October 27, 2026 | Parenting

Marah kepada Anak: Menahan Amarah Bukan Berarti Membiarkan

Oleh M Salman Azhar
Marah kepada Anak: Menahan Amarah Bukan Berarti Membiarkan

Sudah dijelaskan tiga kali. Sudah diingatkan dengan baik-baik. Tapi anak tetap mengulang kesalahan yang sama.

Lalu suara kita meninggi. Kata-kata keluar lebih cepat dari pikiran. Mungkin ada kalimat yang kita sesali beberapa menit kemudian.

Kalau Antum pernah mengalami ini, Antum gak sendirian. Hampir semua orang tua pernah. Ana juga.

Pertanyaannya bukan apakah kita pernah marah. Pertanyaannya: apa yang kita lakukan dengan amarah itu?

Marah itu manusiawi, tapi punya harga

Marah adalah emosi yang Allah ciptakan dalam diri manusia. Ia punya fungsi. Ia memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang gak beres.

Tapi amarah yang lepas kendali punya harga yang mahal, terutama ketika sasarannya adalah anak.

Anak yang sering dibentak belajar beberapa hal yang gak kita maksudkan. Ia belajar bahwa orang yang lebih kuat boleh berteriak kepada yang lebih lemah. Ia belajar untuk takut, bukan untuk paham. Dan pelan-pelan, ia belajar untuk menutup diri dari orang tuanya.

Yang lebih mengkhawatirkan, ia juga belajar cara menghadapi masalah: dengan marah. Dan pola itu bisa ia bawa sampai dewasa, kepada pasangannya, kepada anak-anaknya sendiri.

Nasihat yang diulang tiga kali

Ada sebuah hadits yang sangat pendek tapi sangat dalam. Seseorang meminta nasihat kepada Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab, "Jangan marah." Orang itu mengulang permintaannya beberapa kali, dan setiap kali beliau menjawab dengan kalimat yang sama: "Jangan marah" (HR. Bukhari).

Kenapa jawaban itu yang diulang-ulang? Salah satu hikmahnya: amarah adalah pintu dari banyak keburukan. Banyak kezaliman, kata-kata yang menyakitkan, dan keputusan yang disesali lahir dari amarah yang gak terkendali. Menutup pintu itu berarti menutup banyak keburukan sekaligus.

Menahan amarah sebagai sifat orang bertakwa

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

QS. Aal-i-Imraan: 134

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.

Ayat ini adalah bagian dari gambaran orang-orang bertakwa yang dijanjikan surga seluas langit dan bumi.

Perhatikan kata yang dipakai: al-kāzhimīnal ghaizh. Kata kazhm menggambarkan menahan sesuatu yang sudah penuh, seperti menutup rapat wadah yang isinya mendesak keluar. Al-Qur'an gak mengatakan orang bertakwa itu gak pernah marah. Al-Qur'an mengatakan mereka menahan amarahnya. Amarahnya ada, tapi dikendalikan.

Dan setelah menahan, ada tingkat yang lebih tinggi: memaafkan. Lalu yang lebih tinggi lagi: berbuat baik. Tiga tangga yang semakin naik.

Menahan amarah bukan berarti membiarkan

Di sini sering terjadi salah paham. Ada orang tua yang mengira menahan amarah berarti membiarkan anak berbuat semaunya. Takut marah, akhirnya gak menegur sama sekali.

Padahal menahan amarah dan bersikap tegas adalah dua hal yang bisa berjalan bersama.

Tegas berarti aturan tetap berlaku, konsekuensi tetap dijalankan, dan anak tahu bahwa yang ia lakukan itu salah. Menahan amarah berarti semua itu dilakukan dengan tenang, tanpa bentakan, tanpa kata-kata yang merendahkan.

Anak justru lebih mudah menerima ketegasan yang tenang. Ketika orang tua berteriak, perhatian anak tertuju pada teriakannya, bukan pada kesalahannya. Ketika orang tua tenang tapi tegas, anak gak punya pilihan selain memikirkan kesalahannya.

Marah karena apa?

Ada satu teladan yang sangat indah dalam hal ini. Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ gak pernah membalas untuk kepentingan dirinya sendiri, kecuali jika larangan Allah dilanggar, maka beliau marah karena Allah (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau gak marah karena merasa gak dihormati, karena capek, atau karena kepentingan pribadinya terganggu. Kemarahan beliau hanya muncul ketika batas-batas Allah dilanggar.

Coba bandingkan dengan kemarahan kita kepada anak. Berapa banyak yang karena anak melanggar batas Allah, dan berapa banyak yang karena kita merasa terganggu, malu di depan orang lain, atau sekadar lelah? Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk memurnikan arah kemarahan kita.

Langkah kecil di detik-detik genting

Lalu bagaimana menahan amarah di saat yang paling sulit?

Rasulullah ﷺ mengajarkan beberapa hal. Di antaranya, ketika marah, ucapkan ta'awudz: berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga mengajarkan, jika marah dalam keadaan berdiri, hendaklah duduk (HR. Abu Dawud).

Ajaran ini sangat praktis. Mengubah posisi tubuh, mengucapkan dzikir, memberi jeda sebelum bereaksi. Semua itu memberi kesempatan kepada akal untuk kembali memegang kendali.

Dalam konteks rumah, bisa juga dengan cara sederhana: "Ibu lagi kesal. Ibu perlu tenang dulu. Nanti kita bicara." Kalimat ini bukan tanda lemah. Ia justru mengajarkan anak cara yang sehat menghadapi emosi.

Ketika terlanjur marah

Bagaimana kalau amarah sudah terlanjur keluar?

Minta maaf. Ya, minta maaf kepada anak.

Banyak orang tua merasa gengsi meminta maaf kepada anaknya. Takut wibawanya turun. Padahal justru sebaliknya. Orang tua yang berani berkata, "Tadi Ayah membentak kamu. Itu gak baik. Ayah minta maaf," sedang memberi pelajaran yang sangat berharga.

Anak belajar bahwa semua orang bisa salah. Anak belajar bahwa kesalahan harus diakui. Dan anak belajar bahwa hubungan bisa diperbaiki. Pelajaran ini akan ia bawa ketika kelak ia sendiri berbuat salah.

Mencari akar amarah kita

Terakhir, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: kenapa kita begitu mudah marah kepada anak?

Kadang akarnya bukan pada anak. Kita lelah bekerja. Kita sedang punya masalah lain. Kita kurang tidur. Anak hanya menjadi tempat tumpahan dari beban yang sebenarnya datang dari tempat lain.

Mengenali akar ini penting. Karena kalau akarnya kelelahan, solusinya adalah istirahat, bukan menyalahkan anak.

Penutup

Menahan amarah itu berat. Dan Allah tahu itu berat. Karena itulah ia dijadikan salah satu sifat orang yang dijanjikan surga.

Jadi lain kali ketika amarah mulai naik, coba ingat: di detik ini, Antum sedang diberi kesempatan untuk menjadi salah satu dari al-kāzhimīnal ghaizh, orang-orang yang dicintai Allah.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait