Hari ini, hampir semua materi pelajaran bisa ditemukan gratis. Video tafsir ada. Kitab digital ada. Rangkuman fikih dalam bentuk infografis juga ada.
Lalu muncul pertanyaan yang kedengarannya masuk akal: kalau semua materi sudah tersedia, masih perlukah guru?
Pertanyaan ini menyimpan asumsi tersembunyi. Asumsinya: guru itu fungsinya menyampaikan materi. Kalau materi bisa didapat dari tempat lain, fungsi guru selesai.
Al-Qur'an ternyata punya kisah yang membongkar asumsi ini dengan sangat halus. Kisah Nabi Musa dan Khidir di surat Al-Kahfi.
Seorang nabi yang tetap mencari guru
Coba perhatikan siapa Nabi Musa. Beliau salah satu rasul ulul azmi. Allah berbicara langsung kepadanya. Beliau membawa Taurat.
Kalau ukuran ilmu adalah jumlah informasi, Nabi Musa jelas sudah "punya semuanya".
Tapi Allah justru mengirim beliau dalam perjalanan panjang untuk menemui seorang hamba yang diberi ilmu dari sisi-Nya. Dan Nabi Musa menempuhnya dengan tekad yang luar biasa.
وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبۡرَحُ حَتَّىٰٓ أَبۡلُغَ مَجۡمَعَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ أَوۡ أَمۡضِيَ حُقُبٗا ٦٠
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus) sampai bertahun-tahun."
Ana sering berhenti di ayat ini. Seorang nabi, dengan kedudukan setinggi itu, siap berjalan bertahun-tahun demi bertemu guru. Kalau beliau saja begitu, bagaimana dengan kita yang merasa cukup belajar dari potongan video satu menit?
Kalimat pertama seorang murid
Yang lebih menarik lagi adalah cara Nabi Musa membuka pembicaraan setelah bertemu.
قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗا ٦٦
Musa berkata kepadanya, "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?"
Perhatikan kata kerjanya: mengikutimu. Bukan "bolehkah aku bertanya", bukan "tolong jelaskan". Nabi Musa meminta izin untuk mengikuti.
Ini beda besar. Bertanya itu transaksi informasi: tanya, jawab, selesai. Mengikuti itu hubungan: berjalan bersama, melihat, mengalami, dikoreksi.
Dan perhatikan juga bentuknya: kalimat tanya yang sangat sopan. Seorang nabi meminta izin kepada gurunya. Adab mendahului ilmu, bahkan sebelum pelajaran pertama dimulai.
Syarat dari sang guru: jangan bertanya dulu
Jawaban Khidir juga gak kalah menarik. Beliau gak langsung menerima. Beliau memberi syarat.
قَالَ فَإِنِ ٱتَّبَعۡتَنِي فَلَا تَسۡـَٔلۡنِي عَن شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ أُحۡدِثَ لَكَ مِنۡهُ ذِكۡرٗا ٧٠
Dia berkata, "Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu."
Sekilas syarat ini terdengar keras. Bukankah bertanya itu kunci ilmu?
Benar. Tapi perhatikan bentuk larangannya: bukan "jangan pernah bertanya", melainkan "jangan bertanya sampai aku sendiri menerangkannya". Ada waktu untuk bertanya, dan ada waktu untuk menyaksikan dulu.
Di zaman ketika setiap orang bisa berkomentar tentang apa saja dalam hitungan detik, syarat ini terasa sangat relevan. Ada pelajaran yang rusak justru karena kita terlalu cepat bertanya, terlalu cepat menilai, dan terlalu cepat menyimpulkan sebelum melihat gambarnya secara utuh.
Ilmu yang gak bisa ditransfer lewat penjelasan
Lalu apa yang terjadi dalam perjalanan itu? Khidir melubangi perahu. Membunuh seorang anak. Memperbaiki dinding di kampung yang penduduknya gak mau menjamu mereka.
Nabi Musa gak bisa menahan diri untuk bertanya di setiap kejadian. Dan Khidir sejak awal sudah mengingatkan bahwa beliau gak akan sanggup bersabar.
Menariknya, penjelasan tentang ketiga peristiwa itu baru diberikan di akhir, setelah semuanya dialami. Kalau penjelasannya diberikan di awal dalam bentuk ceramah, pelajarannya gak akan menancap sedalam itu.
Di sinilah letak insight-nya. Ada jenis ilmu yang hanya bisa sampai lewat kebersamaan. Ilmu tentang kesabaran, tentang hikmah di balik takdir, tentang adab kepada guru. Semua itu gak bisa diunduh. Harus dialami di samping orang yang sudah menguasainya.
Materi bisa disalin, cara hidup harus diteladani
Kita sering mencampuradukkan dua hal: informasi dan pembentukan.
Informasi bisa disalin. Kitab bisa difotokopi, video bisa diputar ulang, catatan bisa dibagikan. Tapi pembentukan karakter gak bisa difotokopi. Anak belajar sabar bukan dari definisi sabar, tapi dari melihat gurunya tetap tenang saat dia membuat kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya.
Coba ingat guru yang paling membekas dalam hidup Antum. Ana hampir yakin, yang Antum ingat bukan materi pelajarannya. Yang Antum ingat adalah sikapnya. Caranya menegur. Caranya memperlakukan murid yang tertinggal.
Itulah yang para ulama maksud ketika mengatakan bahwa ilmu diambil dari orang, bukan cuma dari lembaran.
Mulazamah: menyertai, bukan sekadar menghadiri
Tradisi pesantren punya istilah untuk ini: mulazamah, yaitu menyertai guru secara terus-menerus. Bukan datang ke kelas, mencatat, lalu pulang. Tapi hidup dalam jangkauan guru, sehingga cara guru berpikir, beribadah, dan bersikap ikut terserap.
Di Al Maka, konsep ini kami jadikan inti pendidikan. Santri gak cuma menyetor hafalan dan membaca kitab di depan ustadznya, tapi juga melihat bagaimana ustadz yang sama shalat, makan, menegur, dan memaafkan. Kalau Antum ingin melihat bagaimana ini dijalankan, halaman kurikulum kami menjelaskannya lebih rinci.
Ana gak sedang bilang cara ini satu-satunya yang benar. Tapi kisah Nabi Musa dan Khidir menunjukkan satu prinsip yang sulit dibantah: ada ilmu yang hanya bisa diwariskan lewat kedekatan.
Pertanyaan untuk kita semua
Kalau Nabi Musa, dengan seluruh keistimewaannya, masih meminta izin untuk mengikuti seorang guru, maka ada beberapa pertanyaan yang pantas kita ajukan ke diri sendiri.
Apakah kita sedang mencari guru, atau cuma mencari materi? Apakah anak-anak kita punya seseorang yang bisa mereka ikuti, atau mereka hanya punya daftar tontonan? Dan apakah kita sendiri masih mau diajar, atau diam-diam sudah merasa cukup?
Materi hari ini memang melimpah. Tapi yang langka bukan materinya. Yang langka adalah orang yang bisa diikuti.