October 09, 2026 | General

Syukur yang Diukur dari Pemakaian, Bukan dari Ucapan

Oleh M Salman Azhar
Syukur yang Diukur dari Pemakaian, Bukan dari Ucapan

Kalau ditanya apa itu syukur, kebanyakan kita akan menjawab dengan satu kata: alhamdulillah.

Dapat rezeki, alhamdulillah. Sembuh dari sakit, alhamdulillah. Anak naik kelas, alhamdulillah.

Ucapan itu tentu baik. Tapi ada satu ayat yang menunjukkan bahwa syukur ternyata lebih dari ucapan. Syukur itu dikerjakan.

Keluarga Dawud dan perintah bekerja

يَعۡمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ ١٣

QS. Saba: 13

(Mereka, para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.

Konteksnya luar biasa. Nabi Sulaiman diberi kerajaan yang gak pernah diberikan kepada siapa pun. Jin bekerja untuknya, membangun gedung, membuat peralatan yang sangat besar.

Lalu datang perintah: i'malū āla dāwūda syukrā. Bekerjalah, wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk syukur.

Perhatikan kata kerjanya: bekerjalah. Bukan "ucapkanlah" atau "katakanlah". Syukur di sini diwujudkan dalam amal.

Syukur yang dikerjakan

Apa artinya syukur yang dikerjakan?

Secara sederhana, bersyukur atas sebuah nikmat berarti memakai nikmat itu sesuai dengan kehendak Pemberinya.

Bersyukur atas mata berarti memakainya untuk melihat yang baik dan menjaganya dari yang haram. Bersyukur atas ilmu berarti mengamalkan dan mengajarkannya. Bersyukur atas harta berarti membelanjakannya di jalan yang diridhai dan menunaikan hak orang lain di dalamnya.

Dengan cara pandang ini, seseorang bisa mengucapkan alhamdulillah seratus kali sehari, tapi belum bersyukur. Karena nikmat yang ia terima dipakai untuk hal yang menjauhkannya dari Allah.

Sebaliknya, seseorang yang jarang berbicara tapi memakai setiap nikmatnya untuk kebaikan sedang bersyukur dengan cara yang paling nyata.

Sedikit yang bersyukur

Ayat itu ditutup dengan kalimat yang menampar: dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.

Kalimat ini diucapkan dalam konteks keluarga Nabi Dawud, keluarga para nabi. Kalau dalam konteks seperti itu saja Allah mengingatkan bahwa yang bersyukur itu sedikit, apalagi kita.

Kenapa sedikit? Mungkin karena syukur yang sebenarnya menuntut kerja. Mengucapkan terima kasih itu mudah. Memakai nikmat dengan benar itu sulit. Ia menuntut kesadaran setiap saat, pengendalian diri, dan kesediaan untuk mengorbankan keinginan.

Syukur yang menambah

Allah juga memberikan janji tentang syukur di ayat lain.

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ ٧

QS. Ibrahim: 7

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."

Kalau syukur dipahami sebagai pemakaian yang benar, janji ini jadi sangat logis.

Orang yang memakai ilmunya untuk mengajar akan semakin dalam ilmunya. Orang yang memakai hartanya untuk kebaikan akan dibukakan pintu-pintu keberkahan. Orang yang memakai waktunya untuk hal bermanfaat akan merasakan waktunya semakin berkah.

Sebaliknya, nikmat yang disia-siakan cenderung hilang. Ilmu yang gak diamalkan dilupakan. Kesehatan yang gak dijaga rusak. Kesempatan yang gak dipakai lewat begitu saja.

Mendidik anak bersyukur

Bagaimana mengajarkan syukur seperti ini kepada anak?

Kalau syukur hanya diajarkan sebagai ucapan, anak akan belajar mengucapkan alhamdulillah dengan fasih, tapi belum tentu memahami maknanya.

Coba ajarkan syukur sebagai pemakaian. Ketika anak mendapat mainan baru, ajak ia merawatnya dengan baik. "Merawat mainan ini adalah caramu berterima kasih kepada Allah yang memberikannya lewat Ayah." Ketika anak dianugerahi kemampuan menghafal, arahkan ia untuk membantu temannya yang kesulitan. "Allah memberimu kemudahan menghafal. Cara bersyukurnya, bantu temanmu."

Pelan-pelan, anak belajar bahwa setiap nikmat datang bersama tanggung jawab.

Berterima kasih kepada manusia

Ada satu sisi syukur yang sering terlewat: berterima kasih kepada perantara nikmat.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang gak berterima kasih kepada manusia, ia gak bersyukur kepada Allah (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Nikmat Allah sering datang lewat tangan manusia. Makanan di meja lewat tangan ibu yang memasak. Ilmu lewat guru yang mengajar. Rezeki lewat orang yang memberi pekerjaan. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan jalan yang Allah pilih untuk menyampaikan nikmat-Nya.

Bagi anak, ini pelajaran yang sangat konkret. Mengucapkan terima kasih kepada ibu setelah makan, kepada guru setelah belajar, kepada teman yang membantu. Hal-hal kecil ini melatih hati untuk menyadari bahwa hidup kita dipenuhi kebaikan orang lain, dan di balik semua itu ada Allah.

Syukur yang diuji oleh kebiasaan

Ada nikmat yang saking seringnya kita terima, kita berhenti menganggapnya nikmat. Air bersih yang mengalir setiap hari. Listrik yang menyala. Anak yang sehat dan bisa tertawa.

Kita baru menyadarinya ketika nikmat itu hilang sebentar. Air mati sehari saja, kita baru sadar betapa berharganya. Anak sakit semalam saja, kita baru sadar betapa mahalnya kesehatannya.

Syukur yang dewasa adalah syukur yang gak menunggu kehilangan. Ia melihat nikmat yang biasa dengan mata yang baru.

Syukur di tengah kekurangan

Ada satu hal yang sering terlupa. Syukur bukan hanya untuk orang yang berkecukupan.

Seseorang yang hidupnya sederhana tetap punya banyak nikmat: napas, penglihatan, iman, keluarga. Dan ia bisa bersyukur dengan memakai nikmat-nikmat itu sebaik-baiknya.

Rasulullah ﷺ mengajarkan agar dalam urusan dunia kita melihat kepada orang yang berada di bawah kita, bukan yang di atas kita, karena itu lebih layak agar kita gak meremehkan nikmat Allah (HR. Muslim).

Melihat ke bawah bukan untuk merendahkan orang lain, tapi untuk menyadari betapa banyak yang sudah kita miliki.

Penutup

Syukur bukan hanya tentang apa yang kita ucapkan ketika menerima nikmat. Syukur adalah tentang apa yang kita lakukan dengan nikmat itu setelah menerimanya.

Jadi setelah mengucapkan alhamdulillah hari ini, coba tanyakan satu hal: nikmat yang baru saja aku syukuri ini, akan aku pakai untuk apa?

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait