Coba jujur sebentar. Apa yang paling sering kita minta kepada Allah untuk anak-anak kita?
Mungkin: semoga sehat. Semoga pintar. Semoga dapat sekolah yang bagus. Semoga kelak dapat pekerjaan yang mapan.
Semua itu doa yang baik. Gak ada yang salah dengan meminta kebaikan dunia untuk anak.
Tapi doa itu cermin. Apa yang paling sering kita minta menunjukkan apa yang paling kita anggap penting. Dan kalau cermin itu kita arahkan ke doa-doa kita, mungkin ada yang perlu kita periksa.
Al-Qur'an mengabadikan doa-doa Nabi Ibrahim untuk keturunannya dalam surat yang dinamai dengan namanya. Dan urutan permintaannya sangat menarik untuk dibandingkan dengan urutan permintaan kita.
Doa pertama: jauhkan dari menyembah berhala
Di surat Ibrahim, doa beliau untuk keturunannya diawali dengan permintaan agar dirinya dan anak cucunya dijauhkan dari menyembah berhala (QS. Ibrahim: 35).
Ini sangat mengejutkan kalau kita ingat siapa Nabi Ibrahim. Beliau adalah nabi yang menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Beliau yang dilempar ke dalam api karena menolak kemusyrikan.
Kalau ada satu orang di dunia yang paling "aman" dari menyembah berhala, bukankah itu beliau?
Tapi justru beliau yang paling khawatir. Beliau gak merasa aman. Beliau meminta kepada Allah agar dirinya dijauhkan, baru kemudian anak cucunya.
Ada pelajaran besar di sini. Orang yang paling paham bahaya sesuatu adalah orang yang paling takut terhadapnya. Dan orang tua yang merasa dirinya sudah aman sering kali adalah orang tua yang paling lengah.
Menempatkan anak di lembah yang tandus
Doa berikutnya lebih menarik lagi.
رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ ٣٧
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
Perhatikan susunan doanya.
Nabi Ibrahim menjelaskan dulu keputusannya: menempatkan keluarganya di lembah tandus. Secara ekonomi, ini keputusan yang gak masuk akal. Gak ada tanaman, gak ada air, gak ada pasar.
Lalu beliau menyebut alasannya: agar mereka melaksanakan salat. Tujuan pertama bukan kenyamanan, bukan kemakmuran. Tujuannya adalah ibadah.
Baru setelah itu beliau meminta rezeki: hati manusia yang cenderung kepada mereka, dan buah-buahan. Dan bahkan rezeki itu pun ditutup dengan tujuan: mudah-mudahan mereka bersyukur.
Urutannya jelas. Ibadah dulu, lalu rezeki, dan rezeki itu pun diminta supaya menjadi jalan syukur.
Doa yang dimulai dari diri sendiri
Lalu datang doa yang sangat dikenal.
رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ ٤٠
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Sekali lagi, perhatikan urutannya: aku dulu, baru anak cucuku.
Nabi Ibrahim gak berdoa "jadikanlah anak-anakku orang yang shalat" sambil menempatkan dirinya di luar doa itu. Beliau memasukkan dirinya lebih dulu.
Ini isyarat yang sangat halus. Kita gak bisa meminta sesuatu untuk anak yang gak kita minta untuk diri kita sendiri. Orang tua yang ingin anaknya menjaga shalat harus lebih dulu menjadi orang yang menjaga shalat.
Kalau kita bandingkan dengan doa kita
Sekarang mari kita letakkan doa-doa Nabi Ibrahim di samping doa-doa kita.
Doa beliau dimulai dari tauhid: jauhkan dari berhala. Doa kita sering dimulai dari kesehatan dan kecerdasan.
Doa beliau menjadikan shalat sebagai tujuan dari keputusan besar hidupnya. Keputusan besar kita, seperti memilih sekolah, tempat tinggal, atau pekerjaan, sering diambil dengan pertimbangan yang jarang menyebut shalat.
Doa beliau meminta rezeki supaya keturunannya bersyukur. Doa kita meminta rezeki supaya anak kita hidup nyaman.
Ana gak sedang mengatakan doa kita salah. Tapi perbandingan ini membantu kita melihat di mana sebenarnya kita meletakkan definisi sukses.
Berhala zaman sekarang
Mungkin ada yang berpikir: doa "jauhkan dari menyembah berhala" sudah gak relevan. Siapa hari ini yang menyembah patung?
Tapi berhala gak selalu berbentuk patung. Apa pun yang ditempatkan di posisi yang seharusnya hanya milik Allah bisa menjadi berhala. Harta yang dikejar sampai melalaikan shalat. Pengakuan manusia yang dicari sampai rela mengorbankan prinsip. Bahkan prestasi anak yang dijadikan ukuran harga diri orang tua.
Dengan cara pandang ini, doa Nabi Ibrahim justru terasa sangat relevan. Anak-anak kita tumbuh di zaman yang penuh dengan berhala baru yang tampak modern dan menarik.
Mengubah doa, mengubah arah
Doa bukan hanya permintaan. Doa juga membentuk orang yang berdoa.
Orang tua yang setiap hari berdoa "jadikanlah aku dan anakku orang yang menjaga shalat" pelan-pelan akan menata hidupnya ke arah itu. Ia akan memilih sekolah dengan mempertimbangkan shalat. Ia akan menjaga shalatnya sendiri karena malu kalau doanya gak sejalan dengan perbuatannya.
Jadi mengubah isi doa untuk anak sebenarnya adalah cara mengubah arah pendidikan kita sendiri.
Sesekali, bacalah doa ini bersama anak, dengan suara yang bisa ia dengar. Anak yang mendengar orang tuanya meminta kepada Allah agar keluarganya menjaga shalat akan menangkap pesan yang gak bisa disampaikan lewat perintah: bahwa shalat adalah hal yang paling orang tuanya harapkan untuknya.
Penutup
Kalau suatu hari anak kita membaca catatan doa-doa yang kita panjatkan untuknya selama bertahun-tahun, apa yang akan ia simpulkan tentang apa yang paling kita inginkan darinya?
Semoga ia menemukan bahwa di antara semua permintaan untuk kesehatan, kepintaran, dan rezeki, ada satu permintaan yang selalu kita letakkan paling depan: semoga ia menjadi hamba Allah yang menjaga shalatnya.