Kata-kata terakhir seseorang sebelum wafat biasanya bukan kata-kata biasa. Di saat seperti itu, orang gak lagi berbasa-basi. Yang keluar adalah hal yang paling ia pedulikan.
Ada orang tua yang di akhir hayatnya berpesan tentang pembagian harta. Ada yang berpesan tentang rumah, tentang usaha keluarga, tentang utang yang belum lunas.
Al-Qur'an mengabadikan kata-kata terakhir seorang ayah yang juga seorang nabi. Dan kata-kata itu berbentuk sebuah pertanyaan.
Momen yang diabadikan
أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِيۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِـۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٣
Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya."
Ayat ini dibuka dengan pertanyaan kepada pembaca: apakah kamu menjadi saksi? Seakan Allah mengajak kita masuk ke ruangan itu, berdiri di samping ranjang Nabi Ya'qub, dan mendengarkan langsung apa yang ia tanyakan.
Dan yang ia tanyakan bukan "kalian akan makan dari mana?" Bukan "siapa yang akan meneruskan usaha keluarga?" Bukan "bagaimana kalian membagi harta?"
Yang ia tanyakan: apa yang kalian sembah sepeninggalku?
Kekhawatiran yang tepat sasaran
Coba renungkan sejenak kekhawatiran orang tua zaman sekarang tentang masa depan anak.
Kita khawatir anak gak dapat pekerjaan. Kita khawatir anak gak bisa bersaing. Kita khawatir anak kesulitan ekonomi. Kekhawatiran ini wajar dan gak salah.
Tapi Nabi Ya'qub mengajarkan bahwa ada kekhawatiran yang lebih mendasar dari semua itu. Seorang anak bisa sukses secara ekonomi tapi kehilangan arah ibadahnya. Dan kalau itu terjadi, semua kesuksesan lainnya kehilangan makna.
Sebaliknya, anak yang tetap menyembah Allah, meski hidupnya sederhana, sudah memegang hal yang paling penting.
Wasiat yang diwariskan turun-temurun
Satu ayat sebelumnya memberi konteks penting. Nabi Ibrahim mewasiatkan hal yang sama kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub: bahwa Allah telah memilih agama ini untuk mereka, maka janganlah mereka mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah (QS. Al-Baqarah: 132).
Jadi pertanyaan Nabi Ya'qub bukan pertanyaan dadakan. Ia adalah kelanjutan dari wasiat yang ia terima dari kakeknya, lalu ia teruskan kepada anak-anaknya.
Wasiat itu gak tertulis di atas kertas. Ia ditulis di hati, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dan setiap generasi punya tugas yang sama: memastikan tulisan itu gak terhapus sebelum sampai ke generasi setelahnya.
Anak-anak yang pernah keliru
Ada lapisan lain yang membuat ayat ini semakin menyentuh.
Kita tahu dari surat Yusuf bahwa sebagian anak Nabi Ya'qub pernah melakukan kesalahan besar. Mereka membuang saudara mereka sendiri, Yusuf, ke dalam sumur, lalu berbohong kepada ayah mereka. Nabi Ya'qub menanggung kesedihan itu bertahun-tahun.
Anak-anak yang sama itulah yang kemudian berdiri di sekitar ranjangnya di akhir hayat. Dan jawaban mereka menunjukkan bahwa mereka telah kembali ke jalan yang lurus.
Ini pelajaran yang sangat berharga bagi orang tua yang sedang menghadapi anak yang keliru. Kesalahan anak hari ini bukan akhir cerita. Nabi Ya'qub gak berhenti mendidik dan mendoakan. Dan di akhir hidupnya, ia melihat hasilnya.
Pertanyaan, bukan pernyataan
Perhatikan juga bentuk pesannya. Nabi Ya'qub gak berkata, "Kalian harus menyembah Allah." Ia bertanya, "Apa yang akan kalian sembah?"
Pertanyaan memaksa anak-anaknya menjawab dengan mulut mereka sendiri. Mereka yang mengucapkan komitmen itu, bukan sekadar mendengarnya.
Dan jawaban mereka sangat lengkap. Mereka menyebut Tuhan ayah mereka, Tuhan Ibrahim, Ismail, dan Ishak. Mereka menegaskan keesaan-Nya. Mereka menyatakan penyerahan diri.
Jawaban selengkap itu gak lahir dari hafalan dadakan. Ia lahir dari pendidikan yang panjang, di mana anak-anak itu terus diperkenalkan dengan rantai keimanan keluarga mereka.
Mewariskan rantai, bukan hanya harta
Dalam jawaban anak-anak Nabi Ya'qub, ada rantai yang disebut: Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub, lalu mereka sendiri.
Mereka memahami bahwa mereka adalah bagian dari sebuah rantai panjang. Iman bukan sesuatu yang mereka temukan sendiri, tapi sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ini mengingatkan kita bahwa warisan terpenting dari orang tua bukan harta. Harta akan habis dibagi. Warisan terpenting adalah rantai iman yang tersambung ke generasi berikutnya.
Dan seperti rantai, iman itu hanya sekuat mata rantai terlemahnya. Kalau satu generasi lalai, rantainya bisa putus.
Apa yang kita bicarakan dengan anak?
Sekarang mari kita bawa ke kehidupan sehari-hari.
Kalau kita merekam semua percakapan kita dengan anak selama sebulan, lalu menghitung topiknya, kira-kira hasilnya seperti apa? Berapa persen tentang sekolah, nilai, dan tugas? Berapa persen tentang makanan, jadwal, dan uang? Berapa persen tentang Allah, ibadah, dan tujuan hidup?
Kalau topik terakhir itu hampir gak ada, maka kita perlu bertanya: kalau Nabi Ya'qub menyimpan pertanyaan tentang ibadah untuk kalimat terakhirnya, kenapa kita bahkan jarang menyebutnya di hari-hari biasa?
Menyiapkan jawaban sejak sekarang
Kita gak tahu kapan kita akan berada di posisi Nabi Ya'qub. Tapi kita bisa mulai menyiapkan jawaban anak-anak kita sejak sekarang.
Caranya bukan dengan ceramah panjang. Tapi dengan menjadikan Allah bagian dari percakapan sehari-hari. Mengaitkan nikmat dengan syukur. Mengaitkan musibah dengan sabar. Mengaitkan keputusan dengan istikharah. Dan yang paling penting, memperlihatkan kepada anak bahwa kita sendiri menyembah Allah dengan sungguh-sungguh.
Penutup
Suatu hari nanti, entah kapan, mungkin kita akan berada di ranjang terakhir kita, dikelilingi anak-anak kita.
Pertanyaan apa yang akan kita ajukan? Dan yang lebih penting: jawaban apa yang sudah kita siapkan di hati mereka sejak hari ini?