"Ustadz, kalau anak saya mondok, nanti lulusannya bisa kerja apa?"
Ana sering mendengar pertanyaan ini. Dan Ana gak pernah menganggapnya pertanyaan yang salah. Orang tua wajar memikirkan masa depan anaknya, termasuk masa depan ekonominya. Mencari nafkah yang halal adalah kewajiban, dan mempersiapkan anak untuk itu adalah bagian dari tanggung jawab.
Tapi ada kalanya pertanyaan ini menyimpan sesuatu di baliknya. Sebuah cara pandang yang, kalau gak diperiksa, pelan-pelan menggeser tujuan pendidikan.
Ketika ekonomi menjadi satu-satunya ukuran
Coba perhatikan urutan pertanyaan yang sering kita ajukan ketika memilih sekolah. Lulusannya ke mana? Kerjanya apa? Gajinya berapa?
Pertanyaan-pertanyaan ini sah. Masalahnya muncul kalau hanya itu yang ditanyakan. Kalau pendidikan dinilai semata-mata dari kemampuannya menghasilkan uang, maka kita sedang memakai cara pandang yang dalam istilah filsafat disebut materialisme: anggapan bahwa yang paling nyata dan paling bernilai adalah yang bisa diukur secara materi.
Dalam cara pandang ini, ilmu agama dianggap kurang berguna karena gak langsung menghasilkan uang. Adab dianggap pelengkap. Hafalan Al-Qur'an dianggap prestasi sampingan. Yang utama adalah keterampilan yang laku di pasar kerja.
Ayat yang menyandingkan shalat dan rezeki
Al-Qur'an punya satu ayat yang sangat relevan dengan kegelisahan ini.
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ ١٣٢
Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.
Perhatikan susunan ayat ini. Perintahnya adalah mendidik keluarga untuk shalat dan bersabar dalam menjaganya. Lalu langsung disusul dengan penegasan: Kami gak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.
Seakan Allah sedang menjawab kekhawatiran yang muncul di hati orang tua: "Kalau aku terlalu fokus mendidik anak shalat, bagaimana dengan rezekinya?"
Jawabannya: rezeki itu urusan Allah. Tugas orang tua adalah mendidik keluarganya menjadi hamba yang taat. Dan akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa.
Bukan berarti gak perlu berusaha
Ayat ini gak berarti anak gak perlu dibekali keterampilan hidup. Islam gak mengajarkan kepasrahan tanpa usaha. Para nabi bekerja. Para sahabat berdagang, bertani, dan menekuni berbagai keahlian.
Yang diluruskan ayat ini adalah urutan dan porsi. Mendidik anak menjadi hamba Allah adalah fondasi. Keterampilan mencari nafkah dibangun di atas fondasi itu, bukan menggantikannya.
Kalau urutannya terbalik, anak bisa sangat terampil mencari uang tapi gak punya pegangan tentang bagaimana mencarinya dengan halal, bagaimana membelanjakannya, dan untuk apa semua itu.
Rezeki bukan hanya uang
Ada satu hal lagi yang perlu diperluas: makna rezeki itu sendiri.
Dalam cara pandang materialis, rezeki identik dengan uang. Tapi dalam Al-Qur'an, rezeki jauh lebih luas. Kesehatan adalah rezeki. Keluarga yang harmonis adalah rezeki. Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki. Hati yang tenang adalah rezeki. Anak yang saleh adalah rezeki.
Orang yang penghasilannya besar tapi hatinya gak pernah tenang, keluarganya berantakan, dan anak-anaknya jauh dari agama, apakah ia benar-benar kaya rezeki?
Sebaliknya, orang yang penghasilannya cukup tapi hidupnya penuh keberkahan, apakah ia miskin?
Kecemasan yang ikut terwariskan
Ada satu hal yang jarang disadari: kecemasan orang tua tentang uang sering terwariskan kepada anak, bahkan tanpa diucapkan.
Anak yang setiap hari mendengar orang tuanya membicarakan harga, gaji, dan ketakutan akan kekurangan akan menyimpulkan bahwa hal terpenting dalam hidup adalah aman secara ekonomi. Ia akan memilih jurusan, pekerjaan, bahkan pasangan hidup dengan satu pertimbangan utama itu.
Sebaliknya, anak yang melihat orang tuanya tetap tenang menjaga shalat di tengah kesempitan, tetap bersedekah meskipun gak berlebih, dan tetap jujur meskipun ada kesempatan curang, sedang menerima pelajaran tentang tawakal yang gak bisa diajarkan lewat ceramah.
Cara kita memandang rezeki adalah kurikulum tersembunyi yang dipelajari anak setiap hari di rumah.
Apa yang sebenarnya dibekali pondok?
Lalu, kalau ditanya lulusan pondok nanti kerja apa, jawaban yang jujur adalah: pondok gak menjanjikan pekerjaan tertentu. Tapi pondok berusaha membekali sesuatu yang dibutuhkan di pekerjaan apa pun.
Kemandirian mengurus diri sendiri. Disiplin waktu yang terbentuk dari jadwal harian. Kemampuan hidup bersama orang yang berbeda karakter. Keberanian berbicara di depan orang banyak. Kebiasaan menuntaskan pekerjaan. Dan yang paling penting, pegangan nilai tentang halal dan haram, amanah dan khianat.
Bekal-bekal ini gak tertulis di ijazah. Tapi justru bekal seperti inilah yang sering menentukan apakah seseorang bisa dipercaya dalam pekerjaannya.
Pertanyaan yang lebih lengkap
Jadi, silakan tetap bertanya "nanti kerja apa?". Itu pertanyaan yang wajar.
Tapi coba lengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Nanti anak saya menjadi orang seperti apa? Ia akan mencari rezeki dengan cara apa? Ia akan membelanjakannya untuk apa? Ketika ia punya keluarga sendiri, apa yang akan ia wariskan kepada anak-anaknya?
Pertanyaan-pertanyaan ini menempatkan ekonomi di posisi yang tepat: penting, tapi bukan satu-satunya.
Penutup
Kekhawatiran tentang rezeki anak adalah kekhawatiran yang wajar. Tapi Allah sudah memberi jaminan dalam ayat tadi: Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.
Yang gak dijamin adalah apakah anak kita akan tumbuh menjadi hamba yang bertakwa. Itu yang menjadi tugas kita.
Jadi mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan "nanti kerjanya apa?", tapi "sudahkah kita mengerjakan bagian yang memang menjadi tugas kita, dan menyerahkan bagian yang menjadi urusan Allah kepada-Nya?"