Sebuah pesan masuk di grup keluarga. Isinya peringatan yang terdengar mendesak, lengkap dengan kalimat "sebarkan ke semua kontak Anda!" Tanpa berpikir panjang, kita meneruskannya ke tiga grup lain.
Beberapa jam kemudian, seseorang membalas dengan tautan klarifikasi: kabar itu gak benar.
Kita mungkin merasa sedikit malu. Tapi pesannya sudah terlanjur menyebar ke ratusan orang, dan klarifikasinya gak pernah menyebar secepat itu.
Perintah meneliti berita
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.
Kata yang dipakai adalah fatabayyanū, telitilah, carilah kejelasannya. Dari kata inilah kita mengenal istilah tabayyun.
Perintahnya jelas: ketika datang sebuah berita, jangan langsung diterima. Teliti dulu. Cari kejelasannya. Pastikan kebenarannya.
Kenapa disebut "orang fasik"?
Ayat ini menyebut berita yang dibawa oleh orang fasik, orang yang gak bisa dipercaya integritasnya.
Di zaman pesan berantai, kita sering gak tahu siapa sumber asli sebuah berita. Pesan diteruskan dari satu orang ke orang lain, sampai asal-usulnya hilang. Kita menerimanya dari teman atau keluarga yang kita percaya, padahal mereka pun hanya meneruskan dari entah siapa.
Dalam keadaan seperti ini, prinsip tabayyun menjadi semakin penting. Kalau sumbernya gak jelas, maka beritanya harus diperlakukan dengan hati-hati, siapa pun yang meneruskannya kepada kita.
Akibat yang disebut ayat ini
Ayat ini gak hanya memerintah. Ia juga menjelaskan akibatnya: agar kamu gak mencelakakan suatu kaum karena kecerobohan.
Berita yang salah bisa mencelakakan. Nama baik seseorang bisa rusak karena tuduhan yang gak benar. Seseorang bisa kehilangan pekerjaan, kepercayaan, bahkan keselamatan karena kabar bohong yang menyebar.
Dan kata bijahālah, karena kecerobohan atau ketidaktahuan, menunjukkan bahwa kerusakan itu sering terjadi bukan karena niat jahat, tapi karena kurang hati-hati. Orang yang meneruskan kabar bohong sering kali gak bermaksud menyakiti. Ia hanya gak memeriksa.
Penyesalan yang datang terlambat
Ayat ini ditutup dengan kalimat yang sangat manusiawi: yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.
Penyesalan adalah akhir yang pasti bagi orang yang meneruskan kabar tanpa tabayyun. Tapi penyesalan itu datang terlambat. Kabar sudah menyebar. Kerusakan sudah terjadi.
Tabayyun adalah cara mencegah penyesalan sebelum terjadi. Beberapa menit untuk memeriksa bisa menghindarkan kita dari penyesalan yang panjang.
Dan kalau terlanjur meneruskan kabar yang ternyata salah, jangan diam saja. Sampaikan ralatnya di tempat yang sama, kepada orang-orang yang sama. Memang ralat jarang menyebar secepat kabar bohongnya. Tapi setidaknya kita sudah berusaha memperbaiki kerusakan yang ikut kita sebabkan, dan itu bagian dari taubat atas kecerobohan tadi.
Cukuplah seseorang dianggap berdusta
Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang sangat relevan dengan kebiasaan meneruskan pesan. Beliau bersabda bahwa cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar (HR. Muslim).
Perhatikan: orang itu gak mengarang kebohongan. Ia hanya meneruskan apa yang ia dengar. Tapi karena ia meneruskan semua yang ia dengar tanpa memilah, ia pasti ikut menyebarkan kebohongan di antaranya.
Hadits ini seakan ditulis untuk zaman pesan berantai. Tombol "teruskan" membuat kita sangat mudah menceritakan semua yang kita dengar.
Langkah sederhana sebelum meneruskan
Tabayyun gak harus rumit. Ada beberapa pertanyaan sederhana yang bisa kita ajukan sebelum meneruskan sebuah pesan.
Siapa sumber aslinya? Apakah jelas dan bisa dipercaya? Apakah kabar ini sudah dikonfirmasi oleh pihak yang berwenang atau media yang kredibel? Apakah isinya terdengar terlalu mengejutkan, terlalu sempurna, atau terlalu mendesak? Kalau kabar ini ternyata salah, siapa yang bisa dirugikan?
Dan pertanyaan terakhir yang paling penting: apakah aku benar-benar perlu meneruskannya? Kadang, jawaban terbaik adalah gak meneruskannya sama sekali.
Kabar yang terdengar baik pun perlu diteliti
Tabayyun gak hanya berlaku untuk kabar buruk. Kabar yang terdengar baik, bahkan yang berbau agama, juga perlu diteliti.
Banyak pesan berantai yang mengatasnamakan hadits atau ucapan ulama, padahal gak jelas sumbernya. Janji pahala yang berlipat bagi yang meneruskan pesan, doa-doa dengan khasiat yang gak berdasar, kisah-kisah yang gak pernah terjadi.
Menyebarkan hadits palsu, bahkan dengan niat baik, adalah perkara yang sangat serius. Karena itu, pesan yang mengatasnamakan agama justru harus diteliti lebih hati-hati, bukan kurang.
Mengajarkan anak berpikir kritis
Anak-anak kita tumbuh di tengah banjir informasi. Mereka perlu dibekali kemampuan tabayyun sejak dini.
Ajak anak bertanya ketika melihat sebuah kabar: "Menurutmu ini benar? Dari mana kita bisa tahu?" Tunjukkan bagaimana cara memeriksa sebuah berita. Dan yang paling penting, contohkan sendiri: jangan meneruskan pesan tanpa memeriksa, terutama di depan anak.
Anak yang terbiasa tabayyun akan lebih terlindungi dari hoaks, dari manipulasi, dan dari godaan untuk ikut menyebarkan hal yang gak jelas.
Penutup
Di zaman ketika sebuah kabar bisa menyebar ke ribuan orang dalam hitungan menit, tabayyun bukan lagi sekadar anjuran. Ia adalah benteng yang menjaga kita dari mencelakakan orang lain, dan dari penyesalan yang datang terlambat.
Jadi lain kali jari kita hendak menekan tombol "teruskan", coba berhenti sejenak dan ingat ayat ini. Beberapa detik untuk bertanya bisa menyelamatkan nama baik seseorang.