Ada jenis lelah yang gak tercatat di daftar hadir mana pun.
Lelahnya seorang ibu yang menjelaskan hal yang sama kepada anaknya untuk kesekian kali. Lelahnya seorang ayah yang pulang kerja lalu masih harus mendampingi anak belajar. Lelahnya seorang guru yang terus membimbing santri yang seakan gak berubah.
Lelah ini gak digaji. Gak ada yang memberi penghargaan. Seringkali gak ada yang tahu. Dan hasilnya pun belum tentu terlihat dalam waktu dekat.
Kalau Antum sedang merasakan lelah seperti ini, surat pendek yang sering kita baca ini mungkin punya pesan khusus untuk Antum.
Surat yang turun di masa sulit
Surat Al-Insyirah turun di Makkah, di masa-masa ketika dakwah Rasulullah ﷺ menghadapi banyak kesulitan. Surat ini dibuka dengan pengingat tentang dada yang dilapangkan dan beban yang diangkat.
Lalu datang dua ayat yang sangat terkenal.
فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا ٦
Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.
"Beserta", bukan "sesudah"
Perhatikan kata yang dipakai: ma'a, beserta. Bukan ba'da, sesudah.
Ini perbedaan yang sangat penting. Kalau kata yang dipakai "sesudah", maka kita harus melewati seluruh kesulitan dulu, baru mendapat kemudahan. Kemudahan adalah hadiah di ujung jalan.
Tapi kata yang dipakai adalah "beserta". Kemudahan itu menyertai kesulitan. Ia ada di dalamnya, berjalan bersamanya, meskipun kita belum menyadarinya.
Bagi orang tua dan pendidik, ini kabar yang menguatkan. Di tengah lelahnya mendidik, ada kemudahan yang sudah menyertai. Mungkin dalam bentuk kesabaran yang ternyata masih ada. Mungkin dalam bentuk senyum anak yang tiba-tiba menghapus lelah. Mungkin dalam bentuk pahala yang terus mengalir tanpa kita sadari.
Diulang dua kali
Ayat ini juga diulang dua kali. Para ahli tafsir menjelaskan hal yang menarik dari pengulangan ini.
Dalam bahasa Arab, kata al-'usr (kesulitan) memakai bentuk yang menunjuk sesuatu yang tertentu, sehingga ketika diulang, ia merujuk pada kesulitan yang sama. Sedangkan kata yusrā (kemudahan) memakai bentuk yang umum, sehingga ketika diulang, ia bisa bermakna kemudahan yang berbeda. Dari sini sebagian ulama menyimpulkan bahwa satu kesulitan disertai lebih dari satu kemudahan.
Terlepas dari rincian bahasanya, pesan besarnya jelas: kesulitan itu gak sendirian. Dan porsi kemudahan yang Allah sediakan lebih besar dari porsi kesulitannya.
Setelah selesai, tetap bekerja
Dua ayat terakhir surat ini memberi arahan yang menarik.
فَإِذَا فَرَغۡتَ فَٱنصَبۡ ٧ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب ٨
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
Ayat ini gak berkata: setelah selesai, istirahatlah selamanya. Ia berkata: setelah selesai dari satu urusan, bersungguh-sungguhlah dalam urusan berikutnya.
Kedengarannya justru menambah beban. Tapi coba lihat ayat terakhirnya: dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.
Inilah kuncinya. Kerja keras yang terus-menerus akan menghancurkan seseorang kalau harapannya digantungkan kepada manusia: kepada terima kasih anak, kepada pengakuan orang lain, kepada hasil yang segera terlihat. Tapi kerja keras yang harapannya digantungkan kepada Allah punya sumber tenaga yang gak pernah habis.
Kenapa kita begitu lelah?
Kalau kita jujur, sebagian dari kelelahan kita dalam mendidik bukan berasal dari pekerjaannya. Tapi dari harapan yang salah alamat.
Kita lelah karena berharap anak segera berubah. Kita lelah karena berharap usaha kita dihargai. Kita lelah karena membandingkan hasil kita dengan hasil orang lain.
Ketika harapan itu gak terpenuhi, lelahnya berlipat ganda. Bukan hanya lelah fisik, tapi juga lelah batin karena merasa sia-sia.
Anak gak berubah dalam sehari, dan memang gak dirancang untuk berubah dalam sehari. Pendidikan itu seperti menanam pohon keras, bukan menanam sayur. Hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian, dan sering kali orang yang menanam gak sempat melihat buahnya.
Ayat terakhir Al-Insyirah mengembalikan harapan ke alamat yang benar. Tugas kita adalah bersungguh-sungguh. Hasilnya milik Allah. Dan Allah gak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya, meskipun hasilnya gak terlihat oleh kita.
Beristirahat bukan kelemahan
Perlu juga diluruskan: ayat ini gak berarti kita gak boleh beristirahat.
Tubuh punya hak. Rasulullah ﷺ sendiri mengingatkan sahabat yang berlebihan dalam ibadah bahwa tubuhnya punya hak atas dirinya (HR. Bukhari). Orang tua dan pendidik yang gak pernah beristirahat justru akan kehabisan tenaga dan kesabaran, lalu mendidik dengan emosi.
Istirahat yang diniatkan untuk kembali bersungguh-sungguh juga bagian dari ibadah. Yang dimaksud ayat ini adalah jangan sampai waktu luang diisi dengan kelalaian, dan jangan sampai harapan dialihkan kepada selain Allah.
Untuk para guru yang merasa gak terlihat
Untuk Antum yang mengajar, mendampingi, dan membimbing anak orang lain, sering kali tanpa ada yang melihat betapa beratnya:
Setiap penjelasan yang Antum ulang, setiap malam Antum terjaga karena memikirkan seorang santri, setiap doa yang Antum panjatkan untuk murid-murid Antum, semuanya tercatat. Mungkin gak tercatat di buku mana pun di dunia. Tapi tercatat di sisi Allah.
Dan catatan itu jauh lebih penting daripada semua penghargaan yang bisa diberikan manusia.
Kadang buahnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Seorang murid yang dulu paling sulit diatur datang berkunjung sebagai orang dewasa yang santun. Seorang anak yang dulu malas mengaji kini menjadi imam di masjid kampungnya. Dan kalaupun buah itu gak pernah Antum saksikan di dunia, ia tetap gak hilang.
Penutup
Lelah dalam mendidik gak bisa dihindari. Tapi lelah itu bisa diarahkan.
Jadi hari ini, ketika lelah itu datang lagi, coba ingat dua hal dari surat pendek ini. Kemudahan sudah menyertai kesulitanmu, bahkan sebelum kamu melihatnya. Dan hanya kepada Tuhanmu, bukan kepada hasil atau pengakuan manusia, engkau menggantungkan harapan.