Coba perhatikan kebiasaan membaca kita sendiri.
Kita membaca judul, lalu pindah. Membaca dua paragraf, lalu tergoda membuka notifikasi. Menonton video, tapi dipercepat dua kali lipat. Membeli buku, membaca tiga bab, lalu buku itu tergeletak berbulan-bulan.
Ana gak sedang menunjuk orang lain. Ana juga mengalaminya.
Anak-anak kita tumbuh di tengah pola ini. Dan ketika mereka kesulitan fokus membaca satu buku, kita buru-buru menyimpulkan: "Anak zaman sekarang gak suka membaca."
Benarkah masalahnya ada pada minat?
Bukan minat yang hilang, tapi daya tahan
Anak-anak sebenarnya membaca sangat banyak setiap hari. Caption, komentar, pesan, judul video. Jumlah kata yang mereka baca mungkin lebih banyak dari generasi sebelumnya.
Yang berbeda adalah panjang rentangnya. Semua yang mereka baca pendek, terputus-putus, dan langsung berganti.
Akibatnya, yang melemah bukan minat membaca, tapi daya tahan untuk tinggal di satu hal dalam waktu lama. Ini seperti otot. Kalau setiap hari hanya dipakai untuk sprint sepuluh meter, jangan heran kalau ia gak sanggup berlari sepuluh kilometer.
Dan daya tahan ini ternyata gak hanya dibutuhkan untuk membaca buku. Ia dibutuhkan untuk menghafal Al-Qur'an, untuk memahami kitab, untuk menyelesaikan pekerjaan yang sulit, bahkan untuk bertahan dalam sebuah hubungan.
Menuntaskan sebagai latihan karakter
Ada perbedaan besar antara membaca potongan dan menuntaskan sebuah buku.
Membaca potongan memberi informasi. Menuntaskan buku memberi pengalaman: pengalaman bertahan melewati bab yang membosankan, pengalaman memahami gagasan yang dibangun pelan-pelan, pengalaman merasakan kepuasan ketika halaman terakhir ditutup.
Pengalaman ini melatih sesuatu yang lebih dalam dari kemampuan membaca. Ia melatih istiqamah.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus dikerjakan, meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Menuntaskan bacaan, sedikit demi sedikit setiap hari, adalah latihan kecil dari prinsip yang besar ini.
Dari membaca ke menyampaikan
Menuntaskan buku baru langkah pertama. Ada langkah berikutnya yang sering dilewatkan: menyampaikan kembali apa yang dibaca.
Di sinilah ketahuan apakah sebuah bacaan benar-benar dipahami. Banyak orang merasa paham ketika membaca. Tapi begitu diminta menjelaskan dengan kata-kata sendiri, mereka tersendat.
Menyampaikan memaksa otak menyusun ulang gagasan. Mana yang pokok, mana yang cabang. Apa urutan logisnya. Contoh apa yang tepat.
Di Al Maka, ini yang kami jalankan lewat kegiatan Maos Bareng. Setiap santri wajib menuntaskan satu buku, membuat ringkasannya, lalu mempresentasikannya bergiliran di depan forum. Yang dilatih bukan hanya membaca, tapi juga keberanian berbicara dan kemampuan menyusun pikiran di depan orang banyak. Antum bisa melihat gambarannya di halaman ekstrakurikuler.
Ringkasan: ujian pemahaman yang paling jujur
Membuat ringkasan terdengar sederhana. Tapi coba lakukan sendiri, dan Antum akan merasakan betapa sulitnya.
Meringkas memaksa kita memilih. Dari tiga ratus halaman, apa yang benar-benar penting? Dari sepuluh gagasan, mana yang menjadi inti?
Kemampuan memilih ini sangat berharga di zaman informasi berlimpah. Orang yang gak terlatih memilih akan tenggelam dalam banjir informasi. Orang yang terlatih memilih bisa menemukan inti dari sesuatu dengan cepat.
Dan ringkasan juga jujur. Ia gak bisa dipalsukan dengan membaca sekilas. Kalau bukunya gak benar-benar dibaca, ringkasannya akan kelihatan kosong.
Peran orang tua di rumah
Lalu bagaimana orang tua bisa membangun kebiasaan ini di rumah?
Mulailah dengan teladan. Anak yang melihat orang tuanya membaca buku, bukan hanya layar, akan menganggap membaca buku sebagai hal yang wajar.
Pilih buku yang sesuai usia dan minat anak. Buku yang terlalu berat di awal justru bisa mematikan semangat. Lebih baik buku tipis yang tuntas daripada buku tebal yang ditinggalkan di bab dua.
Sediakan waktu khusus tanpa gangguan. Bahkan lima belas menit sehari, tanpa gawai di sekitar, sudah cukup untuk memulai.
Dan yang paling penting: tanyakan isinya. Bukan untuk menguji, tapi untuk mengajak berbincang. "Tokoh mana yang paling kamu suka?" "Menurutmu, kenapa dia memilih begitu?" Percakapan seperti ini mengubah membaca dari tugas menjadi pengalaman bersama.
Buku apa yang sebaiknya dipilih?
Pertanyaan ini sering muncul dari orang tua. Dan jawabannya gak sesederhana "buku agama saja" atau "buku apa pun asal membaca".
Di awal, yang terpenting adalah buku yang bisa dituntaskan. Kisah, biografi, atau buku bergambar untuk anak yang lebih kecil. Tujuannya membangun pengalaman berhasil menyelesaikan satu buku utuh. Pengalaman pertama itu yang akan menjadi bahan bakar untuk buku berikutnya.
Setelah itu, pelan-pelan naikkan tingkatnya. Kisah para nabi dan sahabat, sejarah Islam, buku sains yang ditulis dengan bahasa ringan. Pilih yang isinya gak bertentangan dengan nilai yang ditanamkan di rumah.
Dan jangan lupakan satu hal: biarkan anak ikut memilih. Buku yang dipilih sendiri punya peluang lebih besar untuk dibaca sampai habis daripada buku yang dipaksakan.
Menghargai proses, bukan jumlah
Hati-hati dengan jebakan jumlah. Ada orang tua yang memberi target "sepuluh buku sebulan", lalu anak membaca sekilas demi memenuhi target.
Yang lebih penting dari jumlah adalah kedalaman. Satu buku yang dipahami, diringkas, dan diceritakan kembali jauh lebih berharga daripada sepuluh buku yang hanya dibalik halamannya.
Prinsip ini sama dengan hafalan Al-Qur'an. Hafalan yang sedikit tapi kuat dan dipahami lebih bernilai daripada hafalan banyak yang rapuh.
Penutup
Di zaman serba potongan, menuntaskan sesuatu menjadi keterampilan yang langka. Dan keterampilan yang langka biasanya sangat berharga.
Jadi mungkin hadiah terbaik untuk anak kita bukan buku yang paling mahal, tapi kebiasaan untuk menuntaskan buku yang sudah ia mulai.
Kapan terakhir kali kita sendiri menuntaskan sebuah buku?