October 04, 2026 | Falsafah

"Gak Mondok Juga Bisa Sukses Kok": Membedah Survivorship Bias

Oleh M Salman Azhar
"Gak Mondok Juga Bisa Sukses Kok": Membedah Survivorship Bias

"Si Fulan gak pernah mondok, tapi sekarang jadi pengusaha sukses. Si Anu mondok enam tahun, sekarang malah gak jelas. Jadi mondok itu gak menjamin apa-apa."

Kalimat seperti ini sering muncul dalam obrolan orang tua. Dan sekilas, ia terdengar masuk akal. Bukankah contohnya nyata?

Contohnya memang nyata. Tapi cara menarik kesimpulannya mengandung kekeliruan berpikir yang sangat umum. Kekeliruan ini punya nama: survivorship bias.

Pesawat yang pulang

Ada kisah terkenal dari masa perang dunia kedua. Para ahli ingin memperkuat pesawat tempur. Mereka memeriksa pesawat-pesawat yang pulang dari pertempuran dan mencatat bagian mana yang paling banyak berlubang peluru. Rencananya, bagian itulah yang akan diperkuat.

Lalu seorang ahli statistik mengajukan pertanyaan yang mengubah segalanya: bagaimana dengan pesawat yang gak pulang?

Pesawat yang pulang dengan lubang di sayap berarti lubang di sayap masih bisa ditoleransi. Pesawat yang tertembak di bagian lain, seperti mesin, justru gak pernah pulang. Maka bagian yang seharusnya diperkuat adalah bagian yang gak berlubang pada pesawat yang selamat.

Kesalahan awalnya adalah hanya melihat yang selamat, lalu menarik kesimpulan seakan-akan itu mewakili semuanya.

Kembali ke contoh tadi

Sekarang kita terapkan ke kalimat tentang pondok tadi.

"Si Fulan gak mondok tapi sukses." Pertanyaannya: berapa banyak orang yang gak mondok dan gak sukses? Mereka jarang dijadikan contoh, karena kisah mereka gak menarik untuk diceritakan.

"Si Anu mondok tapi gak jelas." Pertanyaannya: berapa banyak lulusan pondok yang hidupnya baik tapi gak pernah kita dengar, karena mereka menjalani hidup dengan tenang tanpa sorotan?

Satu atau dua contoh yang mencolok gak bisa mewakili gambaran keseluruhan. Ia hanya mewakili dirinya sendiri.

Al-Qur'an melarang mengikuti yang gak diketahui

Al-Qur'an memberi prinsip yang sangat relevan dengan cara berpikir seperti ini.

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا ٣٦

QS. Al-Israa: 36

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Ayat ini melarang kita mengikuti atau menyimpulkan sesuatu tanpa ilmu. Dan menarik kesimpulan umum dari satu dua contoh adalah bentuk halus dari menyimpulkan tanpa ilmu. Kita merasa tahu, padahal kita hanya melihat sebagian kecil gambar.

Perhatikan juga penutup ayatnya. Pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk bagaimana kita memakai ketiganya untuk menilai dan menyimpulkan.

Apa yang sebenarnya diukur?

Ada lapisan lain dari kekeliruan ini. Kalimat "gak mondok juga bisa sukses" menyimpan asumsi tentang apa arti sukses.

Biasanya, sukses di kalimat itu berarti kaya, terkenal, atau punya jabatan. Kalau itu ukurannya, maka memang banyak jalan menuju ke sana, dan pondok bukan satu-satunya.

Tapi pertanyaannya: apakah itu tujuan orang tua memasukkan anak ke pondok?

Kalau tujuan pendidikan adalah membentuk hamba Allah yang berilmu, beradab, dan mengamalkan ilmunya, maka ukuran suksesnya juga berbeda. Dan membandingkan lembaga pendidikan dengan ukuran yang bukan tujuannya adalah seperti menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon.

Kekeliruan yang sama di tempat lain

Survivorship bias gak hanya muncul dalam perdebatan soal pondok. Ia ada di banyak tempat.

"Dia berhenti kuliah dan jadi miliarder." Kita gak mendengar ribuan orang yang berhenti kuliah dan kesulitan. "Anak itu gak pernah belajar tapi nilainya bagus." Kita gak melihat anak-anak lain yang gak belajar dan nilainya jeblok. "Orang tua itu keras sekali mendidik, dan anaknya jadi orang hebat." Kita gak tahu berapa anak yang dididik keras dan justru hancur.

Kisah-kisah yang mencolok memang menarik. Tapi kisah yang menarik belum tentu kisah yang mewakili.

Kita memilih kisah yang cocok dengan keyakinan kita

Ada kekeliruan lain yang sering menemani survivorship bias. Kita cenderung mengingat kisah yang mendukung keyakinan kita, dan melupakan kisah yang bertentangan.

Orang tua yang sejak awal ragu terhadap pondok akan lebih mudah mengingat satu lulusan pondok yang gagal. Orang tua yang sejak awal yakin akan lebih mudah mengingat lulusan yang berhasil. Keduanya merasa sedang berpikir objektif, padahal keduanya sedang memilih bukti yang menyenangkan hatinya.

Kekeliruan ini dikenal sebagai confirmation bias. Obatnya bukan berhenti punya keyakinan, tapi berani mencari dan menimbang bukti yang berlawanan dengan keyakinan kita sendiri. Kejujuran intelektual seperti ini adalah bagian dari adab dalam menilai.

Mengajarkan anak berpikir jernih

Kekeliruan berpikir seperti ini perlu juga diajarkan kepada anak, terutama di zaman media sosial.

Anak-anak kita setiap hari melihat kisah sukses yang mencolok. Pemuda yang kaya mendadak, konten kreator yang terkenal dalam semalam. Tanpa kemampuan berpikir kritis, mereka bisa menyimpulkan bahwa itulah jalan hidup yang normal, lalu kecewa ketika hidup mereka gak berjalan seperti itu.

Ajarkan anak untuk selalu bertanya: "Berapa banyak yang mencoba hal yang sama dan gak berhasil?" Pertanyaan sederhana ini bisa melindunginya dari banyak ilusi.

Bukan berarti pondok pasti berhasil

Tentu, membongkar kekeliruan ini gak berarti kita menyimpulkan sebaliknya: bahwa pondok pasti berhasil. Itu juga kesimpulan yang gak jujur.

Pendidikan apa pun, termasuk pondok, adalah ikhtiar. Hasilnya bergantung pada banyak hal: kesungguhan anak, dukungan orang tua, kualitas pendampingan, dan yang paling utama, taufik dari Allah.

Yang ingin ditegaskan hanyalah ini: kalau mau menilai, nilailah dengan cara yang adil. Jangan dari satu dua contoh yang kebetulan mencolok.

Penutup

Lain kali kita mendengar kalimat "si Fulan tanpa ini juga sukses", coba tahan sejenak sebelum mengangguk. Tanyakan pertanyaan yang diajukan ahli statistik tadi: bagaimana dengan pesawat-pesawat yang gak pulang?

Dan tanyakan juga pertanyaan yang lebih mendasar: sukses menurut ukuran apa, dan apakah itu memang tujuan yang sedang kita kejar untuk anak kita?

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait