"Masya Allah, kamu memang anak paling pintar!"
Kalimat ini keluar dari mulut kita dengan niat baik. Kita ingin anak percaya diri. Kita ingin ia merasa dihargai.
Dan memang, untuk sesaat, wajah anak berbinar.
Tapi ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: apa yang terjadi di kepala anak setelah pujian itu berulang ratusan kali selama bertahun-tahun?
Pujian yang memberi beban
Ketika anak terus-menerus disebut "pintar", ia menyimpulkan bahwa kepintaran adalah identitasnya. Dan identitas itu harus dijaga.
Lalu datang soal yang sulit. Anak yang merasa dirinya "pintar" menghadapi dilema. Kalau ia mencoba dan gagal, identitasnya terancam. Maka cara paling aman adalah gak mencoba sama sekali.
Ini paradoks yang sering terjadi. Pujian yang dimaksudkan untuk membangun percaya diri justru melahirkan anak yang takut tantangan. Ia memilih tugas yang pasti bisa, menghindari yang sulit, dan merasa hancur ketika sekali saja mendapat nilai buruk.
Pujian seperti ini memberi anak sebuah mahkota. Tapi mahkota itu harus dijaga terus, dan menjaganya melelahkan.
Rasulullah ﷺ dan pujian yang berlebihan
Menariknya, Rasulullah ﷺ memberi perhatian khusus pada soal pujian.
Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang memuji orang lain di hadapan beliau. Beliau lalu bersabda, "Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu," dan mengulangnya beberapa kali. Lalu beliau mengajarkan: jika seseorang memang harus memuji saudaranya, hendaklah ia berkata "aku mengira dia demikian, dan Allah-lah yang menghisabnya", jika ia memang mengira demikian (HR. Bukhari dan Muslim).
Ungkapan "memotong leher" itu sangat keras untuk sesuatu yang tampak remeh seperti pujian. Kenapa?
Karena pujian yang berlebihan bisa membunuh sesuatu dalam diri orang yang dipuji: kerendahan hatinya, kesungguhannya, dan kesadarannya bahwa ia masih perlu terus memperbaiki diri.
Dan perhatikan juga adab yang beliau ajarkan. Pujian tetap boleh. Tapi dengan bahasa yang jujur dan sadar batas: "aku mengira", bukan "aku pastikan".
Memuji hasil vs memuji usaha
Kalau pujian bisa merusak, apakah berarti kita harus berhenti memuji anak?
Tentu gak. Anak tetap butuh dihargai. Yang perlu diubah adalah apa yang kita puji.
Coba bandingkan dua kalimat ini.
"Kamu pintar sekali, nilaimu seratus." Yang dipuji adalah hasil dan bakat, dua hal yang gak sepenuhnya di bawah kendali anak.
"Kamu kemarin belajar sampai malam, dan kelihatan hasilnya." Yang dipuji adalah kesungguhan, sesuatu yang sepenuhnya bisa anak pilih.
Pujian pertama mengajarkan bahwa nilai dirinya ada pada hasil. Pujian kedua mengajarkan bahwa nilai dirinya ada pada usaha. Dan usaha itu bisa ia ulangi lagi besok, apa pun hasilnya.
Pujian yang mengembalikan kepada Allah
Dalam cara pandang Islam, ada lapisan yang lebih dalam lagi.
Kepintaran, kekuatan, suara yang merdu, dan hafalan yang cepat pada dasarnya adalah nikmat dari Allah. Anak gak menciptakannya sendiri.
Ketika pujian selalu diarahkan kepada anak ("kamu hebat!"), anak bisa pelan-pelan lupa dari mana semua itu berasal. Ketika pujian diarahkan kepada Allah ("Alhamdulillah, Allah kasih kamu kemudahan menghafal, semoga dipakai untuk kebaikan"), anak belajar dua hal sekaligus: bahwa ia dihargai, dan bahwa ia sedang memegang amanah.
Ini bukan sekadar soal memilih kata. Ini soal membentuk cara anak memandang dirinya. Apakah ia pemilik prestasinya, atau penjaga nikmat yang dititipkan kepadanya?
Ketika anak haus pengakuan
Anak yang terbiasa dipuji berlebihan sering tumbuh menjadi anak yang haus pengakuan.
Ia berbuat baik, lalu menoleh, memastikan ada yang melihat. Kalau gak ada yang melihat, perbuatan baik itu terasa sia-sia.
Di zaman media sosial, pola ini semakin kuat. Hidup berubah menjadi panggung. Setiap pencapaian harus diumumkan. Setiap kebaikan harus didokumentasikan.
Dalam bahasa tazkiyatun nafs, ini adalah benih riya' yang tumbuh sejak kecil. Dan benih itu sering disiram tanpa sengaja oleh orang-orang yang paling menyayanginya.
Sisi lain pujian: membandingkan
Ada kebiasaan yang sering berjalan beriringan dengan pujian: membandingkan.
"Lihat kakakmu, dulu seumuran kamu sudah hafal tiga juz." "Kok kamu gak bisa kayak anak tetangga?"
Membandingkan itu seperti pujian yang dibalik arah. Satu anak diangkat, satu anak diturunkan. Dan keduanya sama-sama dirugikan.
Anak yang diturunkan belajar bahwa ia gak cukup berharga apa adanya. Anak yang diangkat belajar bahwa posisinya bergantung pada keberhasilannya mengungguli orang lain. Di antara keduanya tumbuh sesuatu yang berbahaya: persaingan yang seharusnya gak ada di antara saudara.
Kalau memang perlu membandingkan, bandingkan anak dengan dirinya sendiri yang kemarin. "Bulan lalu kamu masih kesulitan di surat ini, sekarang sudah lancar." Perbandingan seperti ini gak menjatuhkan siapa pun, dan memberi anak ukuran yang adil.
Kapan sebaiknya diam?
Ada kalanya pujian terbaik justru diam yang hangat. Anak menyelesaikan tugasnya, kita cukup tersenyum dan mengangguk. Atau kita bertanya, "Gimana rasanya berhasil menyelesaikan itu sendiri?"
Pertanyaan seperti ini mengajak anak menilai dirinya sendiri, bukan menunggu penilaian dari luar. Pelan-pelan, ia belajar merasakan kepuasan dari dalam, bukan dari tepuk tangan.
Kepuasan dari dalam inilah yang akan menemaninya kelak, ketika ia dewasa dan gak ada lagi orang tua yang siap memujinya setiap saat.
Penutup
Pujian itu seperti garam. Sedikit, membuat masakan lezat. Terlalu banyak, membuat masakan gak bisa dimakan.
Anak tetap butuh tahu bahwa ia dihargai. Tapi penghargaan terdalam bukan kalimat "kamu hebat". Penghargaan terdalam adalah perhatian: orang tua yang benar-benar melihat usahanya, mendengarkan ceritanya, dan hadir di sampingnya ketika ia gagal.
Jadi sebelum memuji anak hari ini, coba tanyakan satu hal: apakah pujian ini akan membuatnya lebih berani mencoba, atau lebih takut kehilangan?