Ada momen yang hampir semua orang tua kenal. Rapor dibagikan, kita membukanya, dan mata langsung mencari satu hal: angka.
Kalau angkanya naik, lega. Kalau turun, dahi berkerut. Percakapan di mobil sepulang sekolah pun biasanya berputar di situ.
Ana gak menyalahkan kebiasaan ini. Angka memang praktis. Angka mudah dibandingkan. Tapi justru karena begitu praktis, angka punya efek samping yang jarang kita sadari: ia pelan-pelan menggantikan tujuan yang seharusnya ia ukur.
Alat ukur yang naik pangkat jadi tujuan
Awalnya, nilai diciptakan untuk menjawab satu pertanyaan: apakah anak ini sudah memahami pelajarannya?
Nilai itu termometer. Ia menunjukkan suhu, bukan menentukan suhu.
Tapi coba perhatikan apa yang terjadi ketika termometer dijadikan target. Kalau yang penting angka termometernya normal, orang akan tergoda untuk mengompres termometernya, bukan menyembuhkan demamnya.
Dalam pendidikan, "mengompres termometer" bentuknya macam-macam. Menghafal pola soal tanpa memahami konsep. Belajar semalam sebelum ujian lalu lupa seminggu kemudian. Mencontek. Atau yang paling halus: memilih hanya belajar hal yang akan diujikan.
Angkanya bagus. Tapi pemahamannya gak pernah benar-benar ada.
Asumsi yang jarang diperiksa
Mari kita bongkar asumsi di balik kegelisahan saat nilai turun.
Asumsinya kira-kira begini: nilai tinggi berarti anak berilmu, anak berilmu berarti masa depannya baik.
Premis pertama saja sudah bermasalah. Nilai tinggi paling jauh berarti anak mampu menjawab soal yang diujikan dengan cara yang diharapkan. Itu keterampilan yang berguna, tapi bukan sinonim dari berilmu.
Premis kedua lebih bermasalah lagi. Dalam cara pandang Islam, ilmu yang baik bukan cuma ilmu yang membuat seseorang pintar. Ilmu yang baik adalah ilmu yang membuatnya semakin takut dan dekat kepada Allah.
وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مُخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَۗ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨
Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.
Perhatikan ukurannya. Al-Qur'an gak mendefinisikan ulama dari banyaknya hafalan atau tingginya nilai, tapi dari rasa takut kepada Allah yang lahir dari ilmunya. Ilmu yang gak melahirkan itu, sehebat apa pun angkanya, belum sampai ke tujuannya.
Apa yang hilang ketika angka jadi raja
Ketika angka menjadi tujuan, ada tiga hal yang diam-diam hilang.
Yang pertama adalah rasa ingin tahu. Anak berhenti bertanya "kenapa begini?" dan mulai bertanya "ini masuk ujian gak?". Pertanyaan pertama melahirkan ilmuwan. Pertanyaan kedua melahirkan pencari celah.
Yang kedua adalah kejujuran. Kalau satu-satunya yang dihargai adalah hasil, cara mendapatkannya jadi terasa gak penting. Anak belajar bahwa yang penting kelihatan berhasil.
Yang ketiga adalah keberanian untuk gagal. Anak yang takut nilai turun akan menghindari pelajaran yang sulit. Padahal justru di pelajaran yang sulit itulah otaknya paling banyak tumbuh.
Lalu, apa yang perlu diukur?
Ana gak sedang mengajak membuang nilai. Nilai tetap berguna sebagai salah satu informasi. Masalahnya hanya muncul kalau ia menjadi satu-satunya informasi.
Coba tambahkan beberapa pertanyaan lain saat bicara dengan anak tentang sekolahnya. Apa hal baru yang kamu pahami minggu ini? Pelajaran apa yang paling bikin kamu penasaran? Kapan terakhir kali kamu bilang "aku belum ngerti" ke gurumu? Siapa teman yang kamu bantu?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengirim pesan yang sangat kuat ke anak: yang Ayah dan Ibu pedulikan adalah kamu tumbuh, bukan angkamu bagus.
Perhatikan juga apa yang Antum puji. Kalau yang selalu dipuji adalah angkanya, anak belajar bahwa harga dirinya ada di angka. Kalau yang dipuji adalah kesungguhannya, kejujurannya saat mengaku belum paham, atau keberaniannya mencoba soal yang sulit, anak belajar bahwa harga dirinya ada di proses yang bisa ia kendalikan sendiri.
Jumlah juz juga bisa menjadi angka yang menipu
Jangan dikira masalah ini hanya milik sekolah umum. Dunia tahfidz pun punya "rapornya" sendiri: jumlah juz.
"Anaknya sudah hafal berapa juz?" adalah pertanyaan yang sangat sering Ana dengar. Dan jumlah juz memang mudah dibanggakan, mudah dibandingkan, mudah dijadikan target.
Tapi jumlah juz punya jebakan yang sama dengan nilai rapor. Ia bisa naik, sementara yang diukurnya gak ikut naik.
Di Al Maka, cukup sering santri baru datang membawa hafalan yang lumayan banyak dari jenjang sebelumnya. Tapi setelah diperiksa, sebagian diminta mengulang dari dasar karena makhraj dan sifat hurufnya belum memenuhi standar. Bagi orang tua, ini bisa terasa seperti kemunduran. Angkanya turun drastis.
Padahal yang sedang terjadi justru kebalikannya. Angkanya dikembalikan ke kenyataan. Dan dari situ, hafalan dibangun ulang di atas fondasi yang benar. Hafalan juga bukan tujuan akhirnya. Ia alat untuk membersihkan jiwa, bukan piala untuk dipamerkan.
Pelajaran dari tradisi pesantren
Dalam tradisi pesantren, ada kebiasaan yang menarik. Seorang santri gak dinilai cuma dari ujian tertulis, tapi juga dari bagaimana ia membaca kitab di depan gurunya, bagaimana adabnya, dan bagaimana ia mengamalkan apa yang sudah ia baca.
Seorang guru yang menyertai santrinya setiap hari tahu hal-hal yang gak pernah tertulis di rapor. Ia tahu mana santri yang nilainya pas-pasan tapi sungguh-sungguh, dan mana yang nilainya tinggi tapi mulai sombong.
Penilaian seperti itu memang gak bisa dirangkum jadi satu angka. Tapi justru karena gak bisa diringkas, ia lebih dekat ke tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Penutup: kembali ke pertanyaan awal
Jadi, saat rapor berikutnya dibagikan, silakan tetap lihat angkanya. Tapi setelah itu, coba tanyakan satu hal ke diri sendiri:
Kalau semua angka di rapor ini dihapus, apa yang Ana tahu tentang perkembangan anak Ana?
Kalau jawabannya "gak banyak", mungkin masalahnya bukan di nilai anak. Mungkin selama ini kita yang terlalu lama menatap termometer, sampai lupa memeriksa apakah demamnya benar-benar sudah turun.