September 27, 2026 | Parenting

Anak Betah atau Anak Tumbuh? Pertanyaan yang Keliru Saat Memilih Pesantren

Oleh M Salman Azhar
Anak Betah atau Anak Tumbuh? Pertanyaan yang Keliru Saat Memilih Pesantren

Hampir setiap kali ada orang tua datang survei pondok, pertanyaan pertama yang keluar mirip-mirip.

"Ustadz, kira-kira anak saya betah gak di sini?"

Pertanyaannya wajar. Ana juga orang tua. Gak ada ayah atau ibu yang tega membayangkan anaknya menangis di kamar asrama jam sembilan malam, sendirian, kangen rumah.

Tapi coba kita berhenti sebentar. Pertanyaan itu menyimpan satu asumsi yang jarang diperiksa: bahwa pondok yang baik adalah pondok yang membuat anak betah.

Benarkah begitu?

Betah dan tumbuh itu dua ukuran yang berbeda

Betah itu ukuran rasa nyaman. Anak betah kalau makanannya cocok, kamarnya enak, temannya asyik, dan jadwalnya gak terlalu padat.

Tumbuh itu ukuran perubahan. Anak tumbuh kalau hari ini dia bisa melakukan sesuatu yang kemarin belum bisa. Bangun sebelum Subuh tanpa dibangunkan. Menyetor hafalan yang tadi pagi masih berantakan. Meminta maaf duluan ke temannya.

Masalahnya, dua ukuran ini sering gak searah. Justru di fase paling cepat tumbuh, anak biasanya paling gak betah. Karena tumbuh selalu berarti keluar dari kebiasaan lama, dan keluar dari kebiasaan lama itu rasanya gak enak.

Otot juga begitu. Otot gak membesar saat kita rebahan. Otot membesar setelah dipaksa mengangkat beban yang sedikit di atas kemampuannya, lalu diberi waktu untuk pulih.

Kalau yang dikejar cuma betah, apa konsekuensinya?

Mari kita ikuti logikanya sampai ujung.

Premis pertama: pondok ingin santrinya betah.

Premis kedua: cara paling cepat membuat anak betah adalah mengurangi hal yang membuatnya gak nyaman.

Kesimpulannya: pondok akan pelan-pelan mengurangi hafalan, melonggarkan jadwal, dan menurunkan standar adab, karena semua itu memang bikin gak nyaman.

Hasil akhirnya? Anak yang sangat betah, tapi gak berubah apa-apa. Tiga tahun di pondok rasanya seperti tiga tahun di kos-kosan yang ada pengajiannya.

Ana gak sedang bilang kenyamanan itu buruk. Anak yang tertekan terus-menerus juga gak akan tumbuh. Tapi kenyamanan itu sarana, bukan tujuan. Begitu ia naik pangkat jadi tujuan, pendidikan kehilangan arah.

Al-Qur'an gak pernah menjanjikan iman tanpa ujian

Menariknya, Al-Qur'an justru membongkar asumsi "yang penting nyaman" ini dari sisi yang lebih dalam.

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢

QS. Al-Ankaboot: 2

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," sedang mereka tidak diuji?

Perhatikan struktur kalimatnya. Allah gak sedang bertanya "apakah kalian siap diuji?". Allah bertanya: kalian mengira akan dibiarkan? Yang diserang adalah sebuah perkiraan, sebuah asumsi di kepala manusia.

Artinya, akar masalahnya bukan pada ujian itu sendiri. Akar masalahnya adalah ekspektasi keliru bahwa hidup yang baik itu hidup tanpa gesekan.

Kalau iman orang dewasa saja butuh ujian untuk terbukti, masuk akal kalau karakter seorang anak juga butuh gesekan untuk terbentuk.

Lalu, rindu rumah itu tanda apa?

Di sinilah banyak orang tua salah membaca tanda.

Anak menelepon sambil menangis, bilang gak kuat, minta dijemput. Orang tua langsung menyimpulkan: pondoknya gak cocok.

Padahal bisa jadi yang terjadi justru sebaliknya. Anak sedang berada di titik paling berat dari sebuah perubahan besar: pertama kali tidur jauh dari orang tua, pertama kali mengurus baju sendiri, pertama kali gak bisa lari ke kamar dan menutup pintu saat kesal.

Rindu rumah itu bukan bukti ada yang salah. Rindu rumah itu bukti ada yang sedang berubah.

Tentu ada pengecualian. Kalau anak mengalami perundungan, sakit yang gak tertangani, atau lingkungan yang merusak adabnya, itu masalah serius yang harus dibereskan. Tapi "gak betah" saja belum cukup menjadi alasan.

Pertanyaan yang lebih tepat untuk diajukan

Kalau "betah gak?" bukan pertanyaan terbaik, lalu apa?

Coba ganti dengan pertanyaan-pertanyaan ini saat survei pondok. Siapa yang mendampingi anak ketika dia sedang di titik terendahnya? Apakah ada guru yang benar-benar mengenal anak, bukan cuma mengenal nomor induknya? Bagaimana pondok membedakan antara anak yang malas dan anak yang sedang kelelahan? Apa yang diukur dari perkembangan anak selain jumlah hafalan?

Pertanyaan seperti ini menggeser fokus dari perasaan anak hari ini ke arah anak lima tahun lagi. Dan itulah yang sebenarnya sedang Antum pilih ketika memilih pondok.

Betah itu biasanya datang belakangan

Ada pola yang menarik kalau kita amati anak-anak yang akhirnya betah di pondok. Mereka jarang betah sejak hari pertama. Betahnya datang setelah mereka mulai mampu.

Mampu bangun sendiri. Mampu mengatur uang saku. Mampu menyetor hafalan tanpa gugup. Mampu punya teman dekat yang bisa diajak bercerita.

Artinya, betah itu bukan syarat untuk tumbuh. Betah itu justru buah dari tumbuh. Anak merasa nyaman di sebuah tempat ketika ia merasa dirinya berfungsi di sana.

Kalau urutan ini dibalik, kalau kita menuntut anak betah dulu baru mau tumbuh, kita sedang meminta buah sebelum menanam pohonnya.

Tugas orang tua di bulan-bulan pertama

Ada satu hal yang sering luput: betah atau gak betahnya anak sangat dipengaruhi oleh sikap orang tuanya sendiri.

Anak yang setiap telepon mendengar suara ibunya ikut menangis akan menyimpulkan bahwa situasinya memang darurat. Anak yang mendengar ayahnya berkata, "Kangen itu wajar, Nak. Bapak juga kangen. Tapi Bapak yakin kamu kuat," akan menyimpulkan hal yang sangat berbeda.

Ana paham ini berat. Menahan diri untuk gak menjemput anak yang merengek itu salah satu ujian terberat bagi orang tua. Tapi di situ letak kerja sama antara rumah dan pondok. Pondok menyiapkan lingkungannya, orang tua menjaga keyakinannya.

Penutup: yang dipilih sebenarnya bukan tempat

Memilih pondok itu sebenarnya bukan memilih tempat yang paling nyaman untuk anak. Memilih pondok itu memilih jenis gesekan yang akan membentuk anak.

Gesekan dengan jadwal yang teratur. Gesekan dengan teman yang berbeda karakter. Gesekan dengan hafalan yang menuntut diulang puluhan kali.

Jadi saat nanti Antum bertanya "anak saya betah gak di sini?", coba tambahkan satu pertanyaan lagi dalam hati:

Kalau dia betah, apakah dia akan tumbuh? Dan kalau dia gak betah di awal, apakah Ana siap menemaninya melewati fase itu?

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait