November 01, 2026 | Falsafah

"Hidup Cuma Sekali": Membongkar Slogan yang Terdengar Bijak

Oleh M Salman Azhar
"Hidup Cuma Sekali": Membongkar Slogan yang Terdengar Bijak

"Hidup cuma sekali, nikmati saja."

Slogan ini sering dipakai untuk membenarkan berbagai pilihan. Menghabiskan uang untuk kesenangan, mencoba hal-hal berisiko, mengabaikan aturan, menunda tanggung jawab.

Menariknya, premis slogan ini sebenarnya benar. Hidup di dunia memang hanya sekali. Yang perlu diperiksa adalah kesimpulan yang ditarik dari premis itu.

Premis benar, kesimpulan keliru

Mari kita urai logikanya.

Premis: hidup di dunia hanya sekali.

Kesimpulan yang biasa ditarik: karena itu, nikmati sepuasnya, lakukan apa saja yang menyenangkan, jangan terlalu dipikir.

Tapi coba tarik kesimpulan lain dari premis yang sama: karena hidup hanya sekali, maka setiap pilihan sangat berharga. Gak ada kesempatan kedua untuk mengulang. Karena itu, hidup harus dijalani dengan sangat hati-hati dan penuh makna.

Dua kesimpulan ini sama-sama berangkat dari premis yang benar. Tapi arahnya berlawanan. Yang menentukan kesimpulan mana yang kita ambil adalah asumsi tersembunyi yang kita pegang: apakah hidup ini punya tujuan, dan apakah ada pertanggungjawaban setelahnya?

Asumsi tersembunyi

Slogan "hidup cuma sekali, nikmati saja" menyimpan asumsi bahwa setelah hidup ini gak ada apa-apa lagi. Gak ada pertanggungjawaban. Gak ada kelanjutan. Maka yang penting adalah menikmati sebanyak mungkin sebelum semuanya berakhir.

Asumsi ini jarang diucapkan secara terang-terangan. Tapi ia bekerja di balik slogan itu.

Kalau asumsi ini benar, maka kesimpulannya masuk akal. Tapi kalau asumsinya salah, kalau ternyata ada pertanggungjawaban setelah hidup ini, maka kesimpulannya menjadi sangat berbahaya.

Pertanyaan yang Allah ajukan

أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ١١٥

QS. Al-Muminoon: 115

Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Ayat ini membongkar tepat asumsi tersembunyi tadi. Ada dua perkiraan yang diserang: bahwa manusia diciptakan 'abatsan, main-main tanpa tujuan, dan bahwa manusia gak akan dikembalikan kepada Allah.

Bentuk kalimatnya adalah pertanyaan. Allah gak hanya menyatakan, tapi mengajak manusia memeriksa perkiraannya sendiri. Apakah kamu mengira...?

Kalau manusia diciptakan dengan tujuan, dan pasti dikembalikan kepada Allah, maka "hidup cuma sekali" justru menjadi alasan untuk menjalani hidup dengan sungguh-sungguh, bukan dengan sembarangan.

Menikmati hidup bukan dilarang

Perlu diluruskan: Islam gak melarang menikmati hidup. Allah menciptakan banyak kenikmatan di dunia, dan Al-Qur'an bahkan mempertanyakan orang yang mengharamkan perhiasan dan rezeki yang baik yang Allah keluarkan untuk hamba-hamba-Nya (QS. Al-A'raf: 32).

Jadi masalahnya bukan pada menikmati. Masalahnya adalah ketika kenikmatan menjadi tujuan tertinggi, sehingga apa pun boleh dilakukan asalkan menyenangkan.

Menikmati hidup dalam batas yang Allah ridhai adalah bagian dari syukur. Menikmati hidup dengan melanggar batas-batas itu adalah bentuk kelalaian yang akan dipertanggungjawabkan.

Kesenangan yang berlawanan dengan kebahagiaan

Ada satu hal yang menarik dari orang-orang yang hidup dengan prinsip "nikmati saja". Sering kali, mereka justru gak merasa bahagia.

Kesenangan yang dikejar terus-menerus cepat habis. Setelah satu kesenangan tercapai, muncul keinginan akan kesenangan yang lebih besar. Dan pengejaran itu gak pernah selesai.

Sebaliknya, orang yang hidup dengan tujuan yang jelas sering menemukan ketenangan yang lebih dalam, bahkan di tengah kesederhanaan. Ia tahu untuk apa ia hidup, dan setiap aktivitasnya punya makna.

Hidup cuma sekali, maka jangan disia-siakan

Kalau kita mau memakai slogan "hidup cuma sekali" dengan benar, maka kesimpulannya seharusnya begini: karena hidup cuma sekali, jangan disia-siakan.

Jangan disia-siakan dengan hal-hal yang gak bermanfaat. Jangan disia-siakan dengan dosa yang akan disesali. Jangan disia-siakan dengan menunda-nunda kebaikan.

Rasulullah ﷺ mengingatkan agar kita memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati (HR. Al-Hakim).

Hadits ini adalah cara yang sangat tepat memaknai "hidup cuma sekali".

Kematian yang membuat hidup bermakna

Ada satu hal yang sering dihindari dalam budaya "nikmati saja": membicarakan kematian.

Padahal justru kesadaran akan kematian yang membuat hidup terasa berharga. Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk memperbanyak mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian (HR. At-Tirmidzi).

Mengingat kematian bukan untuk membuat hidup muram. Justru sebaliknya. Orang yang sadar bahwa waktunya terbatas akan lebih menghargai setiap hari. Ia lebih cepat memaafkan, lebih rajin berbuat baik, dan lebih sedikit membuang waktu untuk hal-hal yang sia-sia.

Kesadaran akan kematian adalah cara memaknai "hidup cuma sekali" dengan benar.

Berbicara dengan remaja tentang slogan ini

Remaja sering terpapar slogan seperti ini dari lingkungan dan media sosial. Kadang mereka memakainya untuk membenarkan pilihan yang kurang baik.

Daripada langsung melarang atau memarahi, ajak mereka berpikir. "Setuju, hidup memang cuma sekali. Terus, menurutmu, karena cuma sekali, sebaiknya dijalani seperti apa?"

Pertanyaan seperti ini mengajak remaja memeriksa kesimpulannya sendiri. Dan kesimpulan yang ditemukan sendiri jauh lebih kuat daripada yang dipaksakan.

Penutup

Hidup memang cuma sekali. Itu benar. Tapi karena hidup cuma sekali dan pasti ada pertanggungjawaban setelahnya, justru itulah alasan terkuat untuk menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

Jadi lain kali mendengar slogan ini, tanyakan: hidup yang cuma sekali ini, sedang aku gunakan untuk apa, dan apa yang akan aku bawa ketika dikembalikan kepada-Nya?

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait