"Adab sebelum ilmu."
Kalimat ini sangat populer. Sering dipasang di dinding kelas, dikutip dalam ceramah, dijadikan slogan lembaga pendidikan.
Tapi ada satu hal yang menarik untuk diperiksa. Kalau ditanya maksudnya, banyak orang menjawab dengan logika jadwal: pelajari dulu bab adab, baru setelah itu pelajari ilmu yang lain.
Benarkah sesederhana itu? Atau ada makna yang lebih dalam yang sering terlewat?
Gelas yang terbalik
Bayangkan seseorang menuangkan air ke sebuah gelas. Airnya jernih, banyak, dan mengalir deras. Tapi gelasnya terbalik.
Berapa banyak air yang tertampung? Nol.
Masalahnya bukan pada airnya. Masalahnya bukan pula pada penuangnya. Masalahnya ada pada posisi gelas.
Adab itu posisi gelas. Ilmu itu airnya. Tanpa adab, ilmu sebanyak apa pun gak akan tertampung. Ia bisa lewat, bisa terdengar, bisa dihafal, tapi gak masuk ke dalam.
Dengan cara pandang ini, "adab sebelum ilmu" bukan lagi urutan jadwal. Ia adalah syarat kesiapan. Adab bukan bab pertama dalam buku. Adab adalah bentuk wadah yang menentukan apakah seluruh buku itu bisa diterima.
Ketika adab yang buruk menghapus amal
Al-Qur'an memberi isyarat yang sangat keras tentang hubungan adab dan amal. Perhatikan ayat ini, yang turun mengatur adab para sahabat di hadapan Rasulullah ﷺ.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَرۡفَعُوٓاْ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِيِّ وَلَا تَجۡهَرُواْ لَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ كَجَهۡرِ بَعۡضِكُمۡ لِبَعۡضٍ أَن تَحۡبَطَ أَعۡمَٰلُكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تَشۡعُرُونَ ٢
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.
Ada dua hal yang menarik dari ayat ini.
Pertama, yang diatur adalah sesuatu yang tampak sepele: volume suara. Bukan soal akidah, bukan soal ibadah wajib. Hanya soal cara berbicara.
Kedua, konsekuensinya sangat berat: amal bisa terhapus. Dan yang lebih mengkhawatirkan, tanpa disadari.
Ini menunjukkan bahwa adab bukan urusan pinggiran. Adab bisa menentukan nasib seluruh amal. Seseorang bisa rajin beribadah, tapi adab yang buruk diam-diam menggerogoti semuanya.
Adab kepada guru, adab kepada ilmu
Dalam tradisi pesantren, adab kepada guru diajarkan sangat serius. Duduk yang sopan, gak memotong pembicaraan, gak berjalan di depan guru tanpa izin, mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dari luar, sebagian orang menganggap ini feodal. Seolah-olah santri diajari tunduk buta.
Tapi coba lihat dari sisi yang lain. Adab kepada guru sebenarnya adalah latihan kerendahan hati di hadapan ilmu. Santri yang terbiasa menghormati orang yang mengajarinya akan lebih mudah mengakui bahwa dirinya belum tahu. Dan mengakui belum tahu adalah pintu pertama menuju tahu.
Sebaliknya, murid yang merasa sejajar dengan gurunya sejak awal, merasa sudah paham sebelum mendengar penjelasan, biasanya akan kesulitan menerima hal baru. Gelasnya sudah penuh dengan dirinya sendiri.
Adab kepada kitab dan tempat belajar
Adab dalam tradisi pesantren juga menyentuh benda. Kitab gak diletakkan di lantai. Kitab gak dilangkahi. Mushaf ditaruh di tempat yang lebih tinggi. Majelis ilmu didatangi dalam keadaan bersih dan berpakaian pantas.
Orang yang melihat dari luar mungkin bertanya: apa hubungannya posisi kitab dengan masuknya ilmu? Bukankah isi kitabnya tetap sama, di lantai atau di rak?
Isinya memang sama. Tapi hati orang yang memperlakukannya gak sama. Tangan yang terbiasa memuliakan kitab sedang melatih hati untuk memuliakan isinya. Dan hati yang memuliakan ilmu akan lebih serius menerimanya, lebih hati-hati menyampaikannya, dan lebih takut menyalahgunakannya.
Perlakuan terhadap benda adalah latihan batin yang terlihat dari luar.
Adab di ruang digital
Prinsip ini sangat relevan dengan zaman sekarang.
Di media sosial, kita sering melihat orang berdebat tentang agama dengan sangat keras. Dalil dilempar, ulama dicela, lawan bicara direndahkan. Ilmunya mungkin banyak. Tapi adabnya hilang.
Apa yang terjadi? Diskusi gak pernah menghasilkan pemahaman baru. Masing-masing semakin yakin dengan pendapatnya, semakin keras suaranya, dan semakin jauh dari kebenaran.
Kalau ayat tadi mengingatkan bahwa meninggikan suara di hadapan Nabi bisa menghapus amal, maka kita pantas bertanya: bagaimana dengan meninggikan suara, bahkan menghina, sesama Muslim di kolom komentar?
Mengajarkan adab kepada anak
Lalu bagaimana adab ditanamkan kepada anak?
Adab gak diajarkan terutama lewat pelajaran. Adab diajarkan lewat kebiasaan dan teladan.
Anak belajar menghormati orang tua dari melihat orang tuanya menghormati kakek dan neneknya. Anak belajar mendengarkan dari pengalaman didengarkan. Anak belajar meminta maaf dari melihat orang dewasa di sekitarnya mau mengakui kesalahan.
Ceramah tentang adab yang disampaikan dengan suara keras dan nada merendahkan justru mengajarkan hal yang berlawanan dengan isinya.
Tanda adab mulai tumbuh
Bagaimana kita tahu adab seorang anak mulai tumbuh?
Bukan dari seberapa rapi ia menghafal doa-doa adab. Tapi dari hal-hal kecil yang gak disuruh. Ia menunggu orang yang lebih tua mulai makan. Ia merendahkan suaranya saat berbicara dengan gurunya. Ia meminta izin sebelum meminjam barang temannya. Ia gak menertawakan temannya yang salah membaca.
Hal-hal ini tampak sepele. Tapi justru dari hal-hal sepele inilah terbentuk wadah yang siap menampung ilmu yang besar.
Penutup
"Adab sebelum ilmu" bukan sekadar urutan dalam kurikulum. Ia adalah pengingat bahwa sebelum bertanya "apa yang harus aku pelajari?", seorang penuntut ilmu harus bertanya lebih dulu: "Sudah siapkah aku menerimanya?"
Dan mungkin pertanyaan itu juga berlaku untuk kita, para orang tua dan pendidik. Kita sibuk menuangkan ilmu ke anak-anak kita. Tapi sudahkah kita memeriksa, apakah gelasnya sudah menghadap ke atas?