October 16, 2026 | General

Hati yang Sibuk Membandingkan: Tadabbur An-Nisa 32

Oleh M Salman Azhar
Hati yang Sibuk Membandingkan: Tadabbur An-Nisa 32

Ada kebiasaan yang begitu otomatis sampai kita gak menyadarinya: membandingkan.

Melihat rumah tetangga, lalu memandang rumah sendiri. Melihat anak teman yang juara, lalu memandang anak sendiri. Melihat unggahan liburan orang lain, lalu merasa hidup sendiri kurang berwarna.

Dulu, perbandingan ini terbatas pada lingkungan sekitar. Sekarang, lewat layar, kita bisa membandingkan diri dengan ratusan orang setiap hari. Dan hampir semuanya menampilkan sisi terbaik hidup mereka.

Larangan yang sangat halus

وَلَا تَتَمَنَّوۡاْ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبُواْۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبۡنَۚ وَسۡـَٔلُواْ ٱللَّهَ مِن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٣٢

QS. An-Nisaa: 32

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Kata yang dipakai dalam ayat ini adalah walā tatamannaw, janganlah kalian berangan-angan. Ini larangan yang sangat halus. Yang dilarang bukan hanya tindakan jahat terhadap orang lain, tapi angan-angan di dalam hati.

Angan-angan tentang apa? Tentang karunia yang Allah berikan kepada orang lain. Keinginan agar apa yang dimiliki orang lain berpindah kepada kita.

Kenapa angan-angan pun dilarang?

Mungkin kita bertanya, kenapa hal yang hanya di dalam hati pun dilarang? Bukankah itu belum merugikan siapa-siapa?

Justru di situlah letak kedalamannya. Al-Qur'an sedang memperbaiki akar, bukan hanya buahnya.

Iri hati yang dibiarkan tumbuh akan melahirkan banyak hal buruk. Ghibah untuk menjatuhkan orang yang diiri. Kebahagiaan ketika orang itu tertimpa musibah. Ketidakpuasan terus-menerus terhadap hidup sendiri. Bahkan buruk sangka kepada Allah, seakan-akan Allah gak adil membagi karunia.

Semua itu berawal dari satu hal kecil: membandingkan, lalu berangan-angan.

Setiap orang punya bagiannya

Perhatikan kelanjutan ayatnya. Setelah melarang berangan-angan, Allah menegaskan bahwa setiap orang mendapat bagian dari apa yang ia usahakan.

Ini menggeser fokus secara halus. Dari melihat apa yang orang lain punya, ke melihat apa yang bisa kita usahakan sendiri.

Orang yang sibuk membandingkan menghabiskan energinya untuk memandang ke samping. Orang yang fokus pada usahanya menghabiskan energinya untuk melangkah ke depan.

Yang pertama lelah tanpa hasil. Yang kedua mungkin juga lelah, tapi lelahnya menghasilkan sesuatu.

Mintalah kepada Allah

Lalu datang solusinya: mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.

Ini jalan keluar yang sangat indah. Kalau kita menginginkan sesuatu, jangan menginginkan milik orang lain. Mintalah langsung kepada Sumber semua karunia.

Karunia Allah gak terbatas. Apa yang Allah berikan kepada orang lain gak mengurangi apa yang bisa Allah berikan kepada kita. Rezeki bukan kue dengan potongan terbatas, di mana satu orang mendapat lebih berarti yang lain mendapat kurang.

Dengan cara pandang ini, keberhasilan orang lain gak lagi menjadi ancaman. Ia justru bisa menjadi pengingat: Allah Maha Pemberi, dan aku pun bisa meminta kepada-Nya.

Allah Maha Mengetahui

Ayat ini ditutup dengan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Penutup ini sangat relevan. Kita sering iri karena hanya melihat sebagian gambar. Kita melihat karunia yang diterima orang lain, tapi gak melihat ujian yang menyertainya. Kita melihat hasilnya, tapi gak melihat harga yang dibayarnya.

Allah melihat seluruh gambarnya. Ia tahu apa yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Ada orang yang diberi harta karena itulah ujiannya. Ada yang diberi kesempitan karena itulah jalan kebaikannya.

Kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui membuat kita lebih mudah menerima pembagian-Nya.

Coba ingat lagi unggahan yang pernah membuat kita iri. Foto rumah yang indah, liburan yang menyenangkan, anak yang juara. Kita gak pernah melihat cicilan di balik rumah itu, pertengkaran sebelum liburan itu, atau tangis anak itu di malam sebelum lomba. Yang kita bandingkan bukan hidup mereka, tapi potongan terbaik dari hidup mereka dengan keseluruhan hidup kita.

Anak-anak dan perbandingan

Kebiasaan membandingkan juga mulai tertanam sejak kecil. Dan sering kali, orang tualah yang menanamkannya tanpa sadar.

"Lihat, temanmu sudah hafal lima juz." "Kakakmu dulu gak begitu." Kalimat-kalimat ini mengajarkan anak bahwa nilai dirinya ditentukan oleh posisinya dibanding orang lain.

Anak yang tumbuh dengan cara ini akan terus membandingkan sepanjang hidupnya. Ia akan sulit bahagia, karena selalu ada orang yang lebih dari dirinya.

Lebih baik ajarkan anak untuk fokus pada pertumbuhannya sendiri. Bandingkan ia dengan dirinya yang kemarin. Dan ajarkan ia untuk ikut senang ketika temannya berhasil.

Orang tua juga perlu memeriksa diri. Kadang kita membandingkan anak bukan karena ingin ia tumbuh, tapi karena kita sendiri gak nyaman melihat anak orang lain lebih unggul. Iri itu milik kita, lalu tanpa sadar kita tularkan kepada anak. Anak yang sibuk mengejar standar yang sebenarnya lahir dari kecemasan orang tuanya akan kelelahan mengejar sesuatu yang bukan miliknya.

Ikut berbahagia sebagai obat

Salah satu obat terkuat untuk hati yang suka membandingkan adalah melatih diri untuk ikut berbahagia atas kebaikan yang diterima orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa gak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika melihat orang lain mendapat nikmat, coba latih diri untuk mendoakan keberkahan baginya. Awalnya mungkin terasa berat. Tapi pelan-pelan, hati akan terbiasa, dan perbandingan yang tadinya melahirkan iri berubah menjadi doa.

Penutup

Penggaris orang lain gak akan pernah cocok untuk mengukur hidup kita. Karena Allah menulis kisah setiap hamba-Nya dengan cara yang berbeda.

Jadi lain kali ketika hati mulai sibuk membandingkan, coba ganti pertanyaannya. Bukan "kenapa dia punya dan aku gak?", tapi "apa yang bisa aku usahakan hari ini, dan apa yang ingin aku minta kepada Allah?"

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait