesuai harapan. Mungkin karena bertanya terasa merendahkan wibawa orang tua. Mungkin karena kita terburu-buru.
Tapi coba lihat konsekuensinya. Anak yang gak pernah diajak berpikir akan tumbuh menjadi salah satu dari dua kemungkinan. Menjadi penurut yang gak tahu alasan, sehingga mudah diarahkan siapa saja. Atau menjadi pemberontak yang menolak semua hal hanya karena ingin menunjukkan bahwa ia punya pendapat.
Anak yang terbiasa diajak berpikir punya kemungkinan ketiga: taat karena paham.
Bertanya tanpa kehilangan arah
Tentu, bertanya kepada anak gak berarti semua keputusan diserahkan kepadanya. Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah Allah. Yang ia buka bukan ruang untuk menawar perintah, tapi ruang untuk anaknya memahami dan menerima dengan sadar.
Di rumah, prinsip ini bisa diterapkan dalam hal-hal sederhana. Shalat tetap wajib, tapi anak bisa diajak bicara tentang bagaimana menjaga shalatnya di tengah jadwal yang padat. Memilih pondok tetap keputusan orang tua, tapi anak bisa diajak melihat, bertanya, dan menyampaikan kekhawatirannya.
Anak yang dilibatkan dalam proses akan lebih kuat bertahan di dalamnya.
Remaja butuh diajak bicara, bukan hanya diberi tahu
Ada satu detail usia dalam ayat ini yang layak diperhatikan. Percakapan itu terjadi ketika Ismail sudah sanggup berusaha bersama ayahnya. Bukan ketika ia masih balita.
Anak kecil memang lebih banyak butuh arahan yang jelas. Tapi begitu anak memasuki usia remaja, cara berkomunikasi perlu bergeser. Remaja mulai punya pikiran sendiri, mulai mempertanyakan, mulai ingin dianggap.
Kalau di usia ini orang tua masih memakai bahasa perintah semata, remaja cenderung menutup diri atau melawan. Kalau orang tua mulai memberi ruang untuk bertanya dan berpendapat, remaja merasa dihargai, dan justru lebih mudah menerima arahan.
Di titik ini, pertanyaan "bagaimana pendapatmu?" bukan lagi kemewahan. Ia menjadi kebutuhan.
Akhir kisah: ketaatan yang dibalas
Kisah ini berakhir dengan pertolongan Allah. Ismail diganti dengan sembelihan yang besar, dan Nabi Ibrahim dipuji karena telah membenarkan mimpinya (QS. As-Saffat: 104-107).
Yang diuji bukan hanya ayahnya. Anaknya juga. Dan keduanya lulus bersama, justru karena keduanya masuk ke ujian itu dengan kesadaran masing-masing.
Penutup
Kalimat "pikirkanlah bagaimana pendapatmu" diucapkan di momen paling berat dalam sejarah hubungan ayah dan anak. Kalau di momen seberat itu saja masih ada ruang untuk bertanya, maka di hari-hari biasa kita, ruang itu seharusnya jauh lebih luas.
Kapan terakhir kali kita bertanya kepada anak, "Bagaimana pendapatmu?", dan benar-benar mendengarkan jawabannya?