Coba ingat nasihat-nasihat yang paling sering kita ucapkan kepada anak.
"Jangan ribut." "Rapikan kamarmu." "Salim dulu sama tamu." "Jangan main HP terus."
Semua nasihat itu baik. Tapi kalau diperhatikan, hampir semuanya berada di level perilaku. Tata tertib. Apa yang boleh dan apa yang gak boleh.
Al-Qur'an mengabadikan nasihat seorang ayah kepada anaknya dalam surat yang dinamai dengan namanya: Luqman. Dan menariknya, urutan nasihat Luqman hampir terbalik dari urutan yang biasa kita pakai.
Pelajaran pertama: siapa Tuhanmu
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."
Nasihat pertama Luqman bukan soal sopan santun. Bukan soal kebersihan. Bukan soal belajar yang rajin.
Nasihat pertamanya adalah tauhid. Siapa yang disembah. Kepada siapa hidup ini diarahkan.
Kenapa dimulai dari sana? Karena semua perilaku lahir dari sebuah pusat. Kalau pusatnya benar, perilaku punya alasan untuk menjadi baik. Kalau pusatnya salah atau kosong, perilaku baik hanya akan bertahan selama ada yang memaksa.
Anak yang rapi karena takut dimarahi akan berhenti rapi ketika orang tuanya gak ada. Anak yang rapi karena merasa sedang menjaga amanah dari Allah punya alasan yang gak pernah pergi.
Panggilan yang lembut
Sebelum masuk ke isi, perhatikan dulu cara Luqman memanggil anaknya: yā bunayya.
Dalam bahasa Arab, kata ini adalah bentuk kecil dari kata "anak", bentuk yang dipakai untuk menunjukkan kasih sayang. Terjemahan paling dekatnya mungkin "wahai anakku sayang" atau "wahai anakku yang kucinta".
Luqman sedang menyampaikan pelajaran paling berat, tentang dosa paling besar. Tapi ia membukanya dengan panggilan yang paling lembut.
Ada pelajaran di sini untuk kita. Seberat apa pun isi nasihat, pintunya tetap kasih sayang. Anak yang merasa dicintai akan membuka telinganya. Anak yang merasa dimarahi akan menutupnya, bahkan sebelum isi nasihat sampai.
Pelajaran kedua: Allah melihat yang sekecil biji sawi
Setelah tauhid, Luqman gak langsung masuk ke daftar aturan. Ia masuk ke kesadaran.
يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ١٦
(Luqman berkata), "Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti."
Perhatikan betapa detailnya gambaran ini. Biji sawi, sesuatu yang sangat kecil. Lalu disembunyikan di dalam batu, atau di langit, atau di bumi. Tempat-tempat yang mustahil dijangkau manusia.
Luqman sedang menanamkan sesuatu yang lebih kuat dari aturan: kesadaran bahwa gak ada yang tersembunyi dari Allah. Ini yang kemudian dikenal sebagai muraqabah.
Kalau kesadaran ini sudah tertanam, aturan-aturan berikutnya gak perlu diawasi terus-menerus. Anak akan mengawasi dirinya sendiri.
Pelajaran ketiga: ibadah dan keberanian moral
Baru setelah tauhid dan muraqabah, Luqman masuk ke amal. Ia menyuruh anaknya mendirikan shalat, menyuruh yang ma'ruf, mencegah yang mungkar, dan bersabar atas apa yang menimpanya (QS. Luqman: 17).
Perhatikan kombinasinya. Shalat, yang menghubungkan anak dengan Allah. Amar ma'ruf nahi munkar, yang membuat anak berani bersikap di tengah masyarakat. Dan sabar, yang menyiapkan anak menghadapi akibat dari keberanian itu.
Luqman gak sedang mendidik anak yang sekadar saleh untuk dirinya sendiri. Ia sedang mendidik anak yang punya keberanian moral, dan siap menanggung konsekuensinya.
Pelajaran keempat: baru adab sosial
Setelah semua itu, barulah Luqman masuk ke hal-hal yang biasanya justru kita ajarkan paling awal: adab bergaul.
Jangan memalingkan muka dari manusia karena sombong. Jangan berjalan di bumi dengan angkuh (QS. Luqman: 18).
وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ١٩
Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Cara berjalan. Volume suara. Hal-hal yang sangat konkret dan sehari-hari.
Tapi karena datang setelah tauhid dan muraqabah, adab ini punya akar. Anak gak merendahkan suaranya karena takut ditegur, tapi karena ia sadar bahwa kesombongan itu tercela di hadapan Allah.
Urutan yang sering kita balik
Kalau kita rangkum, urutan Luqman kira-kira begini: tauhid, lalu kesadaran diawasi Allah, lalu ibadah dan keberanian moral, lalu adab sosial.
Sekarang bandingkan dengan urutan yang sering kita pakai di rumah: adab sosial dulu (salim, sopan, jangan ribut), lalu ibadah (ayo shalat), dan tauhid sering hanya muncul sebagai hafalan di buku pelajaran agama.
Kita memulai dari ujung, dari bagian yang paling terlihat. Luqman memulai dari akar, dari bagian yang gak terlihat tapi menopang semuanya.
Akibatnya, anak-anak kita bisa sangat sopan di depan tamu, tapi gak punya alasan kuat untuk tetap baik ketika sendirian.
Bagaimana menerapkannya di rumah
Ini gak berarti kita berhenti mengajarkan sopan santun sampai anak paham tauhid secara sempurna. Anak kecil tetap perlu dibiasakan salim dan berkata baik.
Tapi setiap kali mengajarkan adab, kita bisa mengaitkannya ke akarnya. Bukan hanya "jangan bohong, nanti Ibu marah", tapi "jangan bohong, karena Allah Maha Melihat, dan orang yang jujur itu dicintai Allah". Bukan hanya "shalat, nanti dimarahi Ayah", tapi "shalat, karena itu waktu kita bertemu dengan Allah yang menciptakan kita".
Pelan-pelan, anak belajar bahwa semua aturan di rumah punya satu pusat. Dan pusat itu bukan orang tuanya, melainkan Allah.
Penutup
Nasihat Luqman diabadikan dalam Al-Qur'an bukan hanya supaya kita tahu apa yang ia katakan. Tapi supaya kita belajar urutannya.
Jadi pertanyaan untuk kita hari ini: dari semua nasihat yang kita ucapkan kepada anak minggu ini, berapa yang menyentuh tata tertib, dan berapa yang menyentuh akarnya?