October 24, 2026 | General

Qurrata A'yun: Meminta Anak Penyejuk Mata, Tapi Lupa Bagian Kedua Doanya

Oleh M Salman Azhar
Qurrata A'yun: Meminta Anak Penyejuk Mata, Tapi Lupa Bagian Kedua Doanya

Ada satu doa yang hampir pasti Antum kenal. Doa ini sering tertulis di undangan pernikahan, dibacakan di acara akikah, dan dipanjatkan orang tua di akhir shalatnya.

Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a'yun.

Anak yang menjadi penyejuk mata. Siapa yang gak menginginkannya?

Tapi doa ini sebenarnya belum selesai di situ. Ada bagian kedua yang sering terlewat dari perhatian kita. Dan justru bagian kedua itulah yang menjadi kunci dari bagian pertama.

Doa yang utuh

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤

QS. Al-Furqaan: 74

Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."

Bagian pertama meminta pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata. Bagian kedua meminta agar kami, orang yang berdoa, dijadikan pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Kita sering berhenti di bagian pertama. Kita meminta anak yang saleh, yang menyenangkan hati, yang berbakti. Tapi kita lupa bahwa doa ini juga meminta sesuatu untuk diri kita sendiri: kelayakan menjadi teladan.

Kenapa kedua bagian ini disatukan?

Coba pikirkan logikanya.

Kalau anak-anak kita bertakwa, lalu siapa yang akan memimpin mereka? Tentu orang tuanya. Maka meminta anak yang bertakwa berarti juga meminta agar kita layak memimpin orang-orang bertakwa.

Ini tuntutan yang berat. Kita gak bisa memimpin orang ke tempat yang kita sendiri belum pernah datangi. Orang tua yang ingin anaknya mencintai Al-Qur'an harus lebih dulu dekat dengan Al-Qur'an. Orang tua yang ingin anaknya jujur harus lebih dulu menjadi orang yang jujur.

Doa ini seakan berkata: jangan hanya meminta anak yang baik. Mintalah juga agar dirimu layak menjadi orang tua bagi anak yang baik.

Pasangan disebut lebih dulu

Perhatikan juga susunan permintaannya: pasangan kami, baru keturunan kami.

Sebelum meminta anak yang menyejukkan mata, doa ini meminta pasangan yang menyejukkan mata. Urutan ini masuk akal. Anak tumbuh di dalam rumah yang suasananya dibentuk oleh hubungan ayah dan ibunya.

Anak yang setiap hari melihat orang tuanya saling menghormati, saling memaafkan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan sedang mendapat pelajaran pengasuhan yang paling kuat, tanpa satu kata nasihat pun. Sebaliknya, anak yang tumbuh di tengah pertengkaran yang gak pernah selesai akan kesulitan merasakan ketenteraman, sebaik apa pun nasihat yang diterimanya.

Jadi kalau kita ingin anak menjadi penyejuk mata, mungkin langkah pertama adalah memperbaiki bagaimana kita memandang dan memperlakukan pasangan kita sendiri.

Makna "penyejuk mata"

Ungkapan qurrata a'yun sendiri punya makna yang indah.

Dalam penjelasan para ahli bahasa Arab, kata qurrah bisa dikaitkan dengan makna sejuk, dan bisa pula dengan makna tenang atau menetap. Mata yang sejuk adalah mata yang bahagia. Mata yang tenang adalah mata yang gak lagi gelisah mencari sesuatu yang lain, karena apa yang dilihatnya sudah cukup menenteramkan.

Anak yang menjadi penyejuk mata bukan anak yang membuat orang tuanya bangga di depan orang lain. Tapi anak yang membuat hati orang tuanya tenteram, terutama saat melihatnya beribadah dan berbuat baik.

Ini definisi yang berbeda dari definisi "anak membanggakan" yang sering kita pakai. Kebanggaan sering bergantung pada pandangan orang lain. Ketenteraman bergantung pada apa yang kita saksikan sendiri.

Doa ini ada di akhir sebuah daftar

Ada satu hal lagi yang sering luput. Doa ini bukan ayat yang berdiri sendiri. Ia berada di bagian akhir dari rangkaian ayat yang menggambarkan sifat-sifat 'ibādurrahmān, hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih (QS. Al-Furqan: 63-77).

Sebelum sampai ke doa ini, Al-Qur'an menyebut sifat-sifat mereka. Mereka berjalan di bumi dengan rendah hati. Mereka menghidupkan malam dengan sujud dan berdiri. Mereka gak berlebihan dan gak kikir dalam membelanjakan harta. Mereka menjauhi dosa-dosa besar. Mereka gak memberikan kesaksian palsu.

Baru setelah semua sifat itu disebut, muncullah doa tentang keluarga.

Urutan ini memberi isyarat yang kuat. Doa untuk anak yang saleh diletakkan setelah gambaran orang tua yang saleh. Seakan-akan Al-Qur'an ingin berkata: yang pantas mendapatkan anak penyejuk mata adalah orang-orang yang lebih dulu memperbaiki dirinya.

Ketika anak belum menjadi penyejuk mata

Lalu bagaimana dengan orang tua yang anaknya belum menjadi penyejuk mata? Yang anaknya masih sering membuat hati gelisah?

Pertama, ini bukan tanda bahwa doanya gak didengar. Hidayah sepenuhnya milik Allah, dan banyak nabi pun diuji dengan keluarganya.

Kedua, bagian kedua doa ini justru bisa menjadi pintu masuk. Kalau kita belum bisa mengubah anak, kita bisa mulai dengan mengubah diri. Memperbaiki shalat kita, memperbaiki lisan kita, memperbaiki cara kita menghadapi anak. Karena teladan yang konsisten sering bekerja lebih dalam daripada nasihat yang berulang.

Membaca doa ini dengan kesadaran baru

Mulai hari ini, setiap kali membaca doa ini, coba berhenti sejenak di bagian kedua.

Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Tanyakan kepada diri sendiri: apakah Ana sedang berjalan ke arah itu? Apakah shalat Ana, lisan Ana, dan cara Ana memperlakukan keluarga sudah layak diikuti oleh orang-orang yang bertakwa?

Pertanyaan ini gak dimaksudkan untuk membuat kita putus asa. Justru sebaliknya. Ia membuat doa kita menjadi hidup. Doa itu bukan lagi sekadar kalimat yang diucapkan, tapi arah yang kita tuju setiap hari.

Penutup

Kita sering meminta Allah menjadikan anak-anak kita penyejuk mata. Itu permintaan yang indah.

Tapi mungkin sudah saatnya kita menyadari bahwa doa ini sedang mengajak kita untuk bertanya balik: kalau Allah mengabulkan doa itu, sudah siapkah kita menjadi imam yang layak bagi anak-anak yang bertakwa?

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Pengajar di Pondok Pesantren Al Maka Getasan

Artikel Terkait