Gelas pecah di dapur. Kita datang dan bertanya, "Siapa yang mecahin?"
Anak diam sebentar, lalu menjawab, "Bukan aku. Tadi jatuh sendiri."
Rasanya kesal. Bukan hanya karena gelasnya, tapi karena anak berbohong. Dan kita pun mulai menasihati panjang tentang dosa berbohong.
Nasihat itu benar. Tapi ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: kenapa anak memilih berbohong di detik itu?
Bohong sebagai jalan keluar dari rasa takut
Kalau diperhatikan, sebagian besar kebohongan anak bukan lahir dari niat jahat. Ia lahir dari rasa takut.
Takut dimarahi. Takut dihukum. Takut mengecewakan. Takut dicap nakal.
Dalam kepala anak, perhitungannya sederhana. Kalau mengaku, pasti dimarahi. Kalau berbohong, mungkin selamat. Dengan perhitungan seperti itu, berbohong terlihat seperti pilihan yang masuk akal.
Artinya, kalau kita ingin anak jujur, kita gak cukup hanya melarang bohong. Kita juga perlu mengubah perhitungan di kepalanya.
Rumah yang menghukum kejujuran
Coba jujur kepada diri sendiri. Apa yang biasanya terjadi di rumah kita ketika anak mengaku salah?
Kalau setiap pengakuan disambut dengan bentakan, hukuman, dan ceramah panjang, anak sedang belajar satu pelajaran yang sangat kuat: jujur itu mahal.
Kita gak bermaksud mengajarkan itu. Tapi pelajaran itulah yang ia terima. Dan semakin sering kejujuran dihukum, semakin pandai anak menyembunyikan kesalahan.
Ironisnya, orang tua yang paling keras menghukum kesalahan sering kali adalah orang tua yang paling jarang mendengar kejujuran anaknya.
Allah memerintahkan bersama orang-orang yang jujur
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.
Ayat ini gak hanya memerintahkan menjadi jujur, tapi juga bersama orang-orang yang jujur. Kejujuran dibangun dalam lingkungan.
Ayat ini turun berkaitan dengan kisah tiga sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk. Salah satunya, Ka'ab bin Malik, memilih jujur mengakui bahwa ia gak punya uzur, meskipun konsekuensinya berat. Kisahnya panjang dan diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
Kejujurannya sempat membuat ia dikucilkan selama berpekan-pekan. Tapi akhirnya Allah menerima taubat mereka, dan ayat ini menjadi bagian dari rangkaian ayat tentang peristiwa itu.
Pelajarannya: kejujuran memang kadang mahal di awal. Tapi di sisi Allah, ia gak pernah rugi.
Memisahkan kesalahan dari pengakuannya
Salah satu cara paling efektif menumbuhkan kejujuran anak adalah memisahkan dua hal: kesalahan dan pengakuan atas kesalahan.
Kesalahan tetap punya konsekuensi. Gelas yang pecah tetap harus dibereskan. Mungkin anak perlu ikut mengganti dari uang sakunya.
Tapi pengakuannya harus dihargai. "Terima kasih sudah jujur. Ayah tahu itu gak mudah. Sekarang, ayo kita bereskan bersama."
Dengan begitu, anak belajar bahwa mengaku salah gak membuat keadaan lebih buruk. Justru mengaku membuat masalah lebih cepat selesai. Perhitungan di kepalanya mulai berubah.
Imajinasi bukan kebohongan
Perlu juga dibedakan antara berbohong dan berimajinasi, terutama pada anak yang masih kecil.
Anak usia prasekolah sering bercerita hal-hal yang gak terjadi. Ia bilang melihat gajah di halaman, atau mengaku bisa terbang. Ini bukan kebohongan dalam arti moral. Dunia imajinasi dan dunia nyata di kepalanya belum terpisah dengan tegas.
Menghukum anak seusia ini karena "berbohong" justru bisa membingungkannya. Yang lebih tepat adalah membantunya membedakan pelan-pelan. "Wah, ceritanya seru. Itu beneran terjadi, atau kamu lagi membayangkan?" Pertanyaan ringan seperti ini melatih anak mengenali batas antara cerita dan kenyataan, tanpa membuatnya merasa bersalah.
Kebohongan yang perlu ditangani serius adalah kebohongan yang disengaja untuk menghindari akibat atau mendapatkan sesuatu. Dan itu biasanya mulai muncul ketika anak sudah lebih besar.
Jangan menjebak anak
Ada kebiasaan yang tanpa sadar mendorong anak berbohong: bertanya padahal sudah tahu jawabannya.
Kita melihat sendiri anak memecahkan gelas, lalu bertanya, "Siapa yang mecahin?" Pertanyaan seperti ini sebenarnya jebakan. Kita memberi anak kesempatan untuk berbohong, lalu menghukumnya karena berbohong.
Lebih baik langsung sampaikan apa yang kita lihat. "Ibu lihat gelasnya pecah waktu kamu main di dapur. Ayo kita bersihkan." Gak ada ruang untuk berbohong, dan gak ada kebutuhan untuk berbohong.
Kejujuran orang tua sebagai contoh
Anak juga belajar kejujuran dari apa yang ia lihat.
Kalau anak mendengar orang tuanya berbohong kecil, "Bilang Ayah lagi gak di rumah", "Nanti Ibu belikan" padahal gak berniat membeli, ia sedang belajar bahwa bohong itu hal yang biasa, asal untuk kepentingan tertentu.
Rasulullah ﷺ bersabda agar kita berpegang pada kejujuran, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang terus berlaku jujur sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur (HR. Bukhari dan Muslim).
Perhatikan kata terus. Kejujuran adalah kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit. Dan kebiasaan itu paling mudah dibangun di rumah yang orang dewasanya juga membiasakannya.
Ketika anak sudah terbiasa berbohong
Bagaimana kalau anak sudah terlanjur sering berbohong?
Pertama, jangan buru-buru memberi label. "Dasar pembohong" hanya akan membuat anak menganggap berbohong sebagai bagian dari dirinya.
Kedua, cari polanya. Tentang apa ia paling sering berbohong? Biasanya di situ letak rasa takutnya yang paling besar. Mungkin tentang nilai, mungkin tentang pertemanan, mungkin tentang uang.
Ketiga, bangun ulang kepercayaan pelan-pelan. Beri anak kesempatan untuk jujur dalam hal-hal kecil, dan hargai setiap kali ia melakukannya.
Penutup
Kita sering bertanya, "Bagaimana caranya supaya anak gak berbohong?"
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: "Sudahkah rumah kita menjadi tempat yang cukup aman untuk berkata jujur?"
Karena anak yang merasa aman untuk mengaku salah jarang merasa perlu untuk berbohong.