October 29, 2026 | Parenting

Remaja dan Kebutuhan untuk Dianggap: Pelajaran dari Ashabul Kahfi

Oleh M Salman Azhar
Remaja dan Kebutuhan untuk Dianggap: Pelajaran dari Ashabul Kahfi

Ada masa ketika anak yang dulu selalu menempel mulai menjaga jarak. Ia lebih banyak di kamar. Lebih sering bersama teman. Lebih cepat tersinggung ketika dinasihati.

Banyak orang tua bingung menghadapi fase ini. Anak yang dulu penurut tiba-tiba punya pendapat sendiri, dan pendapatnya sering berbeda.

Fase ini sering disebut masa sulit. Tapi mungkin ada cara lain melihatnya.

Remaja sedang mencari tempat

Salah satu kebutuhan terbesar remaja adalah dianggap. Mereka ingin pendapatnya didengar. Mereka ingin dipercaya. Mereka ingin punya peran.

Ini bukan kenakalan. Ini tanda bahwa mereka sedang tumbuh menjadi dewasa. Mereka sedang belajar menjadi individu yang punya pikiran, pilihan, dan tanggung jawab sendiri.

Masalahnya, kalau kebutuhan untuk dianggap ini gak dipenuhi di rumah, remaja akan mencarinya di tempat lain. Di kelompok pertemanan yang memberinya pengakuan. Di media sosial yang memberinya perhatian. Dan tempat-tempat itu gak selalu membawanya ke arah yang baik.

Pemuda-pemuda yang beriman

Al-Qur'an punya kisah yang sangat relevan dengan fase ini: kisah Ashabul Kahfi.

نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ إِنَّهُمۡ فِتۡيَةٌ ءَامَنُواْ بِرَبِّهِمۡ وَزِدۡنَٰهُمۡ هُدٗى ١٣

QS. Al-Kahf: 13

Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.

Perhatikan kata yang dipakai: fityah, pemuda-pemuda. Al-Qur'an secara khusus menyebut usia mereka. Mereka bukan orang tua yang sudah mapan. Mereka adalah anak-anak muda.

Dan mereka adalah pemuda yang punya keyakinan kuat. Di tengah masyarakat yang menyimpang, mereka berani berdiri dengan iman mereka. Mereka mengambil keputusan besar dan menanggung risikonya.

Keberanian yang khas anak muda

Kisah Ashabul Kahfi menunjukkan sesuatu yang sering kita lupakan: masa muda adalah masa keberanian.

Energi yang kadang membuat remaja membantah orang tuanya adalah energi yang sama yang bisa membuat mereka berani membela kebenaran. Keinginan untuk berbeda dari orang lain bisa menjadi keberanian untuk tetap lurus ketika semua orang menyimpang.

Energi ini gak perlu dipadamkan. Ia perlu diarahkan.

Dan perhatikan juga kalimat terakhir ayat itu: Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Ketika pemuda-pemuda itu mengambil langkah pertama dengan iman mereka, Allah menambahkan petunjuk. Keberanian mereka dibalas dengan bimbingan.

Dari mengatur menjadi membimbing

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memperlakukan remaja seperti anak kecil. Semua diatur, semua ditentukan, semua diawasi.

Pola ini mungkin efektif ketika anak berusia lima tahun. Tapi pada remaja, pola ini sering memicu perlawanan. Remaja merasa gak dipercaya, gak dianggap mampu, gak dihargai sebagai individu.

Pergeseran yang perlu terjadi adalah dari mengatur menjadi membimbing. Orang tua gak lagi menentukan setiap detail, tapi menetapkan batas-batas pokok dan memberi ruang di dalamnya. Remaja diajak berdiskusi, diberi pilihan, dan dilatih menanggung akibat pilihannya.

Memberi peran yang nyata

Cara paling efektif memenuhi kebutuhan remaja untuk dianggap adalah memberi mereka peran yang nyata.

Bukan pujian kosong, tapi tanggung jawab yang sungguhan. Mengurus adiknya dalam hal tertentu. Mengatur sebagian keuangan keluarga yang kecil. Memimpin shalat berjamaah di rumah. Terlibat dalam keputusan keluarga yang menyangkut dirinya.

Peran seperti ini mengirim pesan yang kuat: "Kami percaya kepadamu. Kamu penting di keluarga ini."

Di lingkungan pesantren, peran seperti ini bisa datang lewat organisasi santri, di mana santri belajar mengelola kegiatan dan memimpin teman-temannya di bawah arahan para ustadz. Remaja yang diberi amanah seperti itu biasanya tumbuh lebih cepat daripada yang hanya diberi perintah.

Teman sebaya yang tepat

Remaja sangat dipengaruhi teman sebayanya. Ini gak bisa dihindari, dan gak perlu dilawan secara frontal.

Yang bisa dilakukan orang tua adalah membantu remaja berada di lingkungan pertemanan yang baik. Ashabul Kahfi adalah sekelompok pemuda yang saling menguatkan dalam iman. Mereka gak sendirian.

Lingkungan pertemanan yang baik bisa menjadi kekuatan yang luar biasa bagi remaja. Ketika teman-temannya sama-sama berusaha menjadi baik, tekanan sebaya justru mendorongnya ke arah kebaikan.

Ketika remaja mulai mempertanyakan

Di usia ini, remaja juga mulai mempertanyakan banyak hal, termasuk agama. "Kenapa harus shalat? Kenapa aturannya begini?"

Pertanyaan seperti ini sering membuat orang tua cemas, bahkan tersinggung. Tapi pertanyaan bukanlah penolakan. Pertanyaan adalah tanda bahwa remaja sedang berusaha memahami, bukan sekadar menerima.

Ashabul Kahfi sendiri sampai pada iman mereka lewat perenungan. Mereka melihat kaumnya menyembah selain Allah, lalu bertanya: atas dasar apa? Iman yang lahir dari perenungan seperti itu justru lebih kokoh.

Jadi ketika remaja bertanya, sambutlah. Ajak ia mencari jawaban bersama. Kalau kita gak tahu jawabannya, akui, lalu cari tahu bersama dari sumber yang terpercaya. Remaja yang pertanyaannya disambut akan terus bertanya kepada orang tuanya, bukan kepada sembarang orang di internet.

Tetap hadir meskipun dijauhi

Remaja kadang menjauh dari orang tuanya. Dan itu bisa terasa menyakitkan.

Tapi menjauh bukan berarti gak butuh. Remaja tetap butuh orang tuanya, meskipun cara mereka menunjukkannya berbeda. Mereka butuh tahu bahwa orang tuanya ada, siap mendengarkan kapan pun mereka mau bercerita, dan gak akan berhenti mencintai meskipun mereka berbuat salah.

Kehadiran seperti ini gak selalu butuh banyak kata. Kadang cukup dengan duduk di dekatnya, menawarkan makanan kesukaannya, atau mengantarnya ke suatu tempat tanpa banyak bertanya.

Penutup

Remaja bukan masalah yang perlu diatasi. Mereka adalah potensi yang perlu diarahkan.

Ashabul Kahfi menunjukkan bahwa anak muda bisa menjadi pembawa iman yang paling berani. Tugas kita sebagai orang tua bukan memadamkan api mereka, tapi memastikan api itu menyala ke arah yang benar.

Jadi, peran apa yang sudah kita berikan kepada anak remaja kita hari ini?

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait