Ada penyakit hati yang punya sifat unik. Ia gak tumbuh di tanah maksiat. Ia tumbuh di tanah kebaikan.
Orang yang berbuat dosa biasanya merasa bersalah. Rasa bersalah itu, meskipun menyakitkan, sebenarnya melindunginya. Ia mendorong untuk bertaubat.
Tapi orang yang baru saja berbuat baik gak merasa bersalah. Ia merasa baik. Dan dari perasaan baik itulah penyakit ini bisa tumbuh diam-diam. Namanya ujub: kagum pada diri sendiri.
Ujub dalam wujud sehari-hari
Ujub jarang muncul dalam bentuk yang terang-terangan. Ia lebih sering muncul dalam bentuk yang halus.
Seseorang yang baru khatam Al-Qur'an, lalu diam-diam merasa lebih baik dari temannya yang belum. Santri yang hafalannya lancar, lalu mulai meremehkan temannya yang tersendat. Orang yang rajin shalat malam, lalu memandang rendah orang yang tidur sampai Subuh.
Perhatikan polanya. Amal baiknya nyata. Tapi di atas amal itu tumbuh sesuatu yang merusak: perasaan bahwa diri ini hebat, bahwa amal ini berasal dari kemampuan diri sendiri, dan bahwa orang lain ada di bawah.
Larangan menganggap diri suci
Al-Qur'an memberi peringatan yang sangat jelas tentang hal ini.
ٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلۡمَغۡفِرَةِۚ هُوَ أَعۡلَمُ بِكُمۡ إِذۡ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَإِذۡ أَنتُمۡ أَجِنَّةٞ فِي بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡۖ فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ٣٢
(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil. Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kamu, sejak Dia menjadikan kamu dari tanah lalu ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.
Perhatikan konteksnya. Ayat ini berbicara tentang orang-orang yang menjauhi dosa besar. Orang-orang yang secara umum baik. Justru kepada merekalah larangan "jangan menganggap dirimu suci" disampaikan.
Dan perhatikan juga pengingat yang mendahuluinya. Allah mengetahui kita sejak kita diciptakan dari tanah, sejak kita masih janin dalam perut ibu. Seakan Allah berkata: Aku tahu dari mana kamu berasal. Aku tahu betapa lemahnya kamu. Lalu atas dasar apa kamu merasa suci?
Ketika jumlah yang banyak gak berguna
Al-Qur'an juga mengabadikan sebuah peristiwa ketika ujub menimpa satu kelompok, bukan hanya individu.
لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡـٔٗا وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ ٢٥
Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang-langgang.
Dalam peristiwa ini, pasukan kaum Muslimin berjumlah besar. Sebagian dari mereka merasa kagum dengan jumlah itu. Dan justru di situ mereka mengalami kekalahan di awal pertempuran.
Pelajarannya jelas. Kekuatan yang dikagumi berlebihan bisa berubah menjadi kelemahan. Karena begitu seseorang bersandar pada kekuatannya sendiri, ia lupa bersandar kepada Allah.
Kenapa ujub begitu berbahaya?
Ujub berbahaya karena beberapa hal.
Ia merusak amal dari dalam. Amal yang seharusnya mendekatkan kepada Allah justru menjadi sumber kebanggaan pribadi. Pusat amal bergeser dari Allah ke diri sendiri.
Ia menghentikan pertumbuhan. Orang yang merasa sudah hebat berhenti belajar dan berhenti memperbaiki diri. Untuk apa memperbaiki sesuatu yang sudah dianggap baik?
Ia merusak hubungan dengan sesama. Orang yang kagum pada dirinya cenderung memandang rendah orang lain. Dan pandangan rendah itu terasa, meskipun gak diucapkan.
Ia sulit dideteksi. Karena ia tumbuh dari amal baik, pelakunya jarang menyadarinya. Ia merasa sedang berbuat baik, bukan sedang sakit.
Obat pertama: menyadari bahwa amal adalah taufik
Salah satu obat ujub yang paling mendasar adalah menyadari bahwa amal baik bukan murni hasil kemampuan kita.
Kita bisa shalat karena Allah memberi kesehatan. Kita bisa menghafal karena Allah memberi ingatan. Kita bisa istiqamah karena Allah memberi kemudahan. Kalau salah satu dari itu dicabut, amal kita pun terhenti.
Dengan kesadaran ini, setiap amal baik gak lagi menjadi alasan untuk bangga, tapi alasan untuk bersyukur. Dan syukur adalah lawan dari ujub. Ujub berkata "aku hebat". Syukur berkata "Allah baik kepadaku".
Obat kedua: mengingat dosa dan kekurangan
Obat berikutnya adalah jujur pada diri sendiri tentang kekurangan dan dosa kita.
Orang yang sering bermuhasabah akan menemukan bahwa di balik setiap amal baik, masih ada banyak kekurangan. Shalatnya belum khusyuk. Niatnya belum sepenuhnya ikhlas. Masih banyak dosa yang belum ditaubati.
Kesadaran ini bukan untuk membuat putus asa, tapi untuk menjaga keseimbangan. Orang yang tahu kekurangannya gak akan mudah merasa lebih baik dari orang lain.
Obat ketiga: melihat orang lain dengan prasangka baik
Ujub hampir selalu datang bersama perbandingan. Kita merasa hebat karena, diam-diam, kita membandingkan diri dengan orang yang kita anggap lebih rendah.
Maka salah satu obatnya adalah mengubah cara memandang orang lain. Orang yang belum khatam mungkin punya amal tersembunyi yang gak kita ketahui. Orang yang tidur sampai Subuh mungkin sedang sakit, atau baru saja merawat orang tuanya semalaman. Orang yang terlihat biasa saja mungkin punya kedudukan yang tinggi di sisi Allah karena keikhlasannya.
Kita gak tahu isi hati dan catatan amal orang lain. Yang kita tahu hanya kekurangan kita sendiri. Dan kesadaran itu cukup untuk membuat kita berhenti merasa lebih baik.
Untuk para penghafal Al-Qur'an dan orang tuanya
Pesan ini sangat relevan bagi para penghafal Al-Qur'an dan orang tua mereka.
Menghafal Al-Qur'an adalah kemuliaan. Tapi kemuliaan itu juga ujian. Anak yang hafal banyak juz dan terus-menerus dipuji berisiko tumbuh dengan ujub.
Orang tua dan guru perlu membantu anak memahami bahwa hafalan adalah amanah, bukan prestasi pribadi. Ia titipan yang harus dijaga, diamalkan, dan dipertanggungjawabkan.
Penutup
Ujub adalah penyakit yang paling sering menyerang orang-orang baik. Dan justru karena itu, orang-orang baik perlu paling waspada terhadapnya.
Jadi setelah menyelesaikan sebuah amal baik hari ini, coba tanyakan kepada diri sendiri: apakah amal ini membuat Ana lebih bersyukur kepada Allah, atau lebih kagum kepada diri sendiri?