November 03, 2026 | General

Demi Masa: Al-'Ashr dan Cara Kita Menghabiskan Waktu

Oleh M Salman Azhar
Demi Masa: Al-'Ashr dan Cara Kita Menghabiskan Waktu

Ada surat dalam Al-Qur'an yang sangat pendek, hanya tiga ayat. Tapi Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil ucapan Imam Asy-Syafi'i tentang surat ini: seandainya manusia merenungkan surat ini, niscaya ia sudah cukup bagi mereka.

Surat itu adalah Al-'Ashr.

وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

QS. Al-Asr: 1-3

Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Allah bersumpah dengan waktu

Surat ini dibuka dengan sumpah: wal 'ashr, demi masa.

Ketika Allah bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut. Dan di sini, yang dijadikan sumpah adalah waktu.

Waktu adalah modal paling dasar yang dimiliki manusia. Harta bisa dicari lagi. Kesehatan kadang bisa dipulihkan. Tapi waktu yang sudah lewat gak pernah kembali. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur yang berkurang.

Sumpah ini seakan mengajak kita berhenti dan melihat: apa yang sedang kita lakukan dengan modal yang paling berharga ini?

Semua manusia sedang merugi

Lalu datang pernyataan yang sangat keras: sungguh, manusia berada dalam kerugian.

Perhatikan bentuk kalimatnya. Allah gak berkata "sebagian manusia" atau "banyak manusia". Dia berkata "manusia", secara umum. Dan kalimat ini diperkuat dengan kata penegas.

Artinya, kondisi dasar manusia adalah merugi. Kerugian bukan pengecualian. Kerugian adalah keadaan bawaan, kecuali ada sesuatu yang mengeluarkan seseorang darinya.

Ini cara pandang yang sangat berbeda dari cara pandang umum. Biasanya kita merasa baik-baik saja, kecuali terjadi sesuatu yang buruk. Al-'Ashr membalik asumsi itu: kita sedang merugi, kecuali kita melakukan sesuatu.

Empat syarat keluar dari kerugian

Lalu Allah menyebutkan pengecualiannya. Ada empat hal.

Beriman. Fondasi dari segalanya. Tanpa iman, amal sebaik apa pun gak punya akar.

Beramal saleh. Iman yang gak diwujudkan dalam perbuatan belum cukup. Iman harus berbuah amal.

Saling menasihati untuk kebenaran. Gak cukup baik untuk diri sendiri. Kita juga bertanggung jawab mengajak orang lain kepada kebenaran.

Saling menasihati untuk kesabaran. Jalan kebenaran itu berat. Karena itu, kita perlu saling menguatkan agar tetap bertahan di atasnya.

Menariknya, dua syarat pertama bersifat pribadi, sedangkan dua syarat terakhir bersifat sosial. Keselamatan menurut Al-'Ashr gak bisa diraih sendirian.

Kata "saling" yang penting

Perhatikan kata tawāṣau, saling menasihati. Bentuk katanya menunjukkan hubungan dua arah.

Kita gak hanya menasihati orang lain. Kita juga siap dinasihati. Ini penting, karena banyak orang senang menasihati tapi sulit menerima nasihat.

Dalam keluarga, ini berarti orang tua gak hanya menasihati anak, tapi juga terbuka untuk diingatkan oleh anak. Suami dan istri saling mengingatkan. Kakak dan adik saling menguatkan.

Keluarga yang terbiasa saling menasihati dengan cara yang baik adalah keluarga yang sedang bersama-sama keluar dari kerugian.

Waktu yang hilang tanpa terasa

Sekarang mari kita bawa surat ini ke kehidupan sehari-hari.

Berapa jam sehari kita habiskan untuk menggulir layar tanpa tujuan? Berapa banyak waktu yang hilang untuk hal-hal yang, kalau direnungkan, gak menambah iman, gak menjadi amal saleh, dan gak membantu siapa pun?

Di zaman ini, waktu bisa hilang dengan sangat halus. Kita gak merasa membuang waktu, karena kita merasa "hanya sebentar". Tapi sebentar demi sebentar itu, kalau dijumlahkan, bisa menjadi berjam-jam setiap hari.

Al-'Ashr mengingatkan bahwa setiap waktu yang lewat tanpa diisi empat hal tadi adalah bagian dari kerugian.

Menunda: pencuri waktu yang paling halus

Di antara hal yang paling banyak menghabiskan waktu tanpa terasa adalah kebiasaan menunda.

Kita tahu harus melakukan sesuatu, tapi berkata "nanti saja". Nanti itu berubah menjadi besok, besok berubah menjadi minggu depan, dan akhirnya hal itu gak pernah dikerjakan. Shalat ditunda sampai akhir waktu. Taubat ditunda sampai tua. Memperbaiki hubungan dengan orang tua ditunda sampai terlambat.

Menunda terasa ringan karena kita merasa masih punya banyak waktu. Tapi Al-'Ashr mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, dan gak ada yang menjamin kita masih punya "nanti".

Salah satu cara melawan kebiasaan menunda adalah memulai dari langkah yang sangat kecil. Gak perlu menyelesaikan semuanya sekarang. Cukup mulai, walau hanya lima menit. Sering kali, yang paling sulit adalah memulainya.

Mengajarkan anak menghargai waktu

Anak-anak belajar menghargai waktu dari cara orang tuanya memperlakukan waktu.

Kalau anak melihat orang tuanya sering menunda, membuang waktu dengan hal gak bermanfaat, atau gak menepati janji waktu, ia akan belajar bahwa waktu itu murah.

Sebaliknya, anak yang melihat orang tuanya menjaga waktu shalat, menepati janji, dan mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat akan belajar bahwa waktu itu berharga.

Kebiasaan sederhana seperti membuat jadwal harian bersama anak, atau merenungkan di akhir hari "apa yang sudah kita lakukan hari ini", bisa menanamkan kesadaran waktu sejak dini.

Waktu sebagai amanah

Pada akhirnya, waktu adalah amanah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa kaki seorang hamba gak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang beberapa hal, di antaranya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan (HR. At-Tirmidzi).

Setiap jam yang kita miliki akan dipertanyakan. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyadarkan bahwa waktu kita punya nilai yang sangat besar.

Penutup

Tiga ayat Al-'Ashr adalah rumus keselamatan yang sangat lengkap. Iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Jadi setiap kali kita membaca surat ini dalam shalat, mungkin kita bisa bertanya kepada diri sendiri: hari ini, dari empat hal itu, mana yang sudah aku kerjakan, dan mana yang masih aku lewatkan?

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait