October 25, 2026 | Parenting

Teladan Mengalahkan Nasihat: Tadabbur Ash-Shaff 2-3

Oleh M Salman Azhar
Teladan Mengalahkan Nasihat: Tadabbur Ash-Shaff 2-3

Ada momen yang mungkin pernah Antum alami.

Kita menasihati anak panjang lebar tentang pentingnya shalat tepat waktu. Lalu azan berkumandang, dan kita masih menatap layar, berkata "sebentar lagi".

Anak gak berkomentar apa-apa. Tapi ia melihat. Dan yang ia lihat itulah yang tersimpan.

Ayat yang sangat keras

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣

QS. As-Saff: 2-3

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Bukan kepada orang kafir atau munafik. Artinya, jarak antara ucapan dan perbuatan adalah penyakit yang bisa menjangkiti siapa saja, termasuk orang yang imannya baik.

Dan perhatikan tingkat kebencian yang disebut: kabura maqtan, sangat besar kebenciannya di sisi Allah. Ungkapan ini sangat keras untuk sesuatu yang mungkin sering kita anggap wajar.

Kenapa jarak ini begitu dibenci?

Coba pikirkan dampaknya.

Ketika seseorang mengatakan hal baik tapi gak melakukannya, ia sedang merusak dua hal sekaligus. Pertama, ia merusak dirinya sendiri, karena terbiasa merasa baik hanya dengan berbicara. Kedua, ia merusak kepercayaan orang lain terhadap kebaikan itu.

Anak yang berulang kali mendengar orang tuanya berbicara tentang kejujuran, tapi melihat orang tuanya berbohong dalam hal kecil, akan menyimpulkan satu hal: kejujuran itu hanya kata-kata. Sesuatu yang diucapkan, bukan dijalankan.

Kesimpulan ini jauh lebih berbahaya daripada kalau anak itu gak pernah mendengar nasihat tentang kejujuran sama sekali.

Al-Qur'an yang berjalan

Ketika Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, beliau menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur'an (HR. Muslim).

Jawaban ini sangat dalam. Para sahabat gak hanya mendengar Al-Qur'an dari lisan Rasulullah ﷺ. Mereka juga melihat Al-Qur'an dalam diri beliau. Cara beliau makan, cara beliau memaafkan, cara beliau memperlakukan anak kecil, cara beliau menghadapi orang yang menyakitinya.

Karena itulah dakwah beliau begitu kuat. Gak ada jarak antara apa yang beliau sampaikan dan apa yang beliau jalani. Orang yang ingin tahu seperti apa ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan nyata cukup melihat beliau.

Kita tentu gak akan pernah mencapai derajat itu. Tapi arahnya jelas. Semakin dekat kehidupan kita dengan apa yang kita ajarkan, semakin kuat pula ajaran itu sampai ke anak-anak kita.

Anak belajar dengan mata lebih dulu

Anak-anak, terutama di usia dini, belajar lebih banyak lewat mata daripada lewat telinga.

Mereka meniru cara orang tuanya berbicara, cara menghadapi masalah, cara bereaksi saat marah, cara memperlakukan orang lain. Semua itu terserap tanpa pernah diajarkan secara resmi.

Ini kabar yang menakutkan sekaligus menggembirakan. Menakutkan, karena semua kekurangan kita berpotensi diwarisi anak. Menggembirakan, karena setiap perbaikan diri yang kita lakukan juga akan ikut terserap.

Nasihat yang kehilangan daya

Ada orang tua yang merasa sudah sangat sering menasihati anaknya, tapi anaknya gak berubah. Mereka lalu menyimpulkan bahwa anaknya keras kepala.

Mungkin memang begitu. Tapi ada kemungkinan lain yang perlu diperiksa: apakah nasihat itu kehilangan daya karena gak ditopang teladan?

Nasihat yang ditopang teladan punya kekuatan yang berlipat. Anak mendengar dan sekaligus melihat. Pesannya konsisten.

Nasihat yang gak ditopang teladan justru mengirim dua pesan yang bertentangan. Dan ketika anak menerima dua pesan yang bertentangan, ia hampir selalu memilih mengikuti yang dilihat.

Apakah harus sempurna dulu baru boleh menasihati?

Di sini sering muncul keberatan. "Kalau harus sempurna dulu, lalu siapa yang boleh menasihati? Semua orang punya kekurangan."

Keberatan ini masuk akal. Dan para ulama memang menjelaskan bahwa kewajiban menyeru kepada kebaikan gak gugur hanya karena seseorang belum sempurna mengamalkannya. Orang yang belum sempurna tetap boleh, bahkan tetap wajib, mengajak kepada kebaikan.

Yang dicela dalam ayat ini adalah sikap tidak berusaha menyelaraskan ucapan dengan perbuatan. Merasa cukup dengan berbicara, tanpa ada upaya untuk menjalankan.

Jadi pertanyaannya bukan "apakah saya sudah sempurna?", tapi "apakah saya sedang berusaha menjalankan apa yang saya katakan?"

Kejujuran tentang kekurangan

Lalu bagaimana kalau anak melihat kita gak konsisten?

Salah satu hal paling mendidik yang bisa dilakukan orang tua adalah mengakuinya. "Kamu benar, tadi Ayah menunda shalat. Itu gak baik. Ayah mau memperbaikinya. Kita saling mengingatkan, ya."

Pengakuan seperti ini gak menurunkan wibawa orang tua. Justru sebaliknya. Anak belajar bahwa orang dewasa pun bisa salah, dan bahwa cara yang benar menghadapi kesalahan adalah mengakui dan memperbaikinya, bukan membela diri.

Pelajaran ini mungkin lebih berharga daripada seribu nasihat tentang kejujuran.

Lebih sedikit bicara, lebih banyak menunjukkan

Mungkin sudah waktunya kita mengubah proporsi. Lebih sedikit nasihat verbal, lebih banyak contoh nyata.

Daripada menyuruh anak membaca Al-Qur'an, biarkan ia sering melihat kita membacanya. Daripada ceramah tentang sedekah, ajak ia ikut mengantar sedekah. Daripada menyuruh anak meminta maaf, biarkan ia melihat kita meminta maaf kepada pasangan atau kepada dirinya sendiri ketika kita salah.

Contoh-contoh ini gak butuh banyak kata. Tapi pesannya tertanam jauh lebih dalam.

Penutup

Ayat ini mengajak kita memeriksa jarak antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan. Setiap orang punya jarak itu. Yang membedakan adalah apakah kita sedang berusaha memperpendeknya.

Jadi sebelum menasihati anak hari ini, coba tanyakan kepada diri sendiri: kalau anak Ana hanya belajar dari apa yang Ana lakukan, bukan dari apa yang Ana katakan, pelajaran apa yang sedang ia terima?

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait