Anak pulang dan mulai bercerita. "Tadi di kelas, temanku ngejek aku..."
Belum selesai kalimatnya, kita sudah menyela. "Terus kamu balas? Jangan dibalas ya. Kamu harus sabar. Dulu Ayah juga..."
Anak diam. Ceritanya berhenti di tengah jalan. Dan lain kali, mungkin ia memilih gak bercerita sama sekali.
Anak berhenti bercerita karena alasan yang sederhana
Banyak orang tua mengeluh anaknya, terutama yang mulai remaja, jarang bercerita. Mereka merasa ada jarak yang tumbuh dan gak tahu dari mana asalnya.
Salah satu penyebab yang paling sering: setiap kali anak bercerita, ceritanya berakhir dengan ceramah.
Coba bayangkan kalau kita sendiri mengalami itu. Setiap kali kita curhat kepada teman, ia langsung memberi nasihat, mengoreksi, atau membandingkan dengan pengalamannya. Lama-lama, kita akan berhenti curhat kepadanya.
Anak juga begitu. Ia gak selalu butuh solusi. Kadang ia hanya butuh didengarkan sampai selesai.
Allah Maha Mendengar keluhan seorang perempuan
قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ١
Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.
Ayat ini membuka surat yang dinamai Al-Mujādilah, perempuan yang mengajukan gugatan. Ia datang kepada Rasulullah ﷺ mengadukan persoalan rumah tangganya.
Yang menarik, surat ini dibuka bukan dengan hukum, tapi dengan pernyataan bahwa Allah mendengar. Kata "mendengar" diulang dalam satu ayat: Allah telah mendengar ucapannya, Allah mendengar percakapan kalian, Allah Maha Mendengar.
Sebelum ada jawaban, ada pengakuan bahwa keluhan itu didengar. Seakan-akan Al-Qur'an ingin menunjukkan bahwa didengarkan adalah kebutuhan yang mendasar bagi orang yang sedang gelisah.
Mendengar sebelum menjawab
Kalau Allah, dengan seluruh keagungan-Nya, memperhatikan keluhan seorang hamba sampai diabadikan dalam Al-Qur'an, maka kita sebagai orang tua pantas bertanya: seberapa sungguh-sungguh kita mendengarkan anak kita?
Mendengarkan yang sungguh-sungguh punya beberapa ciri. Kita berhenti melakukan hal lain. Kita menatap anak, bukan layar. Kita membiarkan ia selesai bercerita. Kita bertanya untuk memahami, bukan untuk menghakimi.
Pertanyaan seperti "Terus gimana perasaanmu?" atau "Menurutmu kenapa dia begitu?" membuka ruang bagi anak untuk berpikir. Pertanyaan seperti "Kamu pasti yang mulai duluan kan?" menutupnya.
Nasihat di waktu yang tepat
Ini gak berarti orang tua gak boleh menasihati. Nasihat tetap penting. Tapi nasihat punya waktu yang tepat.
Nasihat yang diberikan ketika anak masih emosional sering gak masuk. Anak belum siap mendengarkan karena ia masih merasa belum didengarkan.
Nasihat yang diberikan setelah anak merasa dipahami punya peluang jauh lebih besar untuk diterima. Anak lebih terbuka karena ia merasa orang tuanya ada di pihaknya.
Kadang, setelah didengarkan dengan baik, anak bahkan menemukan jawabannya sendiri. Dan jawaban yang ditemukan sendiri jauh lebih melekat daripada jawaban yang diberikan.
Tanda anak butuh didengarkan
Anak jarang berkata terus terang, "Aku butuh didengarkan." Tapi ada tanda-tandanya.
Ia bercerita tentang hal yang sama berulang kali. Ia mendekat tanpa alasan yang jelas. Ia bertanya hal-hal kecil sambil menunggu reaksi kita. Ia tampak murung tapi berkata "gak apa-apa".
Tanda-tanda ini seperti ketukan kecil di pintu. Kalau kita sering mengabaikannya, lama-lama ketukan itu berhenti.
Mendengarkan juga berarti mendengar yang gak diucapkan
Ada lapisan yang lebih dalam dari mendengarkan kata-kata: mendengarkan apa yang gak diucapkan.
Anak yang berkata, "Aku gak mau sekolah," mungkin sebenarnya sedang berkata, "Aku takut pada seseorang di sekolah." Anak yang berkata, "Aku benci belajar," mungkin sedang berkata, "Aku merasa bodoh dan malu."
Mendengarkan seperti ini butuh kesabaran dan kepekaan. Kita perlu menahan diri untuk gak langsung bereaksi terhadap kata-katanya, lalu mencari tahu perasaan di baliknya.
Ketika cerita anak membuat kita cemas
Ada kalanya yang diceritakan anak membuat kita khawatir. Ia bercerita tentang teman yang merokok, tentang konten yang ia lihat, atau tentang perasaan yang gak kita duga.
Di saat seperti itu, reaksi pertama kita sangat menentukan. Kalau kita langsung panik, marah, atau menginterogasi, anak akan menyimpulkan bahwa bercerita jujur itu berbahaya. Lain kali, ia akan menyaring ceritanya, atau berhenti bercerita sama sekali.
Kalau kita tetap tenang, berterima kasih karena ia mau terbuka, lalu bertanya dengan lembut, anak belajar bahwa orang tuanya adalah tempat yang aman untuk membawa hal-hal yang sulit. Dan itu jauh lebih berharga daripada informasi apa pun yang bisa kita dapat dengan menginterogasi.
Justru karena ceritanya mengkhawatirkan, kita perlu menjaga agar pintu itu tetap terbuka.
Menyediakan waktu yang gak terburu-buru
Percakapan yang bermakna jarang terjadi dalam suasana terburu-buru. Ia lebih sering muncul di saat-saat santai: di perjalanan, sebelum tidur, saat makan bersama tanpa gawai.
Orang tua yang ingin anaknya bercerita perlu menyediakan waktu-waktu seperti itu. Bukan jadwal "sesi curhat" yang kaku, tapi kebersamaan yang cukup longgar sehingga cerita bisa muncul dengan sendirinya.
Bagi anak yang mondok, waktu seperti ini bisa berupa telepon yang gak terburu-buru, atau kunjungan yang gak diisi dengan pertanyaan tentang nilai saja.
Penutup
Anak yang merasa didengarkan akan lebih mudah mendengarkan. Itu hukum yang sederhana, tapi sering kita lupakan.
Jadi lain kali anak mulai bercerita, coba tahan dorongan untuk langsung menasihati. Dengarkan dulu sampai selesai. Tanyakan perasaannya. Biarkan ia merasa bahwa ceritanya penting.
Karena mungkin, itulah yang paling ia butuhkan hari itu: bukan jawaban, tapi telinga.