October 07, 2026 | General

Riya' Versi Media Sosial: Ketika Amal Butuh Penonton

Oleh M Salman Azhar
Riya' Versi Media Sosial: Ketika Amal Butuh Penonton

Coba perhatikan beranda media sosial kita.

Foto sedekah. Foto tilawah dengan mushaf yang terbuka rapi. Video anak yang sedang muraja'ah. Tangkapan layar donasi. Status tentang shalat malam.

Sebagian dari unggahan itu mungkin tulus, dimaksudkan untuk menginspirasi. Sebagian lagi mungkin, tanpa disadari, sedang mencari sesuatu yang lain.

Dan yang sulit, dari luar kita gak bisa membedakannya. Bahkan dari dalam, kadang kita sendiri gak yakin.

Riya' itu penyakit lama dalam bentuk baru

Riya' bukan penyakit baru. Sejak dulu, manusia punya kecenderungan untuk memperlihatkan amal baiknya supaya dipuji.

Yang baru adalah skalanya. Dulu, riya' butuh orang yang kebetulan lewat. Sekarang, penontonnya bisa ribuan orang. Dan mereka memberi tanda suka, komentar, dan pujian yang bisa dihitung.

Angka-angka itu memberi sesuatu yang sangat menggoda: bukti bahwa kita dilihat dan dihargai. Dan sesuatu yang memberi rasa dihargai bisa pelan-pelan membuat kita ketagihan.

Peringatan dalam surat yang pendek

Salah satu peringatan paling tajam tentang riya' ada di surat yang sangat pendek, yang sering kita baca dalam shalat.

فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٤ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٥ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ٦

QS. Al-Maa'un: 4-6

Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria.

Ayat ini mengejutkan. Yang dicela bukan orang yang gak shalat. Yang dicela adalah orang yang shalat.

Artinya, ibadah itu sendiri bisa menjadi celaka kalau diarahkan kepada manusia, bukan kepada Allah. Gerakan dan bacaannya sama. Tapi tujuannya bergeser.

Dan Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan bahwa yang paling beliau khawatirkan atas umatnya adalah syirik kecil, lalu beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah riya' (HR. Ahmad).

Apakah semua unggahan kebaikan itu riya'?

Di sini perlu hati-hati. Gak semua amal yang terlihat orang itu riya'.

Para ulama membedakan antara amal yang diniatkan untuk dilihat manusia dan amal yang kebetulan dilihat manusia. Amal yang dilakukan karena Allah, lalu orang lain melihatnya, gak otomatis menjadi riya'.

Bahkan ada amal yang memang lebih baik ditampakkan, misalnya untuk memberi contoh atau mengajak orang lain berbuat baik. Allah memuji orang yang bersedekah baik secara sembunyi maupun terang-terangan (QS. Al-Baqarah: 274).

Jadi masalahnya bukan pada terlihat atau gak terlihat. Masalahnya ada pada untuk siapa amal itu dilakukan.

Tanda-tanda amal mulai butuh penonton

Karena riya' tersembunyi di dalam hati, kita perlu jujur memeriksa diri. Ada beberapa tanda yang bisa menjadi alarm.

Kita merasa amal itu kurang lengkap kalau belum diunggah. Kita lebih bersemangat beribadah ketika ada yang melihat, dan malas ketika sendirian. Kita memeriksa berapa orang yang menyukai unggahan ibadah kita, lalu merasa kecewa kalau jumlahnya sedikit. Kita memilih amal yang "bagus difoto" dan meninggalkan amal yang gak bisa diperlihatkan.

Kalau tanda-tanda ini mulai muncul, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan memeriksa ulang niat.

Jebakan angka dan algoritma

Ada satu hal yang membuat riya' di media sosial lebih licin daripada riya' di zaman dulu: angka.

Dulu, pujian manusia datang sesekali dan gak bisa dihitung. Sekarang, pujian datang dalam bentuk angka yang bisa dipantau setiap saat. Berapa yang menonton, berapa yang menyukai, berapa yang membagikan.

Angka-angka itu gak netral. Ia dirancang untuk membuat kita kembali memeriksanya. Dan tanpa sadar, kita mulai menyesuaikan diri dengan apa yang disukai angka. Konten ibadah yang mendapat banyak tanggapan membuat kita ingin mengunggah lebih banyak konten serupa. Konten yang sepi membuat kita merasa amal itu kurang berharga.

Di titik ini, yang mengatur arah amal kita bukan lagi niat, tapi algoritma. Padahal ikhlas, dalam penjelasan para ulama, adalah memurnikan tujuan amal hanya untuk Allah. Begitu ukuran keberhasilan amal pindah ke angka, kemurnian itu mulai tercampur.

Amal rahasia sebagai penyeimbang

Salah satu cara menjaga hati dari riya' adalah memiliki amal rahasia. Amal yang gak diketahui siapa pun, kecuali Allah.

Shalat malam yang gak diceritakan. Sedekah yang gak difoto. Doa untuk orang lain yang gak pernah diberitahukan kepadanya.

Amal rahasia seperti ini berfungsi sebagai penyeimbang. Ia melatih hati untuk merasa cukup dengan penglihatan Allah saja. Semakin banyak amal rahasia, semakin kuat hati menghadapi godaan untuk memperlihatkan amal.

Mendidik anak di era serba unggah

Tantangan ini juga menyangkut anak-anak kita.

Ketika orang tua terbiasa mengunggah setiap momen ibadah anak, anak bisa belajar bahwa ibadah itu sesuatu yang harus dipertontonkan. Muraja'ah menjadi konten. Shalat menjadi pose. Khatam menjadi acara pamer.

Ana gak mengatakan orang tua gak boleh berbagi kebahagiaan. Tapi perlu ada batas. Ada momen yang sebaiknya tetap menjadi milik anak dan Allah saja.

Ajarkan anak bahwa ibadah terbaik adalah ibadah yang gak butuh tepuk tangan. Dan tunjukkan itu lewat contoh: biarkan anak tahu bahwa orang tuanya punya amal yang gak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Pertanyaan sebelum menekan tombol unggah

Mungkin kita bisa membiasakan satu jeda kecil sebelum mengunggah konten ibadah.

Tanyakan kepada diri sendiri: kalau unggahan ini gak disukai siapa pun, apakah aku tetap senang telah melakukannya? Kalau jawabannya ya, mungkin niatnya sudah benar. Kalau jawabannya ragu, mungkin sebaiknya amal itu disimpan saja.

Penutup

Media sosial gak menciptakan riya'. Ia hanya memberi riya' panggung yang lebih besar dan penonton yang lebih banyak.

Tugas kita bukan menjauhi media sosial sepenuhnya. Tugas kita adalah memastikan bahwa di tengah semua panggung itu, ada amal-amal yang tetap kita simpan untuk satu-satunya Penonton yang benar-benar penting.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait