October 19, 2026 | General

Iqra' Bismi Rabbik: Membaca yang Punya Arah

Oleh M Salman Azhar
Iqra' Bismi Rabbik: Membaca yang Punya Arah

Hampir semua orang tahu bahwa wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah ﷺ adalah perintah membaca. Iqra'.

Fakta ini sering dikutip untuk menunjukkan betapa Islam menghargai ilmu. Dan itu benar.

Tapi kalau kita berhenti di kata iqra' saja, ada yang terlewat. Perintah itu gak berhenti di "bacalah". Ia berlanjut: bismi rabbik, dengan nama Tuhanmu.

Dua kata tambahan ini mengubah seluruh makna perintahnya.

Ayat-ayat yang pertama turun

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥

QS. Al-Alaq: 1-5

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Lima ayat pendek. Tapi di dalamnya ada kerangka lengkap tentang ilmu.

Ada perintah membaca. Ada nama Tuhan yang menjadi titik tolaknya. Ada pengingat tentang asal-usul manusia yang rendah. Ada pena sebagai alat. Dan ada penegasan bahwa semua pengetahuan manusia sebenarnya diajarkan oleh Allah.

Membaca itu netral, arahnya yang menentukan

Membaca, dalam dirinya sendiri, adalah alat. Seperti pisau. Pisau bisa dipakai memasak untuk keluarga, bisa juga dipakai melukai orang.

Ilmu juga begitu. Ilmu kimia bisa menghasilkan obat, bisa juga menghasilkan racun. Ilmu ekonomi bisa mengentaskan kemiskinan, bisa juga dipakai untuk memeras orang miskin dengan cara yang lebih canggih. Ilmu komunikasi bisa dipakai berdakwah, bisa juga dipakai menyebarkan kebohongan yang meyakinkan.

Yang membedakan bukan ilmunya. Yang membedakan adalah arah orang yang memegangnya.

Di sinilah letak kekuatan bismi rabbik. Wahyu pertama gak hanya memerintahkan membaca. Ia sekaligus memasang kompas: bacalah dengan nama Tuhanmu. Mulailah dari-Nya, dan arahkanlah kepada-Nya.

Diingatkan tentang asal yang rendah

Perhatikan ayat kedua. Tepat setelah perintah membaca, Allah mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari 'alaq, segumpal darah.

Kenapa pengingat ini diletakkan di sini, di tengah perintah menuntut ilmu?

Salah satu hikmah yang bisa kita renungkan: ilmu punya potensi membuat manusia merasa besar. Semakin banyak yang diketahui, semakin besar godaan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.

Pengingat tentang asal-usul yang rendah berfungsi seperti rem. Sepintar apa pun seseorang, ia tetap berasal dari segumpal darah. Ilmunya bukan hasil kehebatan dirinya sendiri, tapi pemberian.

Dan lihat bagaimana ayat-ayat sesudahnya dalam surat yang sama menggambarkan manusia yang melampaui batas karena merasa dirinya serba cukup (QS. Al-'Alaq: 6-7). Ilmu tanpa kesadaran akan asal justru bisa menjadi jalan menuju sikap itu.

Allah yang mengajar

Ayat keempat dan kelima menegaskan sesuatu yang sering kita lupakan: yang mengajar manusia adalah Allah.

Guru, buku, dan pena hanyalah perantara. Sumber ilmunya tetap Allah.

Kesadaran ini mengubah cara seseorang belajar. Kalau ilmu datang dari Allah, maka belajar adalah bentuk ibadah. Dan kalau belajar adalah ibadah, maka adab dalam belajar, niat dalam belajar, dan penggunaan ilmu setelah belajar menjadi bagian dari urusan akhirat.

Pelajar yang memahami ini gak akan belajar hanya untuk nilai. Ia belajar karena sedang menerima sesuatu dari Allah.

Ketika pendidikan kehilangan "bismi rabbik"

Sekarang mari kita lihat pendidikan di sekitar kita.

Banyak pendidikan hari ini sangat kuat di bagian iqra'. Anak-anak diajari membaca sejak dini, dilatih memahami teks, berhitung, meneliti. Itu semua baik.

Tapi bagian bismi rabbik sering tertinggal. Ilmu diajarkan tanpa arah. Anak pintar matematika tapi gak tahu untuk apa kepintarannya. Anak menguasai teknologi tapi gak punya pertimbangan moral dalam memakainya.

Hasilnya adalah orang-orang yang sangat terdidik, tapi mudah tersesat. Pintar mencari celah, pandai membenarkan diri, dan sering gak merasa perlu bertanya "apakah ini diridhai Allah?"

Menyatukan kembali dua kata yang terpisah

Tradisi pesantren sebenarnya sedang berusaha menyatukan kembali iqra' dan bismi rabbik.

Santri belajar kitab, bahasa Arab, dan berbagai ilmu. Itu iqra'. Tapi semua itu dijalani dalam suasana ibadah: dimulai dengan doa, disertai adab kepada guru, diselingi shalat berjamaah, dan diarahkan untuk pengabdian. Itu bismi rabbik.

Tentu ini bukan monopoli pesantren. Setiap rumah bisa melakukannya. Orang tua bisa mengajak anak berdoa sebelum belajar. Bisa mengaitkan pelajaran sains dengan kebesaran ciptaan Allah. Bisa bertanya kepada anak, "Kalau kamu jadi dokter nanti, bagaimana ilmu itu bisa jadi ladang pahala?"

Pertanyaan sederhana seperti ini pelan-pelan memasang kompas di dalam diri anak.

Pena: ilmu yang dijaga dan diwariskan

Di antara lima ayat pertama itu, ada satu benda yang disebut secara khusus: pena. Allah mengajar manusia dengan pena.

Menarik, karena wahyu itu turun kepada seorang Nabi yang gak membaca dan menulis. Tapi justru sejak awal, Al-Qur'an sudah menunjuk pena sebagai jalan ilmu.

Pena adalah alat untuk menjaga ilmu dari lupa dan mewariskannya lintas generasi. Ilmu yang hanya tersimpan di kepala akan hilang bersama pemiliknya. Ilmu yang ditulis bisa hidup ratusan tahun setelahnya. Kitab-kitab yang dibaca santri hari ini adalah bukti nyata: tulisan para ulama yang tintanya masih mengalirkan ilmu sampai sekarang.

Bagi anak-anak kita, ini juga pelajaran praktis. Mencatat, meringkas, dan menulis ulang apa yang dipelajari bukan tugas tambahan. Itu bagian dari cara Allah mengajarkan ilmu kepada manusia.

Membaca di zaman informasi berlimpah

Hari ini, tantangan kita bukan lagi kekurangan bahan bacaan. Justru sebaliknya: bahan bacaan terlalu banyak. Setiap hari kita membaca ratusan judul berita, unggahan, dan pesan.

Dalam kelimpahan seperti ini, bismi rabbik menjadi semakin penting. Ia membantu kita memilih apa yang layak dibaca, bagaimana menyikapinya, dan untuk apa kita membacanya. Tanpa kompas itu, kita hanya menjadi penerima informasi yang terombang-ambing, membaca banyak tapi gak menjadi semakin dekat dengan Allah.

Penutup

Wahyu pertama bukan hanya perintah untuk membaca. Ia adalah perintah untuk membaca dengan arah.

Jadi setiap kali kita atau anak-anak kita membuka buku, menatap layar, atau duduk di majelis ilmu, mungkin ada satu pertanyaan kecil yang pantas diajukan: bacaan ini sedang membawaku mendekat kepada Allah, atau menjauh dari-Nya?

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait