"Yang sabar ya..."
Kalimat ini sering kita ucapkan kepada orang yang sedang tertimpa masalah. Maksudnya baik. Tapi kalau diperhatikan, dalam percakapan sehari-hari kata "sabar" sering bermakna: diam saja, terima saja, jangan protes, tetaplah lemah jangan melawan!
Sabar menjadi identik dengan pasif. Orang yang sabar adalah orang yang gak berbuat apa-apa.
Benarkah Al-Qur'an memaknai sabar seperti itu?
Sabar sebagai alat
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
Perhatikan kata kerjanya: mohonlah pertolongan. Dalam ayat ini, sabar bukan hasil akhir. Sabar adalah alat untuk meraih pertolongan Allah.
Ini perubahan cara pandang yang sangat besar. Kalau sabar hanya berarti menunggu, ia gak bisa menjadi alat untuk meminta sesuatu. Alat itu dipakai, digerakkan, dikerjakan.
Dan sabar disandingkan dengan shalat. Shalat adalah aktivitas. Ia punya waktu, gerakan, bacaan, dan kesungguhan. Menyandingkan sabar dengan shalat memberi isyarat bahwa sabar juga sebuah aktivitas batin yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Tiga medan sabar
Para ulama sering menjelaskan bahwa sabar punya beberapa medan.
Ada sabar dalam menjalankan ketaatan. Bangun untuk Subuh di hari yang dingin. Terus menghafal meskipun terasa lambat. Tetap menjaga shalat di tengah kesibukan.
Ada sabar dalam menjauhi maksiat. Menahan pandangan. Menahan lisan dari gunjingan. Menahan diri dari sesuatu yang diinginkan tapi dilarang.
Dan ada sabar dalam menghadapi musibah. Kehilangan, sakit, kegagalan, kekecewaan.
Perhatikan bahwa dua medan pertama sama sekali bukan tentang diam. Keduanya menuntut usaha yang terus-menerus. Bahkan medan ketiga pun, sabar atas musibah, bukan berarti berhenti berusaha. Ia berarti tetap tegak dan tetap bergerak ke arah yang benar meskipun sedang terluka.
Ujian yang pasti datang
Dua ayat setelahnya menjelaskan konteks sabar ini.
وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ ١٥٧
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ada beberapa hal yang menarik di sini.
Ujian itu pasti. Allah gak berkata "mungkin Kami akan menguji". Artinya, ujian bukan tanda ada yang salah dengan hidup kita. Ujian adalah bagian dari rancangan hidup itu sendiri.
Ujiannya disebut sedikit. Seberat apa pun musibah yang kita rasakan, dalam timbangan Allah ia tetap sedikit dibandingkan dengan apa yang telah Allah berikan dan apa yang disiapkan-Nya.
Dan ada kalimat yang diucapkan orang yang sabar: kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Kalimat ini bukan sekadar ucapan duka. Ia adalah cara pandang. Paradigma. Worldview.
Kalimat yang mengubah cara pandang
Coba renungkan kalimat itu pelan-pelan.
Kami milik Allah. Kalau diri kita saja milik Allah, maka apa pun yang ada pada kita, harta, anak, kesehatan, juga milik-Nya. Ketika sesuatu diambil, sebenarnya pemiliknya sedang mengambil kembali titipan-Nya.
Kepada-Nya kami kembali. Hidup ini perjalanan pulang. Semua yang terjadi di jalan adalah bagian dari perjalanan, bukan tujuan akhir.
Orang yang benar-benar meyakini dua kalimat ini akan menghadapi musibah dengan cara yang berbeda. Ia tetap sedih, karena sedih itu manusiawi. Tapi kesedihannya gak menghancurkan, karena ia tahu posisinya dan arah perjalanannya.
Sabar bukan berarti gak boleh sedih
Ini sering disalahpahami. Ada yang mengira orang sabar itu gak boleh menangis, gak boleh sedih, gak boleh mengeluh sama sekali.
Padahal Rasulullah ﷺ menangis ketika putra beliau, Ibrahim, wafat. Dan beliau menjelaskan bahwa mata boleh menangis dan hati boleh bersedih, tapi lisan hanya mengucapkan apa yang diridhai Allah (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi sabar bukan mematikan perasaan. Sabar adalah menjaga agar perasaan gak mendorong kita keluar dari batas yang diridhai Allah. Menangis boleh. Kalau sambil meratap apalagi menyalahkan takdir, itu yang offside.
Sabar dalam mendidik anak
Bagi orang tua dan pendidik, medan sabar yang paling sering dihadapi adalah mendidik.
Menghadapi anak yang melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Menjelaskan hal yang sama untuk kesekian kalinya. Menunggu perubahan yang gak kunjung terlihat.
Di sini, sabar sering disalahpahami sebagai membiarkan. "Sudahlah, sabar saja, nanti juga berubah sendiri."
Padahal sabar dalam mendidik adalah terus bekerja tanpa kehilangan kendali diri. Terus menasihati tanpa membentak. Terus membimbing tanpa berputus asa. Terus mendoakan meskipun hasilnya belum terlihat.
Itu jauh lebih melelahkan daripada sekadar diam. Tapi itulah sabar yang dimaksud Al-Qur'an.
Allah bersama orang yang sabar
Ayat 153 ditutup dengan kalimat yang sangat menenangkan: Allah beserta orang-orang yang sabar.
Kebersamaan ini adalah hadiah terbesar. Orang yang sabar gak pernah sendirian dalam perjuangannya. Ketika ia terus berusaha di tengah kesulitan, Allah menyertainya.
Dan di akhir rangkaian ayat, orang-orang yang sabar disebut memperoleh tiga hal: ampunan, rahmat, dan petunjuk. Tiga hal yang semuanya dibutuhkan untuk melanjutkan perjalanan.
Penutup
Lain kali ketika kita mengucapkan "sabar ya" kepada seseorang, atau kepada diri sendiri, mungkin kita bisa memberinya makna yang lebih utuh.
Bukan "diam saja dan tunggu". Tapi "tetaplah bergerak ke arah yang benar, jaga lisan dan hatimu, dan mintalah pertolongan Allah dengan kesungguhanmu itu."
Karena sabar bukan tentang berhenti. Sabar adalah tentang terus berjalan, bersama Allah.