Anak-anak kita tumbuh di zaman yang sering mengulang satu kalimat: "Benar dan salah itu relatif. Setiap orang punya versinya masing-masing."
Kalimat ini terdengar rendah hati. Seakan-akan orang yang mengucapkannya sedang menghormati perbedaan dan menghindari sikap menghakimi.
Tapi mari kita periksa premis di balik kalimat ini dengan tenang. Bukan untuk menyerang orang yang mengucapkannya, tapi untuk melihat apakah kalimat itu bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
Menguji premisnya
Premisnya kira-kira begini: gak ada benar dan salah yang berlaku untuk semua orang. Setiap orang menentukan sendiri apa yang benar baginya.
Sekarang, coba ajukan satu pertanyaan: apakah pernyataan "semua kebenaran itu relatif" berlaku untuk semua orang?
Kalau jawabannya ya, maka ada setidaknya satu kebenaran yang gak relatif, yaitu pernyataan itu sendiri. Premisnya langsung runtuh.
Kalau jawabannya gak, maka pernyataan itu hanya benar menurut versi orang yang mengucapkannya, dan kita gak punya kewajiban apa pun untuk menerimanya.
Dalam dua kemungkinan itu, relativisme moral gak bisa dipertahankan secara konsisten.
Konsekuensi yang gak siap diterima
Ada cara lain untuk menguji sebuah premis: ikuti konsekuensinya sampai ujung.
Kalau benar dan salah itu relatif, maka kita gak punya dasar untuk mengatakan bahwa perundungan terhadap anak itu salah. Pelakunya bisa berkata, "Menurut versiku, itu gak salah." Kita gak punya dasar untuk mengatakan bahwa korupsi itu salah, bahwa kebohongan yang merugikan orang lain itu salah, bahwa kezaliman itu salah.
Hampir gak ada orang yang benar-benar siap menerima konsekuensi ini. Ketika dirinya sendiri dizalimi, orang yang paling relativis pun akan berteriak, "Itu gak adil!" Dan teriakan itu menunjukkan bahwa di dalam dirinya, ia sebenarnya meyakini ada ukuran keadilan yang berlaku untuk semua orang.
Fitrah yang sudah mengenal baik dan buruk
Al-Qur'an menjelaskan dari mana keyakinan itu berasal.
وَنَفۡسٖ وَمَا سَوَّىٰهَا ٧ فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠
Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.
Menurut ayat ini, setiap jiwa sudah diilhami kemampuan untuk mengenali mana jalan kejahatan dan mana jalan ketakwaan. Pengetahuan moral bukan sesuatu yang sepenuhnya diciptakan oleh masyarakat atau individu. Ia sudah tertanam dalam fitrah.
Inilah kenapa anak kecil, tanpa pernah diajari teori etika apa pun, sudah bisa merasakan ketidakadilan ketika mainannya direbut. Inilah kenapa manusia di berbagai budaya yang berbeda sama-sama memandang pengkhianatan sebagai sesuatu yang buruk.
Fitrah itu bisa dibersihkan atau dikotori. Tapi ia gak bisa dihapus sepenuhnya.
Hati kecil sebagai saksi
Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan ukuran yang sangat dekat dengan fitrah ini. Beliau bersabda bahwa kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan dadamu dan kamu gak suka orang lain mengetahuinya (HR. Muslim).
Perhatikan ukuran kedua itu: sesuatu yang kita gak ingin orang lain tahu. Ini ujian yang sangat jujur. Orang yang mengatakan "semua benar menurut versinya" pun biasanya tetap menyembunyikan perbuatan tertentu. Kenapa disembunyikan, kalau memang gak ada yang salah?
Rasa gelisah dan keinginan menyembunyikan itu adalah suara fitrah. Ia bisa dibungkam, bisa dibiasakan untuk diam. Tapi ia jarang benar-benar hilang. Dan mendidik anak berarti menjaga agar suara itu tetap terdengar jernih.
Membedakan toleransi dan relativisme
Di sini perlu diluruskan satu kekeliruan yang sering muncul. Banyak orang mengira bahwa menolak relativisme berarti menjadi gak toleran.
Padahal keduanya berbeda. Toleransi adalah sikap menghormati orang lain yang berbeda pendapat, gak memaksakan, dan tetap berlaku adil kepadanya. Relativisme adalah klaim bahwa gak ada pendapat yang lebih benar dari yang lain.
Seseorang bisa sangat yakin bahwa sesuatu itu benar, sekaligus tetap menghormati orang yang berbeda dengannya. Bahkan, toleransi hanya bermakna kalau ada keyakinan. Kita gak perlu "menoleransi" sesuatu yang kita anggap sama benarnya.
Islam sendiri mengajarkan keadilan kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang berbeda keyakinan. Tapi keadilan itu justru lahir dari keyakinan yang kuat bahwa keadilan adalah kebenaran yang berlaku untuk semua.
Ketika anak mulai bertanya
Anak remaja sering pulang dengan membawa kalimat-kalimat seperti ini. "Kenapa kita harus pakai aturan agama? Itu kan cuma satu versi kebenaran."
Reaksi yang paling gak membantu adalah marah atau langsung mencapnya. Anak yang bertanya sedang berpikir, dan berpikir itu baik.
Yang lebih membantu adalah mengajaknya menguji premis itu bersama-sama, seperti yang kita lakukan di atas. Tanyakan: "Kalau semua kebenaran relatif, apakah kalimat itu sendiri relatif?" Tanyakan: "Kalau ada temanmu dirundung, apakah kamu akan bilang itu benar menurut versi perundungnya?"
Pertanyaan-pertanyaan ini gak memaksa. Tapi ia mengajak anak melihat bahwa keyakinan moralnya sudah ada di dalam dirinya, dan bahwa agama datang untuk menjaga dan menyempurnakan fitrah itu.
Mengikuti mayoritas bukan ukuran kebenaran
Relativisme moral sering bersembunyi di balik ukuran lain: "Semua orang juga begitu."
Al-Qur'an memberi peringatan tentang hal ini. Mengikuti kebanyakan orang di bumi bisa menyesatkan dari jalan Allah, karena yang mereka ikuti hanyalah persangkaan (QS. Al-An'am: 116).
Banyaknya pengikut gak menjadikan sesuatu benar. Dan sedikitnya pengikut gak menjadikan sesuatu salah. Ukurannya adalah kebenaran itu sendiri.
Penutup
"Semua benar menurut versinya" adalah kalimat yang terdengar damai. Tapi ketika diuji, ia gak bisa berdiri di atas kakinya sendiri, dan konsekuensinya gak siap diterima bahkan oleh orang yang mengucapkannya.
Tugas kita bukan membuat anak takut berpikir. Tugas kita adalah mengajarinya berpikir sampai tuntas, sampai ia menemukan bahwa fitrah di dalam dirinya sudah lama mengenal jalan yang benar.